Minggu, 26 September 2021

Apa yang sebetulnya orang overthinking pikirkan?

 

Saking seringnya kepikiran, khawatir dan cemas sama hidup tiba-tiba muncul pertanyaan dibenak apa sih yang sebetulnya ada dikepala orang-orang overthinking? Hal apa yang sebetulnya kita khawatirkan? hal apa yang yang sebetulnya kita cemaskan sampe bisa overthinking hampir tiap waktu? pertanyaan yang diajukan untuk diri sendiri dan mungkin juga untuk mereka yang turut merasakan perasaan yang sama. Gini deh biar enak, coba kita bedah dulu arti overthingking itu sendiri biar ngga dikit-dikit melabeli diri dengan kata yang jadi simbol usia dua puluhan itu haha. Dilansir dari ugm.ac.id overthinking adalah menggunakan terlalu banyak pikiran untuk memikirkan suatu hal dengan cara yang merugikan serta overthinking dapat berupa ruminasi dan khawatir. Ruminasi adalah kecenderungan untuk terus memikirkan masa lalu. Sedangkan khawatir adalah kecenderungan memikirkan prediksi yang negatif.

Nah, padahal dari segi definisinya aja jelas tertulis kata ‘terlalu’ yang bisa berarti berlebihan, yang dalam konteks ini adalah berlebihan memikirkan sesuatu. Kita tau bahwa semua yang berlebihan itu nggak baik meski dalam hal kebaikan sekalipun, dan brarti memang ada sesuatu yang salah, ada sesuatu yang harus dibenahi. Ada yang pernah ilang gini ‘bahwa  ketika kita sedang cemas, khawatir, yang sedang berperan aktif alias mendominasi adalah perasaan kita dan logika bisa dikatakan sedang melemah’. Aku menyebutnya sebagai fase nggak rasional, karena emang yang dikedepankan hanya perasaan tanpa adanya pertimbangan untuk kemungkinan-kemungkinan lain.

Oiya kalau ngomongin ruminasi yang merupakan salah satu wujud dari overthinking tadi, jadi inget beberapa waktu lalu pernah nonton youtube nya dr. jiemi ardian yang membahas tentang ‘ruminatif thinking’, ruminasi sendiri memiliki arti proses pengembalian makanan dari lambung ke mulut pada hewan pemamah biak untuk dikunyah dan ditelan kembali. Mungkin temen-temen tau proses pencernaan pada hewan pemamah biak seperti sapi yang ngunyah dan masuk lambungnya nya nggak cuma sekali, tapi berkali-kali. Makanan yang sudah dikunyah akan masuk ke lambung dan akan dikembalikan ke mulut untuk dikunyah dan ditelan kembali, begitu terus prosesnya sampe berkali-kali sebelum masuk ke usus (koreksi ya kalau salah, lupa udah sekian tahun lalu haha).  Lalu apa hubunganya dengan overthinking? Kasusnya sama, orang yang sedang mengalami ruminatif thinking akan terus memikirkan dan mempertanyakan kembali sesuatu yang sudah ia pikirkan dan temukan jawabanya dimasa lalu atau beberapa waktu lalu. Dalam sebuah contoh kecil perihal pertanyaan ‘usia segini udah bisa apa?’ dalam kasus tertentu pertanyaan tersebut akan bercabang ke pertanyaan dalam aspek hidup lain seperti sosial, ekonomi, relasi dll. Dan dimasa lalu mungkin kita udah selesai dengan pertanyaan itu, kita udah temukan jawabanya. Tapi siapa sangka pertanyaan itu bisa muncul kembali sehingga kita harus mengalami dan mengulang proses menyebalkan itu sampe ketemu lagi dengan jawabanya. Begitulah kurang lebih mekanisme ruminatif thingking yang dapat berujung pada overthinking atau berpikir berlebihan akan sesuatu.

Oke, sekarang aku mau coba ngajak diriku sendiri dan temen-temen untuk mencari jawaban atas overthinking yang sedang dirasakan. Pernah nggak nanya sama diri sendiri sebetulnya apa yang sedang aku khawatirkan, apa yang sedang aku cemaskan sampe overthinking? khawatir sudah tertinggal jauh dari teman sebaya? Atau merasa nggak berguna? Insecure? Merasa cuma bisanya nyusahin orang sekitar? Belum bisa berbuat banyak untuk orang-orang terkasih?. Sial,kenapa jawabanya iya semua L. Tapi ada sesuatu yang aneh, sebenernya kita semua udah sejuta kali baca sampe hafal statement ‘setiap orang punya waktunya masing-masing, nggak ada yang terlambat maupun terlalu cepat, semuanya udah proporsional’. Tapi kenapa masih aja mengkhawatirkan, memikirkan dan mempertanyakan pertanyaan yang jawabanya kita udah tau?. Yaah, mungkin emang fase nya kali yaa, nggak bisa di skip. Untuk usia dewasa awal khususnya. Overthinking biasa menjadi makanan sehari-hari. Tapi yang perlu di highlight adalah semuanya akan gini-gini aja kalau kita Cuma mikirin doang tanpa melakukan sesuatu. Karena bisa jadi kita tak kunjung menemukan jawaban dan keluar dari fase ini karena kita belum melakukan sesuatu, entah coba mengulik potensi yang terpendam maupun mempelajari sesuatu yang baru.

Dan bagi yang hampir putus asa karena merasa belum berkembang atau tak kunjung ada perubahan atas apa yang sedang dikerjakan, itu bukan masalah. Jangan cepat melabeli diri gagal. Karena gagal terjadi ketika tujuan belum tercapai dalam target yang sudah ditentukan. Hobi kita adalah melabeli diri gagal tanpa tau tujuan kita bahkan mengatakan diri gagal padahal ternyata kitanya aja yang belum berjuang.

Coba nikmati sebentar lagi prosesnya, selama kita masih bergerak brarti kita masih on the right path. Ini semua hanya bagian dari part kecil dalam hidup, yang pasti dilewati untuk kemudian masuk dalam part selanjutnya. Jadi jangan dihabiskan energinya cuma buat mikirin ini semua. Percayalah, just do it! Kalau kata cak nun ‘Tuhan udah susah-susah menciptakan kita, nggak mungkin nggak bertanggung jawab atas hidup kita’. So, worry nya coba dikurangi yaa hehe..

Salam…

Sabtu, 28 Agustus 2021

Intermezzo

 

Ternyata benar, nggak ada yang lebih membahayakan dan mengerikan selain manusia itu sendiri. Manusia kalau udah iri, dengki, keras kepala, egois jauh lebih mengerikan daripada hantu, Nggak terkecuali aku juga sewaktu-waktu berpeluang masuk dalam kategori tersebut. Padahal kita adalah se-sempurna-sempurnanya makhluk, yang dibekali akal dan hati untuk mengontrol setiap tindak tutur kita sendiri. Dan lagian bukankah kita makhluk sosial yang nggak hidup sendiri di hutan yang bisa nglakuin apa aja tanpa perlu memikirkan impact nya bagi manusia lain? (by the way ini bacanya jangan ngegas yaa, karena aku juga nulisnya sambil senyum-senyum karena liat perilaku makhluk-makhluk dibumi yang makin menggemaskan).

Makanya ini jadi penting untuk betul-betul belajar mengenal diri sebagai jembatan untuk ngerti juga sama keadaan manusia lain. Ketika kamu ingin diperlakukan A ya coba perlakukan orang lain seperti apa kamu ingin diperlakukan, begitupun sebaliknya. Yaaa meski perilaku orang lain ngga bisa kita kendalikan, maka dari itu yang harus disentuh adalah kesadaran dalam diri masing-masing. Ini klise, dan mungkin semua orang bisa dengan mudah meng-iyakan. tapi ternyata setuju dengan sebuah pendapat atau statement tertentu juga nggak otomatis mau mempraktekkanya.

Kadang penasaran banget sama perasaan manusia yang suka bertindak tutur semaunya apa nggak ada perasaan nggak enak atau minimal ‘apa yang akan aku katakan dan lakukan ini kira-kira maslahat atau justru berpotensi mengganggu kenyamanan orang lain?’. Sering kali kita merasa benar dan cenderung memaksakan orang lain untuk meyakini kebenaran yang kita yakini tanpa mau menyisakkan secuil ruang untuk menerima sudut pandang orang lain. Padahal kita benar tapi bisa jadi salah dan orang lain salah tapi bisa juga benar.

Dalam kasus lain ketika ada seseorang yang terganggu atas ucapan orang lain meski dengan dalih bercanda, pastilah langsung diserang dengan kalimat ‘ah baperan lu’, ‘ah lu mah nggak santai’ dan lain sebagainya. Padahal ada orang yang terganggu kenyamananya tapi mengapa justru ia juga yang disalahkan?. Kalau baper itu artinya bawa perasaan, terus kalau ada perkataan maupun sikap orang lain seenaknya kita nggak boleh bawa perasaan? Heyy tolong yaaa kita semua ini manusia bukan tembok. Lagian hidup kalau nggak pake perasaan juga hambar. Jangan-jangan budaya kita memang gitu, lebih suka bilang ‘ah baperan lu’ dari pada belajar sadar buat jaga lisan dan jaga sikap.

Oiya ini juga tidak sedang men-generalisasi, masih banyak kok orang-orang baik diluar sana, masih banyak orang-orang yang mau belajar mindful sama sikap dan ucapanya, masih banyak orang yang punya empati. Bagi orang yang Alhamdulillah belum pernah mengalami maupun melihat fenomena seperti ini mungkin berpikiran ini sesuatu yang berlebihan, namun berapa banyak orang diluar sana yang merasakan hal ini tapi terus disembunyikan dan dipendam hanya karena takut dibilang baper atau nggak diterima dilingkungan pertemanan, kerjaan, sosial dan lain sebagainya.

Sebagai manusia kita memang punya kebebasan berekspresi dan melakukan apa yang kita mau, tapi kita juga diberi kedaulatan penuh atas akal dan hati untuk memilih bagaimana mengeskpresikan itu semua sebagaimana mestinya. Dari kecil kita selalu diajarkan untuk kuat, ngga boleh baperan dan ngga usah berlebihan nanggepin orang lain. Tapi jarang diajarkan untuk aware sama apa yang akan kita lakukan, entah perihal dampaknya bagi diri maupun orang lain. Mari menjadi waras tanpa mengganggu kewarasan orang lain.

Salam…

 

Senin, 23 Agustus 2021

Tanpa judul

 

Kita nggak pernah tau ujian dalam hidup datang nya kapan, gimana bentuknya, dalam kondisi kita lagi siap atau justru lagi ngga siap samasekali. Kadang terlintas pikiran, coba aja bisa request timing ujian hidup ‘nanti dulu siih ini lagi banyak tanggung jawab yang harus diselesaikan, dan please datengnya satu-satu yaa, jangan rombongan kaya air hujan’ (haha emang ini semesta punya nenek moyang looo). Nggak lucu juga kalau nawar ‘ya Tuhan ini timing nya nggak pas nih, minggu depan aja yaa, atau bulan depan aja deh wkwk’. Tapi yaa mungkin Tuhan lebih tau, waktu dan kondisi yang menurut kita nggak pas bisa jadi adalah waktu terbaik untuk menerima itu semua. Namanya manusia kan terbatas, segala sesuatu yang diukur dengan akal manusia sudah pasti beda dengan ukuran yang sudah Tuhan buat.

Inilah salah satu part menjadi dewasa itu mengagetkan, apalagi yang hidupnya suka haha hihi, jajan dan main doang. Pengen jajan tinggal minta, main juga sepuasnya, nggak perlu overthinking mikirin hal-hal didepan yang belum terjadi dan sebagainya. Tapi ada satu hal yang sedikit membuat diri harus menarik nafas dalam berkali-kali. Beranjak dewasa, cerita orang tua kita ternyata udah agak beda. Bukan lagi tentang keseruan kisah masa kecil mereka meski belum ada listrik maupun teknologi kaya sekarang. Sekarang mereka sudah mulai membuka percakapan tentang sesuatu yang mungkin sudah saatnya dibagi yang kadang diantaranya berisi kenyataan yang nggak ingin didengar setiap anak didunia ini. Bagian tersulitnya adalah menyadari bahwa kadang ada sesuatu yang berat yang harus mereka hadapi tanpa kita tahu. Dan sepertinya seluruh orang tua dibumi bakal gitu, nggak mau memberatkan setiap anaknya. Dan jangan-jangan masih banyak hal yang belum kita tahu dan sebenarnya mereka sedang butuh dukungan.

Kalau udah kaya gini nggak ada lagi yang bisa dilakukan selain coba mindful dan  take a break for a moment, karena kalau nggak gitu bisa salah langkah dan merugikan diri sendiri juga. Coba direnungi kembali posisi dan fungsi ujian dalam hidup itu gimana, coba husnudzon dengan Tuhan apa maksud ketika ngasih cobaan ke manusia dan sebagainya. intinya sih nggak boleh kegabah kebawa emosi terus nyalahin Tuhan karena merasa hidupnya paling menderita, berpikir semesta nggak adil, atau mungkin denial dengan mempertanyakan mengapa harus aku?.

Kalau bagiku pribadi sih mendingan banget efeknya, kerasa banget sebelum dan sesudah belajar mindful. Jadi ketika ada sesuatu yang nggak mengenakkan yang terjadi nggak langsung merespon, tapi coba istirahat dulu, Tarik nafas panjang dan coba berpikir ulang bagaimana respon yang harus diambil dengan menempatkan bagian-bagian mana yang bisa atau dibawah kendali diri. Yaa masih tahap belajar sii, masih matiran. Tapi efek lebih tenangnya udah kerasa. Untuk sebagian orang mungkin nggak mudah, lagi kalang kabut karena terjadi sesuatu boro-boro bisa mikir kesana, kelamaaaaan. Menjadi bijak khusunya pada diri impact nya ngga main-main, makanya berat dilakuin. Yang nggak kalah penting adalah dengan siapa kita berbagi (cerita). menjadi dewasa berarti harus lebih selektif memilih dengan siapa kita ingin didengar, yang denganya kita nggak akan disalah-salahin, dikata-katain, dianggap lemah dan lain sebagainya. Dalam beberapa kasus, berbagi bukan dengan orang yang tepat justru bisa menjadi boomerang bagi diri sendiri, bahkan memperparah keadaan.

Untuk yang sedang belajar dewasa diluar sana, semua ini alamiah dan bisa terjadi pada siapaun dengan wujud konflik yang berbeda. yang perlu diingat, kamu nggak sendirian. Coba istirahat sejenak untuk merenungi apapun yang lagi diadepin untuk menentukan kemudian bagaimana merespon semuanya dengan bijak. Tuhan pasti bertanggung jawab, menciptakan ujian dalam hidup berarti siap mengabulkan rentetan doa-doa untuk menguatkan bahu dan meluaskan sabar dalam hati setiap manusia yang menghadapinya.

Salam….

 

Sabtu, 14 Agustus 2021

Bu guru seumur jagung

 

Seisi dunia juga tau, ngga ada yang sempurna di dunia ini. Kalo kata motivator-motivator di tv dan youtube kan justru kesempurnaan akan ditemukan dalam ketidaksempurnaan yang diterima dengan sempurna.

Jadi gini. Sedikit berbeda dari tulisan-tulisan sebelumnya yang kebanyakan berisi tentang journey of understanding myself. Tulisan kali ini lebih ke cari tau apa hal ini adalah perasaan yang wajar atau tidak, dan mudah-mudahan Setelah ini bisa nemu titik terang yang sedikit menenangkan entah lewat makhluk yang ternyata sama rasa atau mereka yang jam terbangnya udah tinggi ngadepin fase recehan begini.

Merasa selalu kurang dalam menjalankan amanah dalam hal profesi mungkin adalah perasaan yang wajar, tapi kalo berujung overthinking apa masih bisa dikatakan wajar?. Jadi bu guru misalnya, pertanyaan ‘apa yang disampaikan ke anak-anak udah sesuai?’ ‘cara menyampaikanya apa udah tepat?’ ‘Kok mereka ngga mau dengerin ya?’ ‘Kok mereka ngga mau nurut dan malah seenaknya sendiri ya?’ ‘Gimana kalo dalam jangka waktu sekian minggu, bulan bahkan tahun mereka tetep belum ngerti?’ Apa masih pantes jadi bu guru?. Perasaan-perasaan insecure tersebut makin diperkuat saat ketemu anak-anak yang ‘’kelihatanya” lebih tau dari guru nya. Belum lagi kalau ada trouble dan kekeliruan kenapa pasti yang di sorot dan dipertanyakan pasti Cuma gurunya? Padahal dalam proses pendidikan anak juga melibatkan banyak pihak seperti guru, siswa, orang tua, lingkungan, pengalaman anak dan pola asuh orang tua juga masuk didalamnya. Lagian guru juga manusia kali yaa, sangat wajar jika melakukan kekeliruan. Ia sama-sama sedang belajar menjalankan peran barunya. Menjadi guru seolah harus sempurna, selalu benar dan nggak boleh salah dengan dalih harusnya guru kan serba tau. Haha lucu kadang, kita juga bukan malaikat lho yaa. Tapi ini juga bukan pembenaran untuk temen-temen guru enjoy-enjoy aja ketika melakukan kekeliruan, karena keliru dikit aja juga bisa fatal akibatnya.

Gini yaa, sebagai guru juga ternyata PR nya banyak banget. ngga cukup harus menguasai bidang spesifik yang diajarkan. Lebih jauh kita juga harus paham masa tumbuh kembang anak sesuai usia nya,  harus belajar lagi bagaimana peran guru, siswa dan orang tua pada jenjang tertentu, sehingga kita tau betul apa yang sedang anak butuhkan, batas capaian pengetahuanya sehingga kita bisa menyampaikanya dengan tepat. Mengapa itu penting? Karena belajar ngga berhenti sebatas menyampaikan dan menyambung pengetahuan guru ke siswa. Tapi ada jiwa yang harus tumbuh, ada empati dan kemandirian yang harus terbentuk secara bersamaan didalamnya. Mengetahui begitu kompleksnya hal tersebut, sangat diperlukan kerja sama dan support yang baik antar guru, siswa maupun orang tua. Karena menyekolahkan anak menurutku bukan berarti menyerahkan tanggung jawab pendidikan anak 100% ke guru nya. Tetapi orang tua juga berperan besar di dalamnya. Lagi-lagi komunikasi guru dan orang tua jadi kuncinya. Ngga sedikit orang tua yang complain ke guru nya karena udah sekian purnama belajar kok anaknya belum bisa ini belum bisa itu. Banyak dari mereka yang menaruh ekspekstasi tinggi ke anaknya, padahal emang belum saatnya anaknya bisa ini dan bisa itu, capaian perkembangan pengetahuannya emang belum bisa sampe situ kalau dilihat dari usia dan stimulasi yang ia dapatkan dari kecil. Nah banyak banget kan PR nya kita, mari sama-sama belajar sama-sama menyadari peran diri. Karena menghakimi satu pihak bukanlah solusi.

Bagaimanapun proses didalamnya, tujuan kita sama. Insya allah dan mudah-mudahan niat dan tujuanya baik dan bener on the right path ya hehe.

Salam…

  

Minggu, 08 Agustus 2021

about future

 

Ketika kita memikirkan masa depan ataupun sesuatu didepan yang belum terjadi, secara nggak sadar kita sudah menggunakan separuh energi kita untuk memikirkan itu semua. Sehingga kadang nggak menikmati dan gagal mengambil pelajaran apa yang sedang dikerjakan hari ini. Coba tanyakan pada diri, apa jadinya jika hari-hari yang dilalui hanya dikuras untuk memikirkan bagaimana hari esok? Yang ada pusing doang, apa yang kita adepin hari ini pun jadi nggak maksimal. Tapi bukan berarti ngga boleh punya mimpi atau merencanakan masa depan . Punya mimpi itu bagus biar kedepannya hidup terlihat lebih jelas. Dan  Yaaaa nggak tau sih, ini Cuma sudut pandang manusia yang nggak punya ambisi, ditanya mimpinya dimasa depan pun nggak tau. Yaa ada sih punya mimpi banyak, tapi harusnya berbanding lurus dengan usaha. Tapi ini ogut nggak ngerti, apa yang harus dilakukam dengan mimpi itu haha. Salut sama orang-orang diluar sana yang berhasil menjabarkan mimpi lengkap dengan usaha-usaha nya.

Untuk sekarang lagi coba kurangi mengkhawatirkan hari esok,termasuk perihal mimpi dan masa depan. serah deh Tuhan mau bawa kemana. Penasaran sama kejutan-kejutan nggak terduga yang bakal dateng, apakah tangis atau tawa. Nggak mau mikir kejauhan gimana ngadepin hari esok dan hari-hari selanjutnya. Cukup hari ini semoga lebih maksimal dari hari kemarin, terus benahi diri dalam segala aspek disetiap hari baru,dikit-dikit. Dan semoga bisa jadi lebih manfaat disetiap pijakan langkah kaki. Udah gitu aja buat sekarang-sekarang. Barangkali suatu saat muncul ambisi yang lebih yaa gatau. Mulai sekarang jadi pengen beres-beres diri dulu aja, benahin mindset, belajar mengontrol diri, gimana ngatur hubungan vertikal dengan Tuhan dan horizontal dengan manusia lain. Karena hidup mau cari apa kalau bukan tenang?. Tapi bukan berarti nggak punya semangat hidup  dan pasrah gitu aja sama keadaan. Justru dengan coba upgrade diri, semoga apapun yang akan terjadi kita bisa kontrol diri buat ngadepin  itu semua, nggak mudah diombang ambingkan sama hidup. Kita tau apa yang bisa kita lakukan, dan apa-apa yang kita ngga bisa kita intervensi di dalamnya.

Buat kamu juga yang masih bingung kalau ditanya mimpinya apa gatau, atau mungkin  insecure liat track hidup maudy ayunda dengan sejuta prestasinya, terus gelagapan dan berasumsi bahwa kamu itu cuma butiran debu trotoar, plis buat jadi bermanfaat juga pola nya ngga harus sama plek kaya beliau.Gada yang nyuruh juga bandingin hidup dengan orang lain. Semua punya cara aktualisasi diri masing-masing. Kata maudy juga kan knowing yourself, dan cuma kamu yang bener-bener paham sama dirimu sendiri. Maunya apa, value yang dipegang apa dan sebagainya. Aku juga sama, liat maudy sebagai sosok yang hampir sempurna, manusia nggak punya rasa males haha. Hmm, boleh kita liat kesuksesan orang lain, tapi tidak lantas jadi alat buat menilai rendah diri sendiri. Kalau kata gus romzi kita ngga boleh under rate atau menilai diri terlalu rendah, pun ngga boleh over rate, menilai diri terlalu tinggi. Coba nilai diri dengan sedang-sedang saja. Setiap orang itu awesome, tinggal cari tau aja sebelah mana terus kembangin dah. Jangan sampe udah jauh-jauh lari tapi nggak tau apa yang dikejar dan untuk apa.kan serem. Jangan melestarikan budaya ikut-ikutan, orang berhasil capai ini ikutan, capai itu ikutan tanpa tau apa kemauan, kebutuhan dan kapasitas diri sebenernya.Boleh aja kita jadikan mereka role model, but just be the best version of you yaaa.

Hey ini kenapa jadi kemana-kemana ngobrolnya wkwk, intinya buat yang lagi overthinking mikirin gimana hari esok, plis jangan kejauhan. Ada senang yang kamu lewatkan hari ini. Masa depan ngga se-menyeramkan apa yang ada dipikiranmu.Dunia nyata ngga sehoror apa yang ada dalam isi kepalamu.All is well

Salam..

Sabtu, 31 Juli 2021

Jeda

Ada masanya diri sendiri ngrasa sedang sangat baik-baik aja. Puas banget sama apa yang diri sendiri punya dan puas atas segala sesuatu yang udah (mampu) di lakukan, bukan karena kesempurnaan atau apa, melainkan saat itu juga diri sepenuhnya menerima semua kekurangan, memaafkan segala sesuatu yang belum bisa dilakukan/dicapai. Sadar penuh atas apa yang sedang di usahakan, sadar penuh untuk apa sesuatu yang sedang dikejar. Sadar penuh atas apa-apa yang melekat pada diri ngga butuh validasi orang lain. Kelebihan yang ada ngga haus akan pujian, pun kekurangan yang ada ngga ciut dengan komentar manusia lain. Semua itu ngga memberi pengaruh apapun ketika kita sendiri udah selesai dengan itu semua. Karena kelebihan dan kekurangan diri sudah seharusnya jalan beriringan.

Haha kirain perasaan itu akan selamanya bertahan, ternyata kebiasaan bandingin hidup akan tetap muncul dalam situasi-situasi tertentu. Jangan bandingin hidup sendiri dengan orang lain ternyata nggak semudah kita nulis di status atau di kolom komentar. Perasaan diri sendiri tak lebih baik dari orang lain hadir kembali. Perasaan diri tak lebih sukses dari orang lain menyusul dibelakangnya. Bahkan perasaan diri ngga berguna dan  semua yang sudah di usahakan dan perjuangkan terlihat sia-sia juga kerap ikut-ikutan meneror.Semuanya seperti lingkaran setan yang ngga putus-putus. Kadang cape juga si punya perasaan gitu, udah ngerasa well eh down lagi, well..down lagi, gitu terus. Tapi yaaa begitulah hidup, wajar naik turun.

Tapi kali ini aku coba memaknainya beda, ketika lagi banding-bandingin hidup dengan orang lain, lagi insecure adalah kondisi yang aku artikan sebagai sinyal bahwa kita lagi ngga sadar secara penuh. Makanya yang tepat dilakukan pas down lagi tu yaa ambil jeda. Tinggalin dulu semua aktivitas yang sedang dilakukan, atau boleh break dulu kerjaanya bentar kalau memungkinkan. Value dan prinsip hidup bisa jadi muara reflesksi. Emang paling bener tu ya harus sadar. Sadar emosi apa yang lagi dirasa, sadar kita nglakuin ini semua untuk apa, sadar kita lagi bandingin hidup dengan orang lain, pokonya harus sadar sama apa yang kita kejar. Kita tu bukan lagi kompetisi, tapi kebermaknaan hidup yang lagi di cari. Coba lihat lagi niat awal, kalau apa yang sedang kita lakukan, kita usahakan ternyata niatnya udah melenceng berarti kudu di lempengin lagi. Tajdidatun niat atau perbarui niat tu emang perlu terus dilakukan katanya. Niat awal udah bener, belum tentu ditengah jalan masih lempeng. Niat awal sekolah buat cari ilmu, tapi ditengah jalan bisa berubah niat jadi ingin saingan dan ajang pembuktian diri ke orang lain karena liat teman lain berprestasi misalnya. Dan masih banyak lagi peluang bandingin di ranah sosial ekonomi bahkan relasi.

Jadi inget percakapan dengan salah seorang psikolog pas konseling kemarin. Sebenernya kita tu nggak adil ketika menjadikan orang lain sebagai objek untuk membandingkan hidup kita. Karena latar belakang dan segala kondisi yang kita alami juga beda, jadi ngga fair kalau mau bandingin hidup kita dengan orang lain. Kalau mau bandingin hidup ya jadikan diri kita sendiri sebagai objek perbandingan tersebut. Maksudnya kalau mau bandingin hidup coba bandingin hidup kita yang sekarang dengan yang dulu, itu baru adil. Apakah sekarang kita udah lebih baik dibanding yang dulu? Apakah udah ada progress meski sedikit? Misal dulu kita belum tau ini sekarang udah tau, dll. Kita punya parameter nya masing-masing. Kayanya perbandingan gitu yang justru membangun. Kalu bandingin hidup dengan orang lain malah jatuhnya insecure nggak sih? Kalian suka gitu juga nggak? Hehe. Lagian kasian juga sih kalau kita terus-terusan men-judge diri kita kurang kurang kurang terus. Iya yang namanya manusia memang banyak kekurangan, namun kekurangan yang ada bukan untuk di kata-katain bukan untuk dihindari dan diusir-usir pergi, tapi untuk ditemani dan diterima keberadaanya. Emang prakteknya ngga mudah, mumpung lagi sadar makanya coba aku tulis. Agar sewaktu-waktu kalau down, tulisan ini bisa dibaca kembali jadi teman refleksi biar down nya ngga berlarut-larut.

Selamat refleksi, selamat menemukan bagian-bagian dalam diri yang ternyata menguatkan dan membuatmu lebih berdaya.

Salam..

Minggu, 25 Juli 2021

Memaafkan

 

memaafkan adalah mengambil pisau dari hatimu dan tidak menggunakanya untuk melukai orang lain, ngga peduli segimanapun mereka melukai dirimu. sayangnya itu bukan aku. 

Dulu, aku adalah manusia yang agak susah, eh lama untuk memaafkan kesalahan orang lain. Rasanya langsung memaafkan orang lain ketika berbuat kesalahan adalah keputusan yang nggak bijak samasekali, iyalah enak aja. Sesorang sudah melakukan kesalahan dalam hidup kita masa di maafin gitu aja, yang ada di pikiranku Cuma biarin aja biar dia merasa bersalah atas perilaku mapun perkataanya yang sudah menyakiti sesamanya. Dengan membuat ia terus merasa bersalah rasanya ada kepuasan tersendiri. Karena aku rasa setiap ada kekeliruan yang orang lain perbuat ke kita yaa semua kesalahan ada pada dia, dan kita adalah pihak yang dirugikan. Parah emang ego nya gede banget.

Tapi sekarang rasanya udah capek, sepertinya dulu aku gagal melihat permasalahan dari berbagai sudut pandang. Aku hanya melihat kesalahan dari satu sisi, yaitu dari si pelaku kesalahan tersebut. Harusnya bisa lebih bijak, bisa jadi karena aku juga menaruh ekspektasi yang terlalu tinggi, atau mungkin yang nglakuin kesalahan juga ngga sengaja bahkan terpaksa. Saat itu aku juga belum ngerti kalau ngga semua yang ada di dunia ini bisa kita kendalikan termasuk perilaku dan perspektif orang lain terhadap kita. Kita ngga bisa ngatur sikap atau perilaku seseorang untuk harus selalu baik ke kita, kita Cuma punya kendali buat merespon itu semua sebijak mungkin. Selain itu aku pun belum bisa menerima kalau jangan-jangan aku juga bersalah dalam kekeliruan tersebut. Sulit sekali rasanya mengakui kalau aku juga berpeluang melakukan kesalahan.

Sampai suatu hari ngga sengaja liat live ig dari salah seorang psikolog yang mengatakan bahwa memaafkan itu sebenernya bukan tentang membebaskan pelaku kesalahan terbebas dari kesalahanya, melainkan membebaskan diri sendiri dari emosi negative yang ada pada diri sendiri. Masuk akal sih sebenernya, ngerti kan gimana sih rasanya kalau lagi sebel sama orang karena mereka punya ‘kesalahn’, rasanya ada emosi, kesel, sakit hati dll, emosi negative semua pokonya hati isinya. Tapi memang susah diawal untuk diterima, namun lama-lama sadar juga (dikit). Dengan dalih oh iya ya rasanya kasian juga sama hati dan pikiran sendiri kalau isinya negative semua, ngga mau dong.

Sampe ahirnya mau coba meski berat. Sekarang yang jadi fokus bukan mengingat kesalahan mereka, tapi lebih ke mengurangi emosi-emosi negative yang ada dalam diri sendiri. Lebih jauh lagi ternyata memaafkan bukan tentang berdamai dengan orang lain, tapi bagaimana berdamai dengan diri sendiri untuk tidak terus membiarkan emosi negative itu ada. Ngga terus-terusan ngasih makan ego. Lalu bagaimana dengan kesalahan yang orang lain udah perbuat?  Yaudah lah yaaa, biar jadi urusan dia dengan dirinya sendiri. Dan sekarang sebenernya aga kasian ketika masih ada orang yang melukai orang lain, karena bisa jadi karena mereka yang melukai justru sedang terluka. Karena mereka belum bisa damai dan menerima luka tersebut, makanya di beberapa kasus justru melampiaskan lukanya untuk melukai orang lain. Karena rasanya ketika mereka sedang tidak bahagia, orang lain pun ngga boleh bahagia. Ini bukan teori, Cuma kebetulan sekilas pernah baca kurang lebih gitu isinya. Dan yang kebetulan baca ini juga ngga harus setuju, semua orang punya journey nya sendiri-sendiri dalam memaafkan baik dengan dirinya sendiri aupun orang lain hehe. Selamat merayakan damai dengan diri sendiri J

Salam,,,

 

 

Memaafkan

Setiap orang pasti memiliki cerita dan proses untuk memaafkan. Baik memaafkan keadaan, memaafkan seseorang, dirinya sendiri dan lain sebagai...