Senin, 02 Mei 2022

Memaafkan



Setiap orang pasti memiliki cerita dan proses untuk memaafkan. Baik memaafkan keadaan, memaafkan seseorang, dirinya sendiri dan lain sebagainya. Proses yang mungkin nggak mudah bagi sebagian orang, butuh waktu dan effort yang nggak main-main. Bahkan kerap mengorbankan fokus sehingga kurang maksimal mengerjakan apa yang lagi di adepin sekarang.

Tapi ya, begitulah prosesnya. Hasilnya bakal kerasa nanti. Kalau udah bisa lewatin, kalau udah bisa memaafkan dan damai sama semuanya. Kita akan merasa jauh lebih kuat dan berdaya dari sebelumnya. Dan bisa jadi kita justru akan berterima kasih pada keadaan yang tadinya susah diterima dan dimaafkan.

Kenapa aku bisa ngomong gini? Karena ya itu yang dirasain kalau abis damai sama keadaan yang rasanya sulit dimaafkan. Kita merasa seolah ada kekuatan baru dari proses kecewa sebelumnya. Tapi ya, bukan berarti kedepanya pas kecewa langsung bisa simsalabim sembuh dan damai gitu aja. Setiap kecewa punya waktu dan prosesnya masing-masing. Tapi agak mendingan kalau udah pernah pelajari dan ketemu pola healing nya gimana. Jadi nggak terlalu larut dalam kekecewaan, aseeek.

Gini. Dulu, aku adalah manusia yang agak susah, eh lama untuk memaafkan kesalahan orang lain. Rasanya langsung memaafkan orang lain ketika mereka berbuat kesalahan atau mengecewakan kita adalah keputusan yang nggak bijak samasekali. Iyalah enak aja. Sesorang sudah melakukan kesalahan dalam hidup kita masa di maafin gitu aja, yang ada di pikiranku Cuma biarin aja, biar dia merasa bersalah atas perilaku maupun perkataanya yang sudah menyakiti sesamanya. Dengan membuat ia terus merasa bersalah rasanya ada kepuasan tersendiri. Karena aku rasa setiap ada kekeliruan yang orang lain perbuat ke kita yaa semua kesalahan ada pada dia, dan kita adalah pihak yang dirugikan. Parah emang ego nya gede banget.

Tapi sekarang rasanya udah capek, sepertinya dulu aku gagal melihat permasalahan dari berbagai sudut pandang. Aku hanya melihat kesalahan dari satu sisi, yaitu dari si pelaku kesalahan tersebut. Harusnya bisa lebih bijak, bisa jadi karena aku juga menaruh ekspektasi yang terlalu tinggi, atau mungkin yang nglakuin kesalahan juga ngga sengaja bahkan terpaksa. Jadi ya, harus sama-sama introspeksi. Saat itu aku juga belum menyadari kalau ngga semua yang ada di dunia ini bisa kita kendalikan, termasuk perilaku dan perspektif orang lain terhadap kita. Kita ngga bisa ngatur sikap atau perilaku seseorang untuk harus selalu baik ke kita, kita cuma punya kendali bagaimana merespon itu semua sebijak mungkin. Selain itu, aku pun belum bisa menerima kalau jangan-jangan aku juga bersalah dalam kekeliruan tersebut. Sulit sekali rasanya mengakui kalau aku juga berpeluang melakukan kesalahan.

Sampai suatu hari ngga sengaja liat live ig dari salah seorang psikolog yang mengatakan bahwa memaafkan itu sebenernya bukan tentang membebaskan pelaku kesalahan terbebas dari kesalahanya, melainkan membebaskan diri sendiri dari emosi negative yang ada pada diri sendiri. Bayangin, apa yang kita rasakan ketika memendam kekecewaan pada orang lain? Udah pasti isinya kesel, marah, benci dan lain sebagainya. Kebayang nggak, kalau perasaan itu terus menumpuk dalam hati dalam waktu yang lama misalnya. Apa nggak jadi penyakit?.

Terus gimana cara menghilangkan nya? Ya, maafkan. Dengan memaafkan kita akan coba terima keadaan dan kenyataan yang terjadi memang seperti itu. Tidak  terus berpaku pada keadaan yang seharusnya terjadi, “ih harusnya gitu, ngga gini”, dan lain sebagainya. Kita coba terima keadaan yang terjadi, bukan yang seharusnya terjadi.  Karena memaafkan adalah pilihan. Pilihan kita untuk tidak membiarkan emosi-emosi negatif itu bersemayam lebih lama dalam hati.

Masuk akal sih sebenernya, ngerti kan gimana sih rasanya kalau lagi sebel sama orang karena mereka punya ‘kesalahn’, rasanya ada emosi, kesel, sakit hati dll, emosi negative semua dah pokonya. Tapi memang susah diawal untuk diterima, namun lama-lama sadar juga. Dengan dalih oh iya ya rasanya kasian juga sama hati dan pikiran sendiri kalau isinya negative semua, ngga mau dong. Apakah prosesnya nggak mudah? Pastinya.  

Sampe ahirnya mau coba meski berat. Sekarang yang jadi fokus bukan mengingat kesalahan mereka, tapi lebih ke mengurangi emosi-emosi negative yang ada dalam diri sendiri. Lebih jauh lagi ternyata memaafkan bukan tentang berdamai dengan orang lain, tapi bagaimana berdamai dengan diri sendiri untuk tidak terus membiarkan emosi negative itu ada. Ngga terus-terusan ngasih makan ego. Lalu bagaimana dengan kesalahan yang orang lain udah perbuat?  Yaudah lah yaaa, biar jadi urusan dia dengan dirinya sendiri. Lagian mau sekuat apapaun kita denial, kita ngga bisa mengendalikan orang lain buat ngga ngecewain kita. Kita Cuma bisa coba damai dan memaafkan itu semua.

Dan satu lagi, ada kekecewaan yang di sebabkan karena ekspektasi kita terlalu tinggi terhadap sesuatu, ada juga karena memang disebabkan atas luka yang orang lain torehkan. Jadi, mari sama-sama belajar untuk lebih bijak mencari akar permasalahan sebelum kita menyalahkan. Kalau memang disebabkan karena ekspektasi yang terlalu tinggi mungkin kita bisa coba turunkan. Namun ketika disebabkan oleh luka yang orang lain torehkan, coba kita belajar sedikit berempati. Karena tidak jarang mereka yang melukai justru sedang terluka. Mereka belum bisa damai dan menerima luka tersebut, hingga ahirnya justru melampiaskan lukanya untuk melukai orang lain.

Ini bukan teori, Cuma analisis dangkal dari seorang penulis buku yang aku pun menyetujuinya hehe.  Dan yang kebetulan baca ini juga ngga harus setuju, semua orang punya proses nya sendiri-sendiri dalam memaafkan dan berdamai dengan sebuah keadaan. Selamat merayakan har-hari yang lebih ringan dan lebih damai, heheJ

Salam,,,

 

 

Selasa, 15 Maret 2022

Belajar menerima (lagi)

 


Menikmati sekali hadir penuh merasakan setiap emosi yg hadir sebagai selayaknya manusia. Mulai dr seneng, sedih, kesel, ngeluh, semangat, males, bahkan cinta dan lain sebagainya. Menutup telinga dari suara yang mengatakan 'ngga boleh keliatan sedih', 'ngga boleh baperan', 'hidup itu harus seneng terus', 'ngga usah menampakkan luka' dsb, yang semuanya justru berpotensi melukai banyak orang. Berusaha ngga mudah tersinggung justru jd menyinggung lebih banyak orang, berusaha menutup luka justru makin menganga.
Mungkin bukan gitu obatnya. Sedih bukan untuk di sembunyikan bahkan diusir kehadiranya, luka bukan untuk dianggap tak ada. Nyatanya membiarkan semua emosi itu hadir justru lebih menenangkan. Kita seolah memberi kesempatan pada diri untuk menjadi manusia seutuhnya, seapaadanya. Kita jadi lebih aware, jadi lebih paham sama apa yang sedang diri rasa dan butuhkan. Kita jadi lebih ngerti apa yang seharusnya dilakukan. Mungkin dulu sesikit terbebani mendengar kata orang kalau aku ini orang yang rumit 😁 Tapi sekarang udah mulai bisa oh yaudah emang gitu adanya, dan ya ternyata emang rumit beneran wkwk. Mendengar kalimat itu udah bukan jadi beban, melainkan justru bisa ditertawakan kok bisa ya aku serumit itu wkwk.
Masih belajar, semoga emosi lain pun bisa kuterima dan jadikan teman. Bukan lagi sesuatu yang harus ku anggap sebagai beban dan mengusir keberadaanya. Semoga bukan hanya hari ini, melainkan seterusnya. 



Jumat, 04 Maret 2022

Refleksi ke sekian

 Layaknya smartphone yang harus di restart berkala agar kerjanya oke lagi, manusia juga gitu (menurutku). Agar setiap  bagian nya kembali berkerja maksimal dan saling bekerjasama dengan baik, harus di restart secara berkala. Barangkali sudah lari terlalu jauh bahkan berbalik arah dari tujuan awal yang di inginkan.  mungkin sudah seberapa banyak perkataan atau perbuatan yang secara tidak sengaja merugikan orang lain? Sudah seberapa jauh meletakkan ekspektasi dan harapan bukan pada tempatnya? sudah berapa banyak memuaskan ego pribadi dan mencari pembenaran atas nama kebaikan? Sudah berapa lama mengabaikan diri sendiri?  Apa yang sebetulnya yang lagi di kejar?

Rasanya pertanyaan-pertanyaan tersebut sudah selayaknya  dipertanyakan dan direnungkan  minimal sekali seumur hidup. Dengan begitu mungkin bisa jadi kompas barangkali langkah kaki sudah lari terlalu jauh dari tujuan, atau mungkin terlalu lambat sehingga harus menambah kecepatan agar segera sampai pada tujuan. Disisi yang lain, pertanyaan-pertanyaan terdebut mungkin dapat menunjukan jelas posisi dimanakah kita berdiri sekarang sehingga mempermudah menentukan kemanakah akan melanjutkan langkah? 

Tapi ya gausah buru-buru juga, pelan-pelan aja diberesin satu persatu.  Kalau ada yang tanya apakah prosesnya sulit? Mungkin, tapi ngga selalu.  Dalam prosesnya bisa jadi ketemu pecah tangis, penyesalan dan sebagainya. Tapi ya namanya obat meski pahit perih insya allah menyembuhkan . Setiap dari kita rasanya pasti tau kadar luka yang dipendam masing-masing, dan hafal jenis obat apa yang bisa menawarkanya. 

Rumit? Gimana persepsi kita aja. Mau ngga mau inilah siklus hidup yang pasti dilalui.  Jatuh bangkit lagi, terus memperbarui niat , saatnya mempercepat atau memperlambat langkah dan lain sebagainya.  Apa sepenting itu menjaga kestabilan kondisi diri? Ya, sekuat apapun ingin membagi energi positif ke sekitar kalau diri sendirinya remuk juga percuma, ngga bakal sampe juga energi positifnya ke yang lain. Malah bisa jadi sebaliknya.  

Semoga kita selalu mempunyai banyak energi positif untuk diri, syukur-syukur untuk yang lain juga. Selamat merayakan hidup semaunya, semampunya, setenangnya. Semoga Tuhan senantiasa meluaskan hati kita untuk menerima setiap takdir yang sudah ditetapkan. Dan semoga takdirnya membawa bahagia dan membahagiakan orang banyak.  

Salam..

Jumat, 04 Februari 2022

Haii...

 Kamis, semoga hari kita semua berjalan dengan manis hehe. Kaya nya emang tiap hari harus dikasih mantra biar jadi magnet untuk kebaikan dan kebahagiaan bisa medekat. Meski abis dikasih mantra tetep aja kadang ada aja kejadian yang  menyulut emosi. Mulai dari mang ojol yang udah ditungguin malah slow respon dan lama banget. Belum lagi rekan kerja bahkan atasan yang ngomel-ngomel ngga jelas. Tapi ya, begitulah hidup. kalau ngga ada drama nya ngga seru hehe. Dahlah segitu aja intronya, tar ngga nyampe-nyampe ceritanya.

04:15 maish terlalu pagi untuk overthinking, masih terlalu pagi untuk menentukan pilihan A atau B, iya atau tidak. Wkwk udah kaya apa banget. Pagi ini ada sedikit perdebatan Dalam kepala sendiri puasa nggak ya puasa nggak ya karena kebetulan hari ini Kamis, 3 Februari 2022 adalah awal masuk bulan Rajab. Bulan yang didalamnya kita sebagai orang Islam disunahkan untuk melakukan berbagai amalan termasuk berpuasa di dalamnya. Meski hukumnya Sunnah tapi ada perasaan “duh sayang banget kalau nggak puasa di tanggal 1 ini”. Dan ketika coba ku telusuri lagi-lagi aku justru nggak tahu perasaan sayang banget ini apa karena sayang banget melewatkan 1 Rajab gitu aja tanpa puasa atau karena iri liat orang yang lain pada puasa. Padahal kalau emang nggak puasa alias meninggalkan sunnah karena hal wajib lainnya nya malah nggak papa banget daripada ngejar sunnah tapi kewajibannya justru tertinggal malah kacau juga. Masih pagi udah itung-itungan pahala dosa untung-rugi, sotoy banget dah. hahaha emang anaknya pinter cari-cari alibi aja sih sebenernya.

kalau kaya gini jadi ingat ayah, beliau adalah orang yang jarang banget, jarang jarang banget menyuruh anak-anaknya untuk melakukan ibadah sunnah meski beliau bisa dibilang nggak pernah bolong Ibadah sunnah nya. Sempat bertanya-tanya tapi enggak pernah diutarakan secara langsung, logikanya kenapa beliau ngga sekalian aja ajak anaknya bangun malam atau apapun itu. Mungkin kalau misal anak-anaknya melakukan ibadah sunnah pun bukan karena ajakan beliau, melainkan iri melihat beliau yang udah sepuh aja nggak sungkan masa anaknya masih muda justru males-malesan. Jadi aku hanya menyimpan pertanyaan itu sendiri. Dan akhirnya sekarang kucoba menerka-nerka mengapa ayah jarang sekali mengajak anak-anaknya untuk melakukan ibadah sunnah, dan bisa dibilang satu-satunya Ibadah sunnah yang benar-benar ayah pesankan adalah sholawat sama doa sebelum berbuka puasa karena beliau bilang itu adalah doa yang Mustajab.  Itu sih yang paling masih diingat.

Oke aku coba menerka yang pertama mungkin karena beliau ingin menyampaikan sesuatu tidak dengan nasehat atau ajakan atau apapun tapi lebih pakai teladan biar lebih ngena aja gitu, karena aku pernah dengar satu Teladan lebih baik daripada seribu nasehat.  Dan yaaaa berhasil menurutku, pesannya sampai meski tanpa nasehat atau ajakan dalam bentuk apapun. Sepertinya memang setiap ayah adalah teladan yang baik bagi setiap anaknya. Kedua mungkin karena beliau tidak ingin kami menganggap Ibadah sunnah itu sesuatu yang wow dan agak berlebihan sampai akhirnya kita nggak maksimal melaksanakan ibadah wajib lainnya. Beliau pernah menyampaikan menurut Kyai beliau di pesantren pernah menyampaikan bahwa lebih baik nggak usah puasa daripada sekolah ibadahnya jadi males-malesan jadi tidur mulu. Karena Emang aku gitu sih kalau puasa suka males-malesan dan ya itu yang jadi dalil dari dulu sampai sekarang makanya jarang banget puasa. hahaha emang anaknya paling pintar aja cari Alibi .

Oh my God Hari ini aku piket dan Jam sudah menunjukkan kalau aku harus siap-siap sekarang dan harus berangkat lebih pagi dari biasanya, kita sambung lagi kapan-kapan yaaaa . Selamat beraktifitas semuanya, yang puasa kuat-kuat ya sampai maghrib, yang nggak puasa nggak boleh iseng. udah nggak puasa iseng lagi Hahaha see you

salam...


Minggu, 21 November 2021

“Dikotomi Kendali” Ala Stoisisme

 

Some things are up to us, Some things are not up to us ” Ada hal-hal di bawah kendali (tergantung pada) kita, ada hal-hal yang tidak di bawah kendali (tidak tergantung pada) kita. Begitu ungkapan Epictetus dalam bukunya Enchiridion, beliau merupakan seorang filsuf stoa yang kita kenal dengan ajaranya dengan nama stoisisme. Sekilas ungkapan tersebut terdengar sangat klise, sebagian dari kita mungkin akan berpikir bahwa “yaelah, semua orang di dunia ini juga tau ”. tapi apakah kita sudah betul-betul tahu, memahami, meresapi dan mempraktikkan ungkapan tersebut? Atau hanya sekadar sering mendengar dan “merasa” tahu?

Dalam buku “Filosofi Teras” yang ditulis oleh Henry Manampiring menjelaskan bahwa dalam ajaran stoisisme terdapat prinsip fundamental yang disepakati oleh hampir seluruh filsuf stoa yang di disebut dengan dichotomy of control atau dikotomi kendali. Prinsip tersebut menjelaskan bahwa ada hal-hal yang berada dibawah kendali kita dan tidak dibawah kendali kita. Lalu hal-hal apa sajakah yang berada dibawah kendali kita dan tidak dibawah kendali kita? Epictetus membagi kedua hal tersebut ke dalam bagian berikut sehingga kita bisa dengan mudah memtakan kedua hal tersebut.

Dibawah kendali kita :

1.     Pertimbangan (judgment), opini atau presepsi kita

2.    Keinginan kita

3.    Tujuan kita

4.    Segala sesuatu yang merupakan pikiran dan tindakan kita sendiri.

Tidak dibawah kendali kita :

1.     Tindakan orang lain (kecuali dia dibawah ancaman kita)

2.    Opini orang lain

3.    Reputasi/popularitas kita

4.    Kesehatang kita

5.    Kekayaan kita

6.    Kondisi saat kita lahir, seperti jenis kelamin, orang tua, saudara-saudara, etnis/suku, kebangsaan, warna kulit dan lain-lain.

7.    Segala sesuatu diluar pikiran dan tindakan kita, seperti cuaca, gempa bumi dan peristiwa alam lainya

8.    Ada banyak hal yang belum ada di masa filsuf stoa hidup  tetapi dapat kita kategorikan disini, seperti harga saham saat ini, indeks pasar modal, razia sepeda motor, dan nilai tukar rupiah.

 Lebih lanjut Epictetus menjelaskan bahwa hal-hal yang dibawah kendali kita bersifat merdeka dan tidak terikat, sedangkan hal-hal yang tidak dibawah kendali kita bersifat lemah, terikat, bagai budak, dan milik orang lain. Jadi barangsiapa yang terobsesi pada hal-hal yang tidak bisa kita kendalikan seperti perbuatan/opini  orang lain, kekayaan kita, kesehatan kita bahkan kondisi kita terlahir adalah sesuatu yang sangat di luar kendali kita. Sebagai contoh banyak orang yang diluar sana yang terus mengeluhkan kondisi mereka dilahirkan seperti “mengapa saya terlahir menjadi suku A?”, “mengapa saya pendek?”, “mengapa saya keriting?”, “mengapa saya tidak terlahir sebagai seorang anak raja?” dan lain-lain. Bagi stoisisme penyesalan seperti ini adalah kesia-siaan, karena menyesali hal-hal yang sama sekali tidak bisa kita kendalikan.

Stosisime mengajarkan bahwa kebahagiaan hanya bisa datang dari “things we can control”, kebahagiaan datang dari hal-hal yang bisa kita kendalikan. Itu artinya kebahagiaan itu datang dari dalam, bukan datang dari luar seperti perlakuan orang lain, kekayaan kita, status, popularitas, dan lain-lain. Kita tidak bisa mengatur orang lain untuk terus berbuat baik kepada kita, kekayaan bisa saja lenyap dengan sendiri baik karena bangkrut atau apapun, popularitas bisa saja seketika hilang karena da yang menjatuhkan dan lain-lain. Oleh karena itu ketika kita menggantungkan kebahagiaan pada itu semua, para filsuf stoa menganggapnya sebagai hal yang tidak rasional dan siap-sia saja kita akan dilanda kekecewaan.

Sebagian dari kita mungkin akan bertanya bahwa bukankah kesehatan ada dibawah kendali kita? Bukankah kita yang menjaganya?. Baiklah, bayangkan ada seseorang yang dari kecil sudah menjaga kesehatan dengan baik dengan menjaga pola makan, olahraga teratur, makan makanan yang sehat, tidak mengkonsumsi makanan dan minuman yang berbahaya, namun bisa saja tiba-tiba terdiagnosa kanker yang dipengaruhi oleh faktor genetik misalnya, atau ketika sedang traveling kemana lalu terpapar virus yang membahayakan, bahkan suatu hari sedang menyebrang lalu ditabrak oleh pemuda yang baru pulang party dalam keadaan mabuk yang pada ahirnya menderita cacat seumur hidup. sesungguhnya kesehatan pun tidak sepenuhnya dibawah kendali kita.

Manusia yang rasional diharapkan bisa menahan diri dari keinginan-keinginan pada hal yang tidak bisa kita kendalikan sebagai sumber kebahagiaan utama. Oleh karena itu marilah kita mencari sumber kebahagiaan dalam diri kita sendiri, tidak lagi menyesali bagaimana kita dilahirkan, melainkan focus pada apa yang bisa kita lakukan baik dengan mencari potensi diri dan mengembangkannya, maupun mensyukuri apa yang sudah Tuhan berikan dan lain-lain. Mengapa ini menjadi penting? Karena ketika kita sudah menemukan kebahagiaan dalam diri, kita tidak lagi cemas, takut apabila kekayaan kita tiba-tiba lenyap, kita tidak lagi popular, orang lain berpikir negatif, kita tidak lagi terganggu. Kita tetap bisa bahagia meski tanpa itu semua.

 

 

Minggu, 26 September 2021

Apa yang sebetulnya orang overthinking pikirkan?

 

Saking seringnya kepikiran, khawatir dan cemas sama hidup tiba-tiba muncul pertanyaan dibenak apa sih yang sebetulnya ada dikepala orang-orang overthinking? Hal apa yang sebetulnya kita khawatirkan? hal apa yang yang sebetulnya kita cemaskan sampe bisa overthinking hampir tiap waktu? pertanyaan yang diajukan untuk diri sendiri dan mungkin juga untuk mereka yang turut merasakan perasaan yang sama. Gini deh biar enak, coba kita bedah dulu arti overthingking itu sendiri biar ngga dikit-dikit melabeli diri dengan kata yang jadi simbol usia dua puluhan itu haha. Dilansir dari ugm.ac.id overthinking adalah menggunakan terlalu banyak pikiran untuk memikirkan suatu hal dengan cara yang merugikan serta overthinking dapat berupa ruminasi dan khawatir. Ruminasi adalah kecenderungan untuk terus memikirkan masa lalu. Sedangkan khawatir adalah kecenderungan memikirkan prediksi yang negatif.

Nah, padahal dari segi definisinya aja jelas tertulis kata ‘terlalu’ yang bisa berarti berlebihan, yang dalam konteks ini adalah berlebihan memikirkan sesuatu. Kita tau bahwa semua yang berlebihan itu nggak baik meski dalam hal kebaikan sekalipun, dan brarti memang ada sesuatu yang salah, ada sesuatu yang harus dibenahi. Ada yang pernah ilang gini ‘bahwa  ketika kita sedang cemas, khawatir, yang sedang berperan aktif alias mendominasi adalah perasaan kita dan logika bisa dikatakan sedang melemah’. Aku menyebutnya sebagai fase nggak rasional, karena emang yang dikedepankan hanya perasaan tanpa adanya pertimbangan untuk kemungkinan-kemungkinan lain.

Oiya kalau ngomongin ruminasi yang merupakan salah satu wujud dari overthinking tadi, jadi inget beberapa waktu lalu pernah nonton youtube nya dr. jiemi ardian yang membahas tentang ‘ruminatif thinking’, ruminasi sendiri memiliki arti proses pengembalian makanan dari lambung ke mulut pada hewan pemamah biak untuk dikunyah dan ditelan kembali. Mungkin temen-temen tau proses pencernaan pada hewan pemamah biak seperti sapi yang ngunyah dan masuk lambungnya nya nggak cuma sekali, tapi berkali-kali. Makanan yang sudah dikunyah akan masuk ke lambung dan akan dikembalikan ke mulut untuk dikunyah dan ditelan kembali, begitu terus prosesnya sampe berkali-kali sebelum masuk ke usus (koreksi ya kalau salah, lupa udah sekian tahun lalu haha).  Lalu apa hubunganya dengan overthinking? Kasusnya sama, orang yang sedang mengalami ruminatif thinking akan terus memikirkan dan mempertanyakan kembali sesuatu yang sudah ia pikirkan dan temukan jawabanya dimasa lalu atau beberapa waktu lalu. Dalam sebuah contoh kecil perihal pertanyaan ‘usia segini udah bisa apa?’ dalam kasus tertentu pertanyaan tersebut akan bercabang ke pertanyaan dalam aspek hidup lain seperti sosial, ekonomi, relasi dll. Dan dimasa lalu mungkin kita udah selesai dengan pertanyaan itu, kita udah temukan jawabanya. Tapi siapa sangka pertanyaan itu bisa muncul kembali sehingga kita harus mengalami dan mengulang proses menyebalkan itu sampe ketemu lagi dengan jawabanya. Begitulah kurang lebih mekanisme ruminatif thingking yang dapat berujung pada overthinking atau berpikir berlebihan akan sesuatu.

Oke, sekarang aku mau coba ngajak diriku sendiri dan temen-temen untuk mencari jawaban atas overthinking yang sedang dirasakan. Pernah nggak nanya sama diri sendiri sebetulnya apa yang sedang aku khawatirkan, apa yang sedang aku cemaskan sampe overthinking? khawatir sudah tertinggal jauh dari teman sebaya? Atau merasa nggak berguna? Insecure? Merasa cuma bisanya nyusahin orang sekitar? Belum bisa berbuat banyak untuk orang-orang terkasih?. Sial,kenapa jawabanya iya semua L. Tapi ada sesuatu yang aneh, sebenernya kita semua udah sejuta kali baca sampe hafal statement ‘setiap orang punya waktunya masing-masing, nggak ada yang terlambat maupun terlalu cepat, semuanya udah proporsional’. Tapi kenapa masih aja mengkhawatirkan, memikirkan dan mempertanyakan pertanyaan yang jawabanya kita udah tau?. Yaah, mungkin emang fase nya kali yaa, nggak bisa di skip. Untuk usia dewasa awal khususnya. Overthinking biasa menjadi makanan sehari-hari. Tapi yang perlu di highlight adalah semuanya akan gini-gini aja kalau kita Cuma mikirin doang tanpa melakukan sesuatu. Karena bisa jadi kita tak kunjung menemukan jawaban dan keluar dari fase ini karena kita belum melakukan sesuatu, entah coba mengulik potensi yang terpendam maupun mempelajari sesuatu yang baru.

Dan bagi yang hampir putus asa karena merasa belum berkembang atau tak kunjung ada perubahan atas apa yang sedang dikerjakan, itu bukan masalah. Jangan cepat melabeli diri gagal. Karena gagal terjadi ketika tujuan belum tercapai dalam target yang sudah ditentukan. Hobi kita adalah melabeli diri gagal tanpa tau tujuan kita bahkan mengatakan diri gagal padahal ternyata kitanya aja yang belum berjuang.

Coba nikmati sebentar lagi prosesnya, selama kita masih bergerak brarti kita masih on the right path. Ini semua hanya bagian dari part kecil dalam hidup, yang pasti dilewati untuk kemudian masuk dalam part selanjutnya. Jadi jangan dihabiskan energinya cuma buat mikirin ini semua. Percayalah, just do it! Kalau kata cak nun ‘Tuhan udah susah-susah menciptakan kita, nggak mungkin nggak bertanggung jawab atas hidup kita’. So, worry nya coba dikurangi yaa hehe..

Salam…

Sabtu, 28 Agustus 2021

Intermezzo

 

Ternyata benar, nggak ada yang lebih membahayakan dan mengerikan selain manusia itu sendiri. Manusia kalau udah iri, dengki, keras kepala, egois jauh lebih mengerikan daripada hantu, Nggak terkecuali aku juga sewaktu-waktu berpeluang masuk dalam kategori tersebut. Padahal kita adalah se-sempurna-sempurnanya makhluk, yang dibekali akal dan hati untuk mengontrol setiap tindak tutur kita sendiri. Dan lagian bukankah kita makhluk sosial yang nggak hidup sendiri di hutan yang bisa nglakuin apa aja tanpa perlu memikirkan impact nya bagi manusia lain? (by the way ini bacanya jangan ngegas yaa, karena aku juga nulisnya sambil senyum-senyum karena liat perilaku makhluk-makhluk dibumi yang makin menggemaskan).

Makanya ini jadi penting untuk betul-betul belajar mengenal diri sebagai jembatan untuk ngerti juga sama keadaan manusia lain. Ketika kamu ingin diperlakukan A ya coba perlakukan orang lain seperti apa kamu ingin diperlakukan, begitupun sebaliknya. Yaaa meski perilaku orang lain ngga bisa kita kendalikan, maka dari itu yang harus disentuh adalah kesadaran dalam diri masing-masing. Ini klise, dan mungkin semua orang bisa dengan mudah meng-iyakan. tapi ternyata setuju dengan sebuah pendapat atau statement tertentu juga nggak otomatis mau mempraktekkanya.

Kadang penasaran banget sama perasaan manusia yang suka bertindak tutur semaunya apa nggak ada perasaan nggak enak atau minimal ‘apa yang akan aku katakan dan lakukan ini kira-kira maslahat atau justru berpotensi mengganggu kenyamanan orang lain?’. Sering kali kita merasa benar dan cenderung memaksakan orang lain untuk meyakini kebenaran yang kita yakini tanpa mau menyisakkan secuil ruang untuk menerima sudut pandang orang lain. Padahal kita benar tapi bisa jadi salah dan orang lain salah tapi bisa juga benar.

Dalam kasus lain ketika ada seseorang yang terganggu atas ucapan orang lain meski dengan dalih bercanda, pastilah langsung diserang dengan kalimat ‘ah baperan lu’, ‘ah lu mah nggak santai’ dan lain sebagainya. Padahal ada orang yang terganggu kenyamananya tapi mengapa justru ia juga yang disalahkan?. Kalau baper itu artinya bawa perasaan, terus kalau ada perkataan maupun sikap orang lain seenaknya kita nggak boleh bawa perasaan? Heyy tolong yaaa kita semua ini manusia bukan tembok. Lagian hidup kalau nggak pake perasaan juga hambar. Jangan-jangan budaya kita memang gitu, lebih suka bilang ‘ah baperan lu’ dari pada belajar sadar buat jaga lisan dan jaga sikap.

Oiya ini juga tidak sedang men-generalisasi, masih banyak kok orang-orang baik diluar sana, masih banyak orang-orang yang mau belajar mindful sama sikap dan ucapanya, masih banyak orang yang punya empati. Bagi orang yang Alhamdulillah belum pernah mengalami maupun melihat fenomena seperti ini mungkin berpikiran ini sesuatu yang berlebihan, namun berapa banyak orang diluar sana yang merasakan hal ini tapi terus disembunyikan dan dipendam hanya karena takut dibilang baper atau nggak diterima dilingkungan pertemanan, kerjaan, sosial dan lain sebagainya.

Sebagai manusia kita memang punya kebebasan berekspresi dan melakukan apa yang kita mau, tapi kita juga diberi kedaulatan penuh atas akal dan hati untuk memilih bagaimana mengeskpresikan itu semua sebagaimana mestinya. Dari kecil kita selalu diajarkan untuk kuat, ngga boleh baperan dan ngga usah berlebihan nanggepin orang lain. Tapi jarang diajarkan untuk aware sama apa yang akan kita lakukan, entah perihal dampaknya bagi diri maupun orang lain. Mari menjadi waras tanpa mengganggu kewarasan orang lain.

Salam…

 

Senin, 23 Agustus 2021

Tanpa judul

 

Kita nggak pernah tau ujian dalam hidup datang nya kapan, gimana bentuknya, dalam kondisi kita lagi siap atau justru lagi ngga siap samasekali. Kadang terlintas pikiran, coba aja bisa request timing ujian hidup ‘nanti dulu siih ini lagi banyak tanggung jawab yang harus diselesaikan, dan please datengnya satu-satu yaa, jangan rombongan kaya air hujan’ (haha emang ini semesta punya nenek moyang looo). Nggak lucu juga kalau nawar ‘ya Tuhan ini timing nya nggak pas nih, minggu depan aja yaa, atau bulan depan aja deh wkwk’. Tapi yaa mungkin Tuhan lebih tau, waktu dan kondisi yang menurut kita nggak pas bisa jadi adalah waktu terbaik untuk menerima itu semua. Namanya manusia kan terbatas, segala sesuatu yang diukur dengan akal manusia sudah pasti beda dengan ukuran yang sudah Tuhan buat.

Inilah salah satu part menjadi dewasa itu mengagetkan, apalagi yang hidupnya suka haha hihi, jajan dan main doang. Pengen jajan tinggal minta, main juga sepuasnya, nggak perlu overthinking mikirin hal-hal didepan yang belum terjadi dan sebagainya. Tapi ada satu hal yang sedikit membuat diri harus menarik nafas dalam berkali-kali. Beranjak dewasa, cerita orang tua kita ternyata udah agak beda. Bukan lagi tentang keseruan kisah masa kecil mereka meski belum ada listrik maupun teknologi kaya sekarang. Sekarang mereka sudah mulai membuka percakapan tentang sesuatu yang mungkin sudah saatnya dibagi yang kadang diantaranya berisi kenyataan yang nggak ingin didengar setiap anak didunia ini. Bagian tersulitnya adalah menyadari bahwa kadang ada sesuatu yang berat yang harus mereka hadapi tanpa kita tahu. Dan sepertinya seluruh orang tua dibumi bakal gitu, nggak mau memberatkan setiap anaknya. Dan jangan-jangan masih banyak hal yang belum kita tahu dan sebenarnya mereka sedang butuh dukungan.

Kalau udah kaya gini nggak ada lagi yang bisa dilakukan selain coba mindful dan  take a break for a moment, karena kalau nggak gitu bisa salah langkah dan merugikan diri sendiri juga. Coba direnungi kembali posisi dan fungsi ujian dalam hidup itu gimana, coba husnudzon dengan Tuhan apa maksud ketika ngasih cobaan ke manusia dan sebagainya. intinya sih nggak boleh kegabah kebawa emosi terus nyalahin Tuhan karena merasa hidupnya paling menderita, berpikir semesta nggak adil, atau mungkin denial dengan mempertanyakan mengapa harus aku?.

Kalau bagiku pribadi sih mendingan banget efeknya, kerasa banget sebelum dan sesudah belajar mindful. Jadi ketika ada sesuatu yang nggak mengenakkan yang terjadi nggak langsung merespon, tapi coba istirahat dulu, Tarik nafas panjang dan coba berpikir ulang bagaimana respon yang harus diambil dengan menempatkan bagian-bagian mana yang bisa atau dibawah kendali diri. Yaa masih tahap belajar sii, masih matiran. Tapi efek lebih tenangnya udah kerasa. Untuk sebagian orang mungkin nggak mudah, lagi kalang kabut karena terjadi sesuatu boro-boro bisa mikir kesana, kelamaaaaan. Menjadi bijak khusunya pada diri impact nya ngga main-main, makanya berat dilakuin. Yang nggak kalah penting adalah dengan siapa kita berbagi (cerita). menjadi dewasa berarti harus lebih selektif memilih dengan siapa kita ingin didengar, yang denganya kita nggak akan disalah-salahin, dikata-katain, dianggap lemah dan lain sebagainya. Dalam beberapa kasus, berbagi bukan dengan orang yang tepat justru bisa menjadi boomerang bagi diri sendiri, bahkan memperparah keadaan.

Untuk yang sedang belajar dewasa diluar sana, semua ini alamiah dan bisa terjadi pada siapaun dengan wujud konflik yang berbeda. yang perlu diingat, kamu nggak sendirian. Coba istirahat sejenak untuk merenungi apapun yang lagi diadepin untuk menentukan kemudian bagaimana merespon semuanya dengan bijak. Tuhan pasti bertanggung jawab, menciptakan ujian dalam hidup berarti siap mengabulkan rentetan doa-doa untuk menguatkan bahu dan meluaskan sabar dalam hati setiap manusia yang menghadapinya.

Salam….

 

Sabtu, 14 Agustus 2021

Bu guru seumur jagung

 

Seisi dunia juga tau, ngga ada yang sempurna di dunia ini. Kalo kata motivator-motivator di tv dan youtube kan justru kesempurnaan akan ditemukan dalam ketidaksempurnaan yang diterima dengan sempurna.

Jadi gini. Sedikit berbeda dari tulisan-tulisan sebelumnya yang kebanyakan berisi tentang journey of understanding myself. Tulisan kali ini lebih ke cari tau apa hal ini adalah perasaan yang wajar atau tidak, dan mudah-mudahan Setelah ini bisa nemu titik terang yang sedikit menenangkan entah lewat makhluk yang ternyata sama rasa atau mereka yang jam terbangnya udah tinggi ngadepin fase recehan begini.

Merasa selalu kurang dalam menjalankan amanah dalam hal profesi mungkin adalah perasaan yang wajar, tapi kalo berujung overthinking apa masih bisa dikatakan wajar?. Jadi bu guru misalnya, pertanyaan ‘apa yang disampaikan ke anak-anak udah sesuai?’ ‘cara menyampaikanya apa udah tepat?’ ‘Kok mereka ngga mau dengerin ya?’ ‘Kok mereka ngga mau nurut dan malah seenaknya sendiri ya?’ ‘Gimana kalo dalam jangka waktu sekian minggu, bulan bahkan tahun mereka tetep belum ngerti?’ Apa masih pantes jadi bu guru?. Perasaan-perasaan insecure tersebut makin diperkuat saat ketemu anak-anak yang ‘’kelihatanya” lebih tau dari guru nya. Belum lagi kalau ada trouble dan kekeliruan kenapa pasti yang di sorot dan dipertanyakan pasti Cuma gurunya? Padahal dalam proses pendidikan anak juga melibatkan banyak pihak seperti guru, siswa, orang tua, lingkungan, pengalaman anak dan pola asuh orang tua juga masuk didalamnya. Lagian guru juga manusia kali yaa, sangat wajar jika melakukan kekeliruan. Ia sama-sama sedang belajar menjalankan peran barunya. Menjadi guru seolah harus sempurna, selalu benar dan nggak boleh salah dengan dalih harusnya guru kan serba tau. Haha lucu kadang, kita juga bukan malaikat lho yaa. Tapi ini juga bukan pembenaran untuk temen-temen guru enjoy-enjoy aja ketika melakukan kekeliruan, karena keliru dikit aja juga bisa fatal akibatnya.

Gini yaa, sebagai guru juga ternyata PR nya banyak banget. ngga cukup harus menguasai bidang spesifik yang diajarkan. Lebih jauh kita juga harus paham masa tumbuh kembang anak sesuai usia nya,  harus belajar lagi bagaimana peran guru, siswa dan orang tua pada jenjang tertentu, sehingga kita tau betul apa yang sedang anak butuhkan, batas capaian pengetahuanya sehingga kita bisa menyampaikanya dengan tepat. Mengapa itu penting? Karena belajar ngga berhenti sebatas menyampaikan dan menyambung pengetahuan guru ke siswa. Tapi ada jiwa yang harus tumbuh, ada empati dan kemandirian yang harus terbentuk secara bersamaan didalamnya. Mengetahui begitu kompleksnya hal tersebut, sangat diperlukan kerja sama dan support yang baik antar guru, siswa maupun orang tua. Karena menyekolahkan anak menurutku bukan berarti menyerahkan tanggung jawab pendidikan anak 100% ke guru nya. Tetapi orang tua juga berperan besar di dalamnya. Lagi-lagi komunikasi guru dan orang tua jadi kuncinya. Ngga sedikit orang tua yang complain ke guru nya karena udah sekian purnama belajar kok anaknya belum bisa ini belum bisa itu. Banyak dari mereka yang menaruh ekspekstasi tinggi ke anaknya, padahal emang belum saatnya anaknya bisa ini dan bisa itu, capaian perkembangan pengetahuannya emang belum bisa sampe situ kalau dilihat dari usia dan stimulasi yang ia dapatkan dari kecil. Nah banyak banget kan PR nya kita, mari sama-sama belajar sama-sama menyadari peran diri. Karena menghakimi satu pihak bukanlah solusi.

Bagaimanapun proses didalamnya, tujuan kita sama. Insya allah dan mudah-mudahan niat dan tujuanya baik dan bener on the right path ya hehe.

Salam…

  

Minggu, 08 Agustus 2021

about future

 

Ketika kita memikirkan masa depan ataupun sesuatu didepan yang belum terjadi, secara nggak sadar kita sudah menggunakan separuh energi kita untuk memikirkan itu semua. Sehingga kadang nggak menikmati dan gagal mengambil pelajaran apa yang sedang dikerjakan hari ini. Coba tanyakan pada diri, apa jadinya jika hari-hari yang dilalui hanya dikuras untuk memikirkan bagaimana hari esok? Yang ada pusing doang, apa yang kita adepin hari ini pun jadi nggak maksimal. Tapi bukan berarti ngga boleh punya mimpi atau merencanakan masa depan . Punya mimpi itu bagus biar kedepannya hidup terlihat lebih jelas. Dan  Yaaaa nggak tau sih, ini Cuma sudut pandang manusia yang nggak punya ambisi, ditanya mimpinya dimasa depan pun nggak tau. Yaa ada sih punya mimpi banyak, tapi harusnya berbanding lurus dengan usaha. Tapi ini ogut nggak ngerti, apa yang harus dilakukam dengan mimpi itu haha. Salut sama orang-orang diluar sana yang berhasil menjabarkan mimpi lengkap dengan usaha-usaha nya.

Untuk sekarang lagi coba kurangi mengkhawatirkan hari esok,termasuk perihal mimpi dan masa depan. serah deh Tuhan mau bawa kemana. Penasaran sama kejutan-kejutan nggak terduga yang bakal dateng, apakah tangis atau tawa. Nggak mau mikir kejauhan gimana ngadepin hari esok dan hari-hari selanjutnya. Cukup hari ini semoga lebih maksimal dari hari kemarin, terus benahi diri dalam segala aspek disetiap hari baru,dikit-dikit. Dan semoga bisa jadi lebih manfaat disetiap pijakan langkah kaki. Udah gitu aja buat sekarang-sekarang. Barangkali suatu saat muncul ambisi yang lebih yaa gatau. Mulai sekarang jadi pengen beres-beres diri dulu aja, benahin mindset, belajar mengontrol diri, gimana ngatur hubungan vertikal dengan Tuhan dan horizontal dengan manusia lain. Karena hidup mau cari apa kalau bukan tenang?. Tapi bukan berarti nggak punya semangat hidup  dan pasrah gitu aja sama keadaan. Justru dengan coba upgrade diri, semoga apapun yang akan terjadi kita bisa kontrol diri buat ngadepin  itu semua, nggak mudah diombang ambingkan sama hidup. Kita tau apa yang bisa kita lakukan, dan apa-apa yang kita ngga bisa kita intervensi di dalamnya.

Buat kamu juga yang masih bingung kalau ditanya mimpinya apa gatau, atau mungkin  insecure liat track hidup maudy ayunda dengan sejuta prestasinya, terus gelagapan dan berasumsi bahwa kamu itu cuma butiran debu trotoar, plis buat jadi bermanfaat juga pola nya ngga harus sama plek kaya beliau.Gada yang nyuruh juga bandingin hidup dengan orang lain. Semua punya cara aktualisasi diri masing-masing. Kata maudy juga kan knowing yourself, dan cuma kamu yang bener-bener paham sama dirimu sendiri. Maunya apa, value yang dipegang apa dan sebagainya. Aku juga sama, liat maudy sebagai sosok yang hampir sempurna, manusia nggak punya rasa males haha. Hmm, boleh kita liat kesuksesan orang lain, tapi tidak lantas jadi alat buat menilai rendah diri sendiri. Kalau kata gus romzi kita ngga boleh under rate atau menilai diri terlalu rendah, pun ngga boleh over rate, menilai diri terlalu tinggi. Coba nilai diri dengan sedang-sedang saja. Setiap orang itu awesome, tinggal cari tau aja sebelah mana terus kembangin dah. Jangan sampe udah jauh-jauh lari tapi nggak tau apa yang dikejar dan untuk apa.kan serem. Jangan melestarikan budaya ikut-ikutan, orang berhasil capai ini ikutan, capai itu ikutan tanpa tau apa kemauan, kebutuhan dan kapasitas diri sebenernya.Boleh aja kita jadikan mereka role model, but just be the best version of you yaaa.

Hey ini kenapa jadi kemana-kemana ngobrolnya wkwk, intinya buat yang lagi overthinking mikirin gimana hari esok, plis jangan kejauhan. Ada senang yang kamu lewatkan hari ini. Masa depan ngga se-menyeramkan apa yang ada dipikiranmu.Dunia nyata ngga sehoror apa yang ada dalam isi kepalamu.All is well

Salam..

Sabtu, 31 Juli 2021

Jeda

Ada masanya diri sendiri ngrasa sedang sangat baik-baik aja. Puas banget sama apa yang diri sendiri punya dan puas atas segala sesuatu yang udah (mampu) di lakukan, bukan karena kesempurnaan atau apa, melainkan saat itu juga diri sepenuhnya menerima semua kekurangan, memaafkan segala sesuatu yang belum bisa dilakukan/dicapai. Sadar penuh atas apa yang sedang di usahakan, sadar penuh untuk apa sesuatu yang sedang dikejar. Sadar penuh atas apa-apa yang melekat pada diri ngga butuh validasi orang lain. Kelebihan yang ada ngga haus akan pujian, pun kekurangan yang ada ngga ciut dengan komentar manusia lain. Semua itu ngga memberi pengaruh apapun ketika kita sendiri udah selesai dengan itu semua. Karena kelebihan dan kekurangan diri sudah seharusnya jalan beriringan.

Haha kirain perasaan itu akan selamanya bertahan, ternyata kebiasaan bandingin hidup akan tetap muncul dalam situasi-situasi tertentu. Jangan bandingin hidup sendiri dengan orang lain ternyata nggak semudah kita nulis di status atau di kolom komentar. Perasaan diri sendiri tak lebih baik dari orang lain hadir kembali. Perasaan diri tak lebih sukses dari orang lain menyusul dibelakangnya. Bahkan perasaan diri ngga berguna dan  semua yang sudah di usahakan dan perjuangkan terlihat sia-sia juga kerap ikut-ikutan meneror.Semuanya seperti lingkaran setan yang ngga putus-putus. Kadang cape juga si punya perasaan gitu, udah ngerasa well eh down lagi, well..down lagi, gitu terus. Tapi yaaa begitulah hidup, wajar naik turun.

Tapi kali ini aku coba memaknainya beda, ketika lagi banding-bandingin hidup dengan orang lain, lagi insecure adalah kondisi yang aku artikan sebagai sinyal bahwa kita lagi ngga sadar secara penuh. Makanya yang tepat dilakukan pas down lagi tu yaa ambil jeda. Tinggalin dulu semua aktivitas yang sedang dilakukan, atau boleh break dulu kerjaanya bentar kalau memungkinkan. Value dan prinsip hidup bisa jadi muara reflesksi. Emang paling bener tu ya harus sadar. Sadar emosi apa yang lagi dirasa, sadar kita nglakuin ini semua untuk apa, sadar kita lagi bandingin hidup dengan orang lain, pokonya harus sadar sama apa yang kita kejar. Kita tu bukan lagi kompetisi, tapi kebermaknaan hidup yang lagi di cari. Coba lihat lagi niat awal, kalau apa yang sedang kita lakukan, kita usahakan ternyata niatnya udah melenceng berarti kudu di lempengin lagi. Tajdidatun niat atau perbarui niat tu emang perlu terus dilakukan katanya. Niat awal udah bener, belum tentu ditengah jalan masih lempeng. Niat awal sekolah buat cari ilmu, tapi ditengah jalan bisa berubah niat jadi ingin saingan dan ajang pembuktian diri ke orang lain karena liat teman lain berprestasi misalnya. Dan masih banyak lagi peluang bandingin di ranah sosial ekonomi bahkan relasi.

Jadi inget percakapan dengan salah seorang psikolog pas konseling kemarin. Sebenernya kita tu nggak adil ketika menjadikan orang lain sebagai objek untuk membandingkan hidup kita. Karena latar belakang dan segala kondisi yang kita alami juga beda, jadi ngga fair kalau mau bandingin hidup kita dengan orang lain. Kalau mau bandingin hidup ya jadikan diri kita sendiri sebagai objek perbandingan tersebut. Maksudnya kalau mau bandingin hidup coba bandingin hidup kita yang sekarang dengan yang dulu, itu baru adil. Apakah sekarang kita udah lebih baik dibanding yang dulu? Apakah udah ada progress meski sedikit? Misal dulu kita belum tau ini sekarang udah tau, dll. Kita punya parameter nya masing-masing. Kayanya perbandingan gitu yang justru membangun. Kalu bandingin hidup dengan orang lain malah jatuhnya insecure nggak sih? Kalian suka gitu juga nggak? Hehe. Lagian kasian juga sih kalau kita terus-terusan men-judge diri kita kurang kurang kurang terus. Iya yang namanya manusia memang banyak kekurangan, namun kekurangan yang ada bukan untuk di kata-katain bukan untuk dihindari dan diusir-usir pergi, tapi untuk ditemani dan diterima keberadaanya. Emang prakteknya ngga mudah, mumpung lagi sadar makanya coba aku tulis. Agar sewaktu-waktu kalau down, tulisan ini bisa dibaca kembali jadi teman refleksi biar down nya ngga berlarut-larut.

Selamat refleksi, selamat menemukan bagian-bagian dalam diri yang ternyata menguatkan dan membuatmu lebih berdaya.

Salam..

Minggu, 25 Juli 2021

Memaafkan

 

memaafkan adalah mengambil pisau dari hatimu dan tidak menggunakanya untuk melukai orang lain, ngga peduli segimanapun mereka melukai dirimu. sayangnya itu bukan aku. 

Dulu, aku adalah manusia yang agak susah, eh lama untuk memaafkan kesalahan orang lain. Rasanya langsung memaafkan orang lain ketika berbuat kesalahan adalah keputusan yang nggak bijak samasekali, iyalah enak aja. Sesorang sudah melakukan kesalahan dalam hidup kita masa di maafin gitu aja, yang ada di pikiranku Cuma biarin aja biar dia merasa bersalah atas perilaku mapun perkataanya yang sudah menyakiti sesamanya. Dengan membuat ia terus merasa bersalah rasanya ada kepuasan tersendiri. Karena aku rasa setiap ada kekeliruan yang orang lain perbuat ke kita yaa semua kesalahan ada pada dia, dan kita adalah pihak yang dirugikan. Parah emang ego nya gede banget.

Tapi sekarang rasanya udah capek, sepertinya dulu aku gagal melihat permasalahan dari berbagai sudut pandang. Aku hanya melihat kesalahan dari satu sisi, yaitu dari si pelaku kesalahan tersebut. Harusnya bisa lebih bijak, bisa jadi karena aku juga menaruh ekspektasi yang terlalu tinggi, atau mungkin yang nglakuin kesalahan juga ngga sengaja bahkan terpaksa. Saat itu aku juga belum ngerti kalau ngga semua yang ada di dunia ini bisa kita kendalikan termasuk perilaku dan perspektif orang lain terhadap kita. Kita ngga bisa ngatur sikap atau perilaku seseorang untuk harus selalu baik ke kita, kita Cuma punya kendali buat merespon itu semua sebijak mungkin. Selain itu aku pun belum bisa menerima kalau jangan-jangan aku juga bersalah dalam kekeliruan tersebut. Sulit sekali rasanya mengakui kalau aku juga berpeluang melakukan kesalahan.

Sampai suatu hari ngga sengaja liat live ig dari salah seorang psikolog yang mengatakan bahwa memaafkan itu sebenernya bukan tentang membebaskan pelaku kesalahan terbebas dari kesalahanya, melainkan membebaskan diri sendiri dari emosi negative yang ada pada diri sendiri. Masuk akal sih sebenernya, ngerti kan gimana sih rasanya kalau lagi sebel sama orang karena mereka punya ‘kesalahn’, rasanya ada emosi, kesel, sakit hati dll, emosi negative semua pokonya hati isinya. Tapi memang susah diawal untuk diterima, namun lama-lama sadar juga (dikit). Dengan dalih oh iya ya rasanya kasian juga sama hati dan pikiran sendiri kalau isinya negative semua, ngga mau dong.

Sampe ahirnya mau coba meski berat. Sekarang yang jadi fokus bukan mengingat kesalahan mereka, tapi lebih ke mengurangi emosi-emosi negative yang ada dalam diri sendiri. Lebih jauh lagi ternyata memaafkan bukan tentang berdamai dengan orang lain, tapi bagaimana berdamai dengan diri sendiri untuk tidak terus membiarkan emosi negative itu ada. Ngga terus-terusan ngasih makan ego. Lalu bagaimana dengan kesalahan yang orang lain udah perbuat?  Yaudah lah yaaa, biar jadi urusan dia dengan dirinya sendiri. Dan sekarang sebenernya aga kasian ketika masih ada orang yang melukai orang lain, karena bisa jadi karena mereka yang melukai justru sedang terluka. Karena mereka belum bisa damai dan menerima luka tersebut, makanya di beberapa kasus justru melampiaskan lukanya untuk melukai orang lain. Karena rasanya ketika mereka sedang tidak bahagia, orang lain pun ngga boleh bahagia. Ini bukan teori, Cuma kebetulan sekilas pernah baca kurang lebih gitu isinya. Dan yang kebetulan baca ini juga ngga harus setuju, semua orang punya journey nya sendiri-sendiri dalam memaafkan baik dengan dirinya sendiri aupun orang lain hehe. Selamat merayakan damai dengan diri sendiri J

Salam,,,

 

 

Minggu, 18 Juli 2021

Belajar yakin

Kalo ditakar pake akal manusia, harusnya sulitku sudah bertemu dengan mudahnya, sedihku sudah bertemu dengan bahagianya, pahitku sudah bertemu dengan manisnya. Karena katanya bersama kesulitan ada kemudahan, setelah duka yang berkepanjangan ada bahagia tak terkira, setelah penantian panjang ada puncak pertemuan yang manis wkwk.  Tapi kenapa kok kayanya pahit terus yaa, masalah kok ngga kelar-kelar, harus sabar terus sampe kapan ? Sebagian dari kita mungkin pernah berfikir demikian, termasuk aku sendiri. Namun begitulah keterbatasan akal, ia hanya mampu menjangkau hal-hal yang rasional alias masuk akal. Lalu kalau udah gitu harus gimana?

Begini katanya, apabila dilihat dari sudut pandang agama (islam), eh mau disclaimer dulu, karena yang nulis bukan ahlinya jadi ingetin kalau ada yang keliru hehe. Lanjut, ngga semua kejadian dan fakta bisa diterima dengan akal, adakalanya harus diterima dengan hati (iman) atau keyakinan bahwa selalu ada kebaikan Tuhan dalam setiap ritme kehidupan yang terjadi. Kita coba ambil contoh paling sederhana, dalam banyak kasus ada yang merasa sudah doa dan berusaha dengan maksimal, tapi hasilnya kok ngga sesuai harapan? Justru yang terjadi malah sebaliknya. Kalau udah gitu masa mau nyalahin keadaan, apalagi nyalahin Tuhan kan ngga mungkin. Memang ngga mudah, makanya perlu latihan. Harus tetep yakin ada kebaikan dalam setiap hal yang ngga mengenakkan itu agak sulit diawal, karena rada abstrak gitu. Bayangin aja, lagi sedih-sedihnya, lagi kesel-keselnya tapi tetep harus yakin pasti ada kebaikan Tuhan didalamnya. Kan perlu sabar ngga tuh?. yaudah Tarik nafas dulu, biar tenang hehe.

Kita kembalikan lagi pada konsep Tuhan pasti menginginkan yang terbaik bagi makhluknya, meski kadang disampaikan melalui sesuatu yang menurut manusia ngga enak, pahit. Entah lewat sakit, kehilangan, tiba-tiba dirumahkan dari pekerjaan dan sebagainya. Kadang bungkusnya doang jelek isinya mah bagus. Ngga akan ada kehilangan melainkan menjadikan kekuatan dan dapat banyak pelajaran berharga setelahnya. Lewat patah hati juga gitu, ada pesan kemandirian, kekuatan untuk bangkit dan kehati-hatian dalam memilih terbungkus didalamnya, katanya sih gitu wkwk. Itu Cuma sebagian contoh, masih banyak banget kejadian serupa yang mungkin dialami temen-temen.

Dan ternyata, menurutku ini semua selaras dengan ajaran dalam filsafat stoa yang lahir ribuan tahun lalu tentang dikotomi kendali. Maksudnya bahwa dalam hidup ada sebagian hal yang dibawah kendali kita, dan sebagian lagi bukan dibawah kendali kita alias kita ngga bisa ngendaliin itu semua untuk terjadi sesuai keinginan kita. Dalam filsafat tersebut dikatakan bahwa yang berada dalam kendali kita hanyalah pikiran kita, tindakan dan perspektif kita, dan sisanya bukan dibawah kendali kita. Sebenernya aga panjang penjelasanya, semoga ada kesempatan buat membahas nya secara terpisah. Berkaitan dengan hal diatas, hidup yang sedang kita jalani sekarang ngga semuanya bisa kita atur harus terjadi sesuai apa yang kita inginkan, ada intervensi Tuhan dan makhluk lain didalamnya. Oleh karena itu bisa dikatakan semua yang terjadi bukan dibawah kendali kita, jadi ngga bisa tuh sebenernya kita balik menyalahkan apa atau siapa ketika semuanya terjadi ngga sesuai keinginan. Tapi kita punya persepsi yang jelas-jelas dibawah kendali kita untuk bagaimana merespon semua hal yang terjadi. Emosi yang timbul kemudian tergantung bagaimana kita menanggapi sebuah kejadian, bisa aja ketika kita gagal kita akan berfikir bahwa semua kesalahan ada pada diri sendiri, mungkin karena aku kurang ini kurang itu dan lain sebagainya sehingga emosi yang timbul pun jadi down berkepajangan. Lain hal ketika kita menyadari bahwa kegagalan dan keberhasilan ngga sepenhnya dibawah kendali kita, ada banyak makhluk yang andil yang dapat mempengaruhinya. Sehingga ketika kita gagal, kita sadar bahwa bukan sepenuhnya kesalahan ada dalam diri kita. Emosi yang dihasilkan pun jauh lebih positif.

Kurang lebih si gitu, yaaa semoga aja kita bisa senantiasa melihat kebaikan dan kasih sayang Tuhan dalam kejadian maupun fakta segetir apapun itu, dan bisa lebih jeli melihat apa yang bisa dan tidak bisa kita kendalikan demi menjadi dewasa yang lebih waras dan santuy, hehe

Salam…   

 

Jumat, 09 Juli 2021

Definisi bahagia

 Mungkin ini receh, klise. Mendengar kata bahagia aja kadang yang terbersit ‘ah apaansi, basi’. Tapi pernah ngga si bertanya sama diri sendiri ketika orang-orang berbondong-bondong mencari kebahagiaan hidup, mencari kebahagiaan sejati, dan bagi mereka yang ditanya apa sih yang dicari dalam hidup? kemudian menjawab ‘kebahagiaan’. Atau mungkin yang sering baca atau nulis ‘jangan lupa bahagiaaaa’. Sebenernya bahagia itu makhluk apa? Apa ada wujudnya? Bentuknya gimana? Dan apakah bahagia bisa dan harus dicari?.

Menurut KBBI atau kamus besar Bahasa Indonesia, bahagia diartikan sebagai  keadaan atau perasaan senang dan tentram (bebas dari segala yang menyusahkan). Menyusahkan disini kondisonal sih menurutku, karena setiap orang akan berbeda dalam mendefinisikanya, dan it’s okay. Kalau kata om herry dalam bukunya ‘filosofi teras’, bahagia bisa diartikan ketika kita bisa bebas dari emosi-emosi negative seperti marah, sedih, kesal, susah, iri dll, atau mungkin juga bisa diartikan ketika kita bisa damai sama hidup apapun yang sedang menimpa dan dialaminya, sehingga bisa menimbulkan ketenangan. 

Lalu dari mana datangnya bahagia? Perlu dicari atau sebenernya udah ada? Apa saja yang bisa mempengaruhi kebahagiaan seseorang?. Sejauh ini ada beberapa pendapat yang masih aga nyangkol dikepala entah yang keetulan baca atau nonton influencer andalan di youtube haha. Pendapat pertama yang ngga sengaja baca dari buku ‘The labyrinth’ yang ditulis oleh syarifah muda, ia mengatakan bahwa sebenernya kebahagiaan itu ada di dekat kita, ia ngga pernah pergi jauh-jauh dari kita. Kebahagiaan bukanlah sesuatu yang jauh sehingga harus dicari dan di kejar. Dalam praktiknya, karena kita terlalu terpaku, terobsesi mencari kebahagiaan , sehingga kita lupa kalau kita punya kebahagiaan itu namun tidak kita sadari. Sebagai contoh mulai dari hal kecil seperti melihat orang tua yang kita sayang tersenyum, dikelilingi oran-orang baik, bisa tidur nyenyak, makan bakso abis ujan-ujanan, nemu buku bagus dll. Itu semua kebahagiaan, akan tetapi sering luput dari pikiran.

Pendapat kedua dari seorang influencer dan content creator andalan sejagat raya wkwk, sebut nama jangan? Beberapa dari kalian mungkin sudah bisa nebak, sempat beberapa kali juga aku posting. Sebenernya bukan ke definisi bahagia sih, lebih ke ada beberapa hal atau aktivitas atau guide buat bahagia itu bisa timbul kali yaaaa. Dalam videonya ada 16 hal yang bisa bantu bisa bikin kita bahagia. Well, mungkin ngga akan disebutkan juga semuanya disini, kalian bisa pelajari dan tonton sendiri nanti hehe. Yang paling aku inget dan aku garis bawahi sih perihal men-upgrade dan mengembangkan diri bisa bikin kita bahagia. Entah mengembangkan diri dalam hal ilmu, sikap, cara berfikir dll yang bisa kita peroleh dengan membaca, nonton, coba jadi lebih disiplin dll. Dengan melakukan ha-hal tersebut setidaknya kita coba buat perbaiki dan mengembangkan diri kita menjadi lebih baik. Terlepas dari hasilnya gimana juga yang penting udah coba buat perbaiki. Nah dari situ kita bisa ngrasain happy, hal-hal yang tadinya kita ngga tau karena cari tau jadi ngerti dan sebagainya. Kalu udah gitu siapa sih yang ngga seneng?. Tapi ya itu Cuma satu, masih ada 15 hal lagi yang bisa kalian coba dan kali aja cocok hehe, selamat menonton.

Pendapat terahir yaitu dari ajaran-ajaran filsafat yunani-romawi kuno atau biasa di sebut dengan filsafat stoa yang berhasil ditulis dan disampaikan dengan ringan dan mengasyikan oleh penulis bernama Henry Manampiring dalam sebuah judul ‘Filosofi Teras’. Untuk kali ini mungkin lebih ke mengatur mindset tentang bahagia itu tadi. Dan bisa dibilang ini adalah salah buku favorit sepanjang hidup sih, bener-bener bantu ngatur mindset biar aga waras ngadepin hidup, mengurangi emosi-emosi negatif dan rekomendasi banget deh buat seluruh makhluk jagat raya di bumi haha. Untuk sekilas definisi kebahagiaan menurut beliau sudah disampaikan diawal. Selanjutnya, dalam buku ini dijelaskan bahwa ngga rasional ketika meletakkan kebahagiaan pada apa-apa yang bersifat fana, yang kapanpun bisa direnggut dari diri kita. Masa bahagia kita bergantung pada sesuatu yang berada diluar diri kita sendiri?.

Dalam buku ini dicontohkan mengenai benda atau apapun yang bikin kita bahagia, oke lah kita bisa kok enjoy sama hal-hal duniawi, silahkan menikmati rezeki yang sudah didapatkan, tetapi selalu mengingatkan diri sendiri untuk tidak bergantung padanya dan melihatnya dengan apa adanya. Kita senang punya pekerjaan bagus, smarthphone mahal, terlahir cantik/ganteng, bisnis sukses, punya suami ganteng/istri cantik, punya sahabt, anak/orang tua yang baik dll. Syukurlah semua itu ada, tapi jangan lupa ingatkan diri kita bahwa sesungguhnya itu semua hanyalah sebuah ‘pekerjaan’ hanya sebuah “smarthphone” hanya sebuah “keberuntungan fisik” hanya seorang cowo ganteng/cewek cantik-dan bahwa itu semua bisa hilang sewaktu-waktu karena tidak (sepenuhnya) dibawah kendali kita dan bahwa kita MAMPU merasa tenang/bahagia tanpa itu semua. Ini bukan berarti ngga bersyukur yaa, itu beda kasus. Bisa dibahas dilain waktu kalau sempat. Memang ini ngga mudah sih, perlu latihan mulai dari hal terkecil.

Okeh, kok jadi apanjang begini haha. Initinya sih gaada yang salah dari ketiga prespektif diatas. Semuanya bener, semuanya baik sebagai usaha menemui bahagianya masing-masing. Mungkin aku bisa sedikit menyimpulkan bahwa kalau ngomongin bahagia sebenernya sangat relative, nggabisa dipukul rata hars begini atau begitu. Semua orang bisa dan berhak mendefinisikan bahagianya masing-masing, dan it’s okay ketika masing-masing dari kita punya standar bahagia yang berbeda. yang penting menurutku, untuk jadi bahagia kita harus sebegitunya bahkan sampai harus menyusahkan diri sendiri dengan standar-standar bahagia yang terlalu tinggi dan ngga rasional, jangan sampai kita kehilangan sesuatu dulu baru sadar bahwa ada bahagia-bahagia kecil yang tidak kita sadari dan lupa kita syukuri. Udah si gitu ajaa, mari definisikan bahagia kita masing-masing, jangan biarkan orang lain yang mendikte kebahagiaan kita. Karena rasanya mustahil bisa memberi bahagia yang tulus ke orang lain jika belum selesai dengan bahagia kita sendiri.

Salam…

 

Senin, 05 Juli 2021

Perempuan dan kepintaran

 

Ketika ada laki-laki pintar mengapa jadi wow, sedangkan ketika ada perempuan pintar dan berdaya mengapa jadi ‘perempuan jangan pinter-pinter nanti susah dapat jodoh, atau nanti ngeyel susah diatur bahkan di beberapa kasus perempuan pintar dianggap berbahaya dan nyaris dihindari. Tulisan ini dikembangkan dari salah satu bab dalam sebuah buku yang di tulis oleh ibu Najeela Shihab yang berjudul ‘Cinta untuk perempuan yang tidak sempurna’.

Nggatau si gimana asal muasal dan sejarahnya mengapa karakter kepintaran dianggap berlawanan dengan perempuan. Mengapa mindset yang muncul justru akan ngeyel susah diatur dan sebagainya. Tidak jarang stigma-stigma tersebut sering menjadi penghambat keinginan belajar dan menggali pengetahuan lebih dalam. Padahal namanya mencari ilmu itu katanya wajib bagi laki-laki mapun perempuan, Tuhan sudah menciptakan banyak ilmu di bumi ini, jadi aga mubadzir aja kalau ngga coba cari tau meski secuil. Lagipula bukan nya berilmu dan berpengetahuan adalah hal yang positif terlepas dari dia laki-laki atau perempuan?.

Berilmu dan berpengetahuan disini cakupanya sangat luas dan tidak terbatas hanya diruang kelas alias dalam bidang akdemik saja, melainkan kesabaran, kecerdasan spiritual, emosi,  maupun social juga patut dipertimbangkan didalamnya. Kalau kata maudy, terlalu na’if jika kepintaran seseorang hanya diukur dari sisi akademik, tetapi juga masuk didalamnya ada kecerdasan emosi,juga bagaimana mengontrol diri yang justru sangat diperlukan ketika menghadapi sebuah konflik.

Dalam kasus relasi berpasangan, menurut Bu Ela perempuan pintar bukan satu-satunya syarat berhasil dan gagalnya sebuah hubungan, bukan satu dimensi yang menggambarkan kompleksnya relasi. Untuk laki-laki dan perempuan, hubungan bukan pendaftaran pertandingan otak, tetapi pilihan harian untuk saling menambah kebahagiaan. Namun, dalam banyak situasi, hubungan menjadi kumpulan interaksi yang dinilai seperti kompetisi yang diwarnai dengan iri. Saat ini-lah hubungan apapun yang melibatkan individu dengan tingkat inteligensi seberapa-pun akan menjadi rapuh.

Ada satu ungkapan dalam bab ini yang menyatakan bahwa ‘kepintaran sering meninggikan harapan kita kepada pasangan dan diri sendiri secara berlebihan, mengharapkan kesempurnaan. Padahal, bagaimana kita menghadapi kekcewaan dan cepat memaafkan, justru indikator utama kekuatan dalam hubungan’. Dalam banyak situasi, ia yang mengaku berpendidikan akan mencari pasangan yang berpendidikan pula atau minimal setara. Atau mungkin menaruh ekspektasi berlebihan kepada pasangan dengan dalih karena kamu kan berilmu, berpengetahuan dan sebagainya sehingga harus mampu menyelesaikan setiap konflik yang dihadapi. Ia lupa bahwa definisi pintar dan berpengetahuan itu multidimensi, ngga bisa dipukul rata dengan patokan hanya pada bidang akademik.

Tulisan ini bukanlah sebuah kesimpulan, melainkan bertujuan untuk memantik diskusi kepada siapapun yang kebetulan baca. Mari kita support bagi siapapun disekitar kita khususnya perempuan bahwa perempuan dan pendidikan bisa kok berjalan beriringan tanpa takut dan terhambat oleh berbagai stigma negatif yang berkaitan dengan nya.

Salam..

 

Sabtu, 26 Juni 2021

Ceritasebuahperjalanan #1

 

Ini adalah series baru dalam diary online nya mbak nells haha, series yang sering dimulai namun ngga pernah diselesaikan. Isinya tentang cerita yang ditulis usai melakukan perjalanan sedekat apapun itu. Mungkin sedikit berlebihan kalau namanya cerita sebuah perjalanan karena bukan ditulis dari seorang pejalan beneran yang udah expert haha. Tapi ya ndapapa sekedar mengabadikan secuil peristiwa yang ditemukan disetiap perjalanan, dan semoga bisa membuka kesempatan untuk perjalanan-perjalanan selanjutnya yang lebih seru hehe amiin. Meski Cuma sesekali, perjalanan dari satu tempat ke tempat lain dari satu stasiun ke stasiun lain, dari satu terminal ke terminal lain sendirian maupun barengan kembali tergambar di pelupuk mata, Baca antologi puisi dalam gerbong ketika suasana diluar  hujan diselimuti kabut tebal sudah pasti dirindukan. Ah jadi kangen kumpulin boarding pass sisa bepergian wkwk.

Sebenernya dibilang seneng banget kemana-mana juga engga, karena berbakat juga menyendiri dikamar temenan sama musik, bantal dan buku (kadang). Makanya ketika berkesempatan melakukan perjalanan sedekat apapun sebisa mungkin dinikmati dan entah kenapa setiap tempat, orang maupun suasana yang ditemui seolah mengisyaratkan sebuah pelajaran. Beda kota, beda orang, beda suasana, beda aroma, beda pijakan, beda pula rasanya. Mereka memiliki pelajaran dan candunya masing-masing. Meski kadang capek, namun setelahnya mood dan semangat hidup berasa ter-charging sempurna. Yang tadinya mau nyerah eh nggajadi karena ditengah jalan ketemu orang yang inspiratif, yang tadinya ngeluh terus jadi bisa dikurangi karena ketemu orang yang harus effort mati-matian hanya untuk memperoleh hal sederhana misalnya, yang tadinya stuck sama hidup bisa aga fresh karena ketemu tempat yang nyaman dll.  Apa mungkin hidup idealnya begitu? Perlu ada ‘perjalanan’ sebagai sekat untuk sekelumit rutinitas yang kadang bikin ambyar?

Sekian detik menuju pintu keluar tol aku tersadar dari lamunan kecil betapa ilmu dan  kebaikan perlu diulang dan dirawat sebagai pengingat di setiap part hidup yang dijalani kemudian. Ngga peduli semahir sehafal apapun teori yang dipelajari di masa lampau, nyatanya kalau ngga dibuka lagi, ngga diamalin ya bakal bablas bahkan mungkin bisa mendatangkan hal buruk. Teringat percakapan kami dengan salah seorang asatidz dari sebuah pesantren takhassus al qur’an tadi perihal beberapa tanda ketika allah membiarkan hambanya menjadi orang yang ‘rusak’, kalau tidak salah. Beberapa dari nasehatnya terdengar tidak asing, tapi ya gitu entah karena dilupakan atau tidak diamalkan jadi seolah lewat gitu aja dan tersadar ada satu kebaikan yang hilang dari sana.  Perasaan sedih disusul rasa syukur menyelinap begitu saja. Semoga senantiasa diluas lembutkan hatinya untuk menerima kebaikan. Ungkapan bertemu dan berkumpul dengan orang alim bisa mendatangkan ketenangan memang bukanlah fiktif. Kalau kata story whatsapp temen ‘dari silaturrahmi menciptakan silaturasa, meringankan beban yang dirasa’ wkwk mungkin nulisnya becanda, Cuma ada benernya juga. Tapi ya mudah-mudahan bisa dapat vibe positif dari siapapun yang kita temui disetiap tempatnya. Mungkin intinya sih namanya reminder emang harus diulang dan terus dirawat, ngga peduli sudah sejuta kali kita mendengar atau membacanya. Jadi teringat nasehat ayah ‘sudah berapa kali pun kamu belajar ilmu yang sama, anggaplah baru kali pertama atau belum pernah menerima sebelumnya. Karena pasti rasanya beda, kamu akan menemukan sesuatu yang baru meski bukan kali pertama mempelajarinya’. Huhu sehat selalu semua yang dirumah 😇.

Semoga pandemi segera berlalu, dan semoga dibukakan kesempatan seluas-luasnya untuk perjalanan-perjalanan seru selanjutnya, amiinn 😊udah deh, bentar lagi pagi takut besok kesiangan rebahanya wkwkw . canda rebahaaann

Stay safe and stay healthy everyone..

Salam…

Memaafkan

Setiap orang pasti memiliki cerita dan proses untuk memaafkan. Baik memaafkan keadaan, memaafkan seseorang, dirinya sendiri dan lain sebagai...