Jumat, 04 Februari 2022

Haii...

 Kamis, semoga hari kita semua berjalan dengan manis hehe. Kaya nya emang tiap hari harus dikasih mantra biar jadi magnet untuk kebaikan dan kebahagiaan bisa medekat. Meski abis dikasih mantra tetep aja kadang ada aja kejadian yang  menyulut emosi. Mulai dari mang ojol yang udah ditungguin malah slow respon dan lama banget. Belum lagi rekan kerja bahkan atasan yang ngomel-ngomel ngga jelas. Tapi ya, begitulah hidup. kalau ngga ada drama nya ngga seru hehe. Dahlah segitu aja intronya, tar ngga nyampe-nyampe ceritanya.

04:15 maish terlalu pagi untuk overthinking, masih terlalu pagi untuk menentukan pilihan A atau B, iya atau tidak. Wkwk udah kaya apa banget. Pagi ini ada sedikit perdebatan Dalam kepala sendiri puasa nggak ya puasa nggak ya karena kebetulan hari ini Kamis, 3 Februari 2022 adalah awal masuk bulan Rajab. Bulan yang didalamnya kita sebagai orang Islam disunahkan untuk melakukan berbagai amalan termasuk berpuasa di dalamnya. Meski hukumnya Sunnah tapi ada perasaan “duh sayang banget kalau nggak puasa di tanggal 1 ini”. Dan ketika coba ku telusuri lagi-lagi aku justru nggak tahu perasaan sayang banget ini apa karena sayang banget melewatkan 1 Rajab gitu aja tanpa puasa atau karena iri liat orang yang lain pada puasa. Padahal kalau emang nggak puasa alias meninggalkan sunnah karena hal wajib lainnya nya malah nggak papa banget daripada ngejar sunnah tapi kewajibannya justru tertinggal malah kacau juga. Masih pagi udah itung-itungan pahala dosa untung-rugi, sotoy banget dah. hahaha emang anaknya pinter cari-cari alibi aja sih sebenernya.

kalau kaya gini jadi ingat ayah, beliau adalah orang yang jarang banget, jarang jarang banget menyuruh anak-anaknya untuk melakukan ibadah sunnah meski beliau bisa dibilang nggak pernah bolong Ibadah sunnah nya. Sempat bertanya-tanya tapi enggak pernah diutarakan secara langsung, logikanya kenapa beliau ngga sekalian aja ajak anaknya bangun malam atau apapun itu. Mungkin kalau misal anak-anaknya melakukan ibadah sunnah pun bukan karena ajakan beliau, melainkan iri melihat beliau yang udah sepuh aja nggak sungkan masa anaknya masih muda justru males-malesan. Jadi aku hanya menyimpan pertanyaan itu sendiri. Dan akhirnya sekarang kucoba menerka-nerka mengapa ayah jarang sekali mengajak anak-anaknya untuk melakukan ibadah sunnah, dan bisa dibilang satu-satunya Ibadah sunnah yang benar-benar ayah pesankan adalah sholawat sama doa sebelum berbuka puasa karena beliau bilang itu adalah doa yang Mustajab.  Itu sih yang paling masih diingat.

Oke aku coba menerka yang pertama mungkin karena beliau ingin menyampaikan sesuatu tidak dengan nasehat atau ajakan atau apapun tapi lebih pakai teladan biar lebih ngena aja gitu, karena aku pernah dengar satu Teladan lebih baik daripada seribu nasehat.  Dan yaaaa berhasil menurutku, pesannya sampai meski tanpa nasehat atau ajakan dalam bentuk apapun. Sepertinya memang setiap ayah adalah teladan yang baik bagi setiap anaknya. Kedua mungkin karena beliau tidak ingin kami menganggap Ibadah sunnah itu sesuatu yang wow dan agak berlebihan sampai akhirnya kita nggak maksimal melaksanakan ibadah wajib lainnya. Beliau pernah menyampaikan menurut Kyai beliau di pesantren pernah menyampaikan bahwa lebih baik nggak usah puasa daripada sekolah ibadahnya jadi males-malesan jadi tidur mulu. Karena Emang aku gitu sih kalau puasa suka males-malesan dan ya itu yang jadi dalil dari dulu sampai sekarang makanya jarang banget puasa. hahaha emang anaknya paling pintar aja cari Alibi .

Oh my God Hari ini aku piket dan Jam sudah menunjukkan kalau aku harus siap-siap sekarang dan harus berangkat lebih pagi dari biasanya, kita sambung lagi kapan-kapan yaaaa . Selamat beraktifitas semuanya, yang puasa kuat-kuat ya sampai maghrib, yang nggak puasa nggak boleh iseng. udah nggak puasa iseng lagi Hahaha see you

salam...


Minggu, 21 November 2021

“Dikotomi Kendali” Ala Stoisisme

 

Some things are up to us, Some things are not up to us ” Ada hal-hal di bawah kendali (tergantung pada) kita, ada hal-hal yang tidak di bawah kendali (tidak tergantung pada) kita. Begitu ungkapan Epictetus dalam bukunya Enchiridion, beliau merupakan seorang filsuf stoa yang kita kenal dengan ajaranya dengan nama stoisisme. Sekilas ungkapan tersebut terdengar sangat klise, sebagian dari kita mungkin akan berpikir bahwa “yaelah, semua orang di dunia ini juga tau ”. tapi apakah kita sudah betul-betul tahu, memahami, meresapi dan mempraktikkan ungkapan tersebut? Atau hanya sekadar sering mendengar dan “merasa” tahu?

Dalam buku “Filosofi Teras” yang ditulis oleh Henry Manampiring menjelaskan bahwa dalam ajaran stoisisme terdapat prinsip fundamental yang disepakati oleh hampir seluruh filsuf stoa yang di disebut dengan dichotomy of control atau dikotomi kendali. Prinsip tersebut menjelaskan bahwa ada hal-hal yang berada dibawah kendali kita dan tidak dibawah kendali kita. Lalu hal-hal apa sajakah yang berada dibawah kendali kita dan tidak dibawah kendali kita? Epictetus membagi kedua hal tersebut ke dalam bagian berikut sehingga kita bisa dengan mudah memtakan kedua hal tersebut.

Dibawah kendali kita :

1.     Pertimbangan (judgment), opini atau presepsi kita

2.    Keinginan kita

3.    Tujuan kita

4.    Segala sesuatu yang merupakan pikiran dan tindakan kita sendiri.

Tidak dibawah kendali kita :

1.     Tindakan orang lain (kecuali dia dibawah ancaman kita)

2.    Opini orang lain

3.    Reputasi/popularitas kita

4.    Kesehatang kita

5.    Kekayaan kita

6.    Kondisi saat kita lahir, seperti jenis kelamin, orang tua, saudara-saudara, etnis/suku, kebangsaan, warna kulit dan lain-lain.

7.    Segala sesuatu diluar pikiran dan tindakan kita, seperti cuaca, gempa bumi dan peristiwa alam lainya

8.    Ada banyak hal yang belum ada di masa filsuf stoa hidup  tetapi dapat kita kategorikan disini, seperti harga saham saat ini, indeks pasar modal, razia sepeda motor, dan nilai tukar rupiah.

 Lebih lanjut Epictetus menjelaskan bahwa hal-hal yang dibawah kendali kita bersifat merdeka dan tidak terikat, sedangkan hal-hal yang tidak dibawah kendali kita bersifat lemah, terikat, bagai budak, dan milik orang lain. Jadi barangsiapa yang terobsesi pada hal-hal yang tidak bisa kita kendalikan seperti perbuatan/opini  orang lain, kekayaan kita, kesehatan kita bahkan kondisi kita terlahir adalah sesuatu yang sangat di luar kendali kita. Sebagai contoh banyak orang yang diluar sana yang terus mengeluhkan kondisi mereka dilahirkan seperti “mengapa saya terlahir menjadi suku A?”, “mengapa saya pendek?”, “mengapa saya keriting?”, “mengapa saya tidak terlahir sebagai seorang anak raja?” dan lain-lain. Bagi stoisisme penyesalan seperti ini adalah kesia-siaan, karena menyesali hal-hal yang sama sekali tidak bisa kita kendalikan.

Stosisime mengajarkan bahwa kebahagiaan hanya bisa datang dari “things we can control”, kebahagiaan datang dari hal-hal yang bisa kita kendalikan. Itu artinya kebahagiaan itu datang dari dalam, bukan datang dari luar seperti perlakuan orang lain, kekayaan kita, status, popularitas, dan lain-lain. Kita tidak bisa mengatur orang lain untuk terus berbuat baik kepada kita, kekayaan bisa saja lenyap dengan sendiri baik karena bangkrut atau apapun, popularitas bisa saja seketika hilang karena da yang menjatuhkan dan lain-lain. Oleh karena itu ketika kita menggantungkan kebahagiaan pada itu semua, para filsuf stoa menganggapnya sebagai hal yang tidak rasional dan siap-sia saja kita akan dilanda kekecewaan.

Sebagian dari kita mungkin akan bertanya bahwa bukankah kesehatan ada dibawah kendali kita? Bukankah kita yang menjaganya?. Baiklah, bayangkan ada seseorang yang dari kecil sudah menjaga kesehatan dengan baik dengan menjaga pola makan, olahraga teratur, makan makanan yang sehat, tidak mengkonsumsi makanan dan minuman yang berbahaya, namun bisa saja tiba-tiba terdiagnosa kanker yang dipengaruhi oleh faktor genetik misalnya, atau ketika sedang traveling kemana lalu terpapar virus yang membahayakan, bahkan suatu hari sedang menyebrang lalu ditabrak oleh pemuda yang baru pulang party dalam keadaan mabuk yang pada ahirnya menderita cacat seumur hidup. sesungguhnya kesehatan pun tidak sepenuhnya dibawah kendali kita.

Manusia yang rasional diharapkan bisa menahan diri dari keinginan-keinginan pada hal yang tidak bisa kita kendalikan sebagai sumber kebahagiaan utama. Oleh karena itu marilah kita mencari sumber kebahagiaan dalam diri kita sendiri, tidak lagi menyesali bagaimana kita dilahirkan, melainkan focus pada apa yang bisa kita lakukan baik dengan mencari potensi diri dan mengembangkannya, maupun mensyukuri apa yang sudah Tuhan berikan dan lain-lain. Mengapa ini menjadi penting? Karena ketika kita sudah menemukan kebahagiaan dalam diri, kita tidak lagi cemas, takut apabila kekayaan kita tiba-tiba lenyap, kita tidak lagi popular, orang lain berpikir negatif, kita tidak lagi terganggu. Kita tetap bisa bahagia meski tanpa itu semua.

 

 

Minggu, 26 September 2021

Apa yang sebetulnya orang overthinking pikirkan?

 

Saking seringnya kepikiran, khawatir dan cemas sama hidup tiba-tiba muncul pertanyaan dibenak apa sih yang sebetulnya ada dikepala orang-orang overthinking? Hal apa yang sebetulnya kita khawatirkan? hal apa yang yang sebetulnya kita cemaskan sampe bisa overthinking hampir tiap waktu? pertanyaan yang diajukan untuk diri sendiri dan mungkin juga untuk mereka yang turut merasakan perasaan yang sama. Gini deh biar enak, coba kita bedah dulu arti overthingking itu sendiri biar ngga dikit-dikit melabeli diri dengan kata yang jadi simbol usia dua puluhan itu haha. Dilansir dari ugm.ac.id overthinking adalah menggunakan terlalu banyak pikiran untuk memikirkan suatu hal dengan cara yang merugikan serta overthinking dapat berupa ruminasi dan khawatir. Ruminasi adalah kecenderungan untuk terus memikirkan masa lalu. Sedangkan khawatir adalah kecenderungan memikirkan prediksi yang negatif.

Nah, padahal dari segi definisinya aja jelas tertulis kata ‘terlalu’ yang bisa berarti berlebihan, yang dalam konteks ini adalah berlebihan memikirkan sesuatu. Kita tau bahwa semua yang berlebihan itu nggak baik meski dalam hal kebaikan sekalipun, dan brarti memang ada sesuatu yang salah, ada sesuatu yang harus dibenahi. Ada yang pernah ilang gini ‘bahwa  ketika kita sedang cemas, khawatir, yang sedang berperan aktif alias mendominasi adalah perasaan kita dan logika bisa dikatakan sedang melemah’. Aku menyebutnya sebagai fase nggak rasional, karena emang yang dikedepankan hanya perasaan tanpa adanya pertimbangan untuk kemungkinan-kemungkinan lain.

Oiya kalau ngomongin ruminasi yang merupakan salah satu wujud dari overthinking tadi, jadi inget beberapa waktu lalu pernah nonton youtube nya dr. jiemi ardian yang membahas tentang ‘ruminatif thinking’, ruminasi sendiri memiliki arti proses pengembalian makanan dari lambung ke mulut pada hewan pemamah biak untuk dikunyah dan ditelan kembali. Mungkin temen-temen tau proses pencernaan pada hewan pemamah biak seperti sapi yang ngunyah dan masuk lambungnya nya nggak cuma sekali, tapi berkali-kali. Makanan yang sudah dikunyah akan masuk ke lambung dan akan dikembalikan ke mulut untuk dikunyah dan ditelan kembali, begitu terus prosesnya sampe berkali-kali sebelum masuk ke usus (koreksi ya kalau salah, lupa udah sekian tahun lalu haha).  Lalu apa hubunganya dengan overthinking? Kasusnya sama, orang yang sedang mengalami ruminatif thinking akan terus memikirkan dan mempertanyakan kembali sesuatu yang sudah ia pikirkan dan temukan jawabanya dimasa lalu atau beberapa waktu lalu. Dalam sebuah contoh kecil perihal pertanyaan ‘usia segini udah bisa apa?’ dalam kasus tertentu pertanyaan tersebut akan bercabang ke pertanyaan dalam aspek hidup lain seperti sosial, ekonomi, relasi dll. Dan dimasa lalu mungkin kita udah selesai dengan pertanyaan itu, kita udah temukan jawabanya. Tapi siapa sangka pertanyaan itu bisa muncul kembali sehingga kita harus mengalami dan mengulang proses menyebalkan itu sampe ketemu lagi dengan jawabanya. Begitulah kurang lebih mekanisme ruminatif thingking yang dapat berujung pada overthinking atau berpikir berlebihan akan sesuatu.

Oke, sekarang aku mau coba ngajak diriku sendiri dan temen-temen untuk mencari jawaban atas overthinking yang sedang dirasakan. Pernah nggak nanya sama diri sendiri sebetulnya apa yang sedang aku khawatirkan, apa yang sedang aku cemaskan sampe overthinking? khawatir sudah tertinggal jauh dari teman sebaya? Atau merasa nggak berguna? Insecure? Merasa cuma bisanya nyusahin orang sekitar? Belum bisa berbuat banyak untuk orang-orang terkasih?. Sial,kenapa jawabanya iya semua L. Tapi ada sesuatu yang aneh, sebenernya kita semua udah sejuta kali baca sampe hafal statement ‘setiap orang punya waktunya masing-masing, nggak ada yang terlambat maupun terlalu cepat, semuanya udah proporsional’. Tapi kenapa masih aja mengkhawatirkan, memikirkan dan mempertanyakan pertanyaan yang jawabanya kita udah tau?. Yaah, mungkin emang fase nya kali yaa, nggak bisa di skip. Untuk usia dewasa awal khususnya. Overthinking biasa menjadi makanan sehari-hari. Tapi yang perlu di highlight adalah semuanya akan gini-gini aja kalau kita Cuma mikirin doang tanpa melakukan sesuatu. Karena bisa jadi kita tak kunjung menemukan jawaban dan keluar dari fase ini karena kita belum melakukan sesuatu, entah coba mengulik potensi yang terpendam maupun mempelajari sesuatu yang baru.

Dan bagi yang hampir putus asa karena merasa belum berkembang atau tak kunjung ada perubahan atas apa yang sedang dikerjakan, itu bukan masalah. Jangan cepat melabeli diri gagal. Karena gagal terjadi ketika tujuan belum tercapai dalam target yang sudah ditentukan. Hobi kita adalah melabeli diri gagal tanpa tau tujuan kita bahkan mengatakan diri gagal padahal ternyata kitanya aja yang belum berjuang.

Coba nikmati sebentar lagi prosesnya, selama kita masih bergerak brarti kita masih on the right path. Ini semua hanya bagian dari part kecil dalam hidup, yang pasti dilewati untuk kemudian masuk dalam part selanjutnya. Jadi jangan dihabiskan energinya cuma buat mikirin ini semua. Percayalah, just do it! Kalau kata cak nun ‘Tuhan udah susah-susah menciptakan kita, nggak mungkin nggak bertanggung jawab atas hidup kita’. So, worry nya coba dikurangi yaa hehe..

Salam…

Sabtu, 28 Agustus 2021

Intermezzo

 

Ternyata benar, nggak ada yang lebih membahayakan dan mengerikan selain manusia itu sendiri. Manusia kalau udah iri, dengki, keras kepala, egois jauh lebih mengerikan daripada hantu, Nggak terkecuali aku juga sewaktu-waktu berpeluang masuk dalam kategori tersebut. Padahal kita adalah se-sempurna-sempurnanya makhluk, yang dibekali akal dan hati untuk mengontrol setiap tindak tutur kita sendiri. Dan lagian bukankah kita makhluk sosial yang nggak hidup sendiri di hutan yang bisa nglakuin apa aja tanpa perlu memikirkan impact nya bagi manusia lain? (by the way ini bacanya jangan ngegas yaa, karena aku juga nulisnya sambil senyum-senyum karena liat perilaku makhluk-makhluk dibumi yang makin menggemaskan).

Makanya ini jadi penting untuk betul-betul belajar mengenal diri sebagai jembatan untuk ngerti juga sama keadaan manusia lain. Ketika kamu ingin diperlakukan A ya coba perlakukan orang lain seperti apa kamu ingin diperlakukan, begitupun sebaliknya. Yaaa meski perilaku orang lain ngga bisa kita kendalikan, maka dari itu yang harus disentuh adalah kesadaran dalam diri masing-masing. Ini klise, dan mungkin semua orang bisa dengan mudah meng-iyakan. tapi ternyata setuju dengan sebuah pendapat atau statement tertentu juga nggak otomatis mau mempraktekkanya.

Kadang penasaran banget sama perasaan manusia yang suka bertindak tutur semaunya apa nggak ada perasaan nggak enak atau minimal ‘apa yang akan aku katakan dan lakukan ini kira-kira maslahat atau justru berpotensi mengganggu kenyamanan orang lain?’. Sering kali kita merasa benar dan cenderung memaksakan orang lain untuk meyakini kebenaran yang kita yakini tanpa mau menyisakkan secuil ruang untuk menerima sudut pandang orang lain. Padahal kita benar tapi bisa jadi salah dan orang lain salah tapi bisa juga benar.

Dalam kasus lain ketika ada seseorang yang terganggu atas ucapan orang lain meski dengan dalih bercanda, pastilah langsung diserang dengan kalimat ‘ah baperan lu’, ‘ah lu mah nggak santai’ dan lain sebagainya. Padahal ada orang yang terganggu kenyamananya tapi mengapa justru ia juga yang disalahkan?. Kalau baper itu artinya bawa perasaan, terus kalau ada perkataan maupun sikap orang lain seenaknya kita nggak boleh bawa perasaan? Heyy tolong yaaa kita semua ini manusia bukan tembok. Lagian hidup kalau nggak pake perasaan juga hambar. Jangan-jangan budaya kita memang gitu, lebih suka bilang ‘ah baperan lu’ dari pada belajar sadar buat jaga lisan dan jaga sikap.

Oiya ini juga tidak sedang men-generalisasi, masih banyak kok orang-orang baik diluar sana, masih banyak orang-orang yang mau belajar mindful sama sikap dan ucapanya, masih banyak orang yang punya empati. Bagi orang yang Alhamdulillah belum pernah mengalami maupun melihat fenomena seperti ini mungkin berpikiran ini sesuatu yang berlebihan, namun berapa banyak orang diluar sana yang merasakan hal ini tapi terus disembunyikan dan dipendam hanya karena takut dibilang baper atau nggak diterima dilingkungan pertemanan, kerjaan, sosial dan lain sebagainya.

Sebagai manusia kita memang punya kebebasan berekspresi dan melakukan apa yang kita mau, tapi kita juga diberi kedaulatan penuh atas akal dan hati untuk memilih bagaimana mengeskpresikan itu semua sebagaimana mestinya. Dari kecil kita selalu diajarkan untuk kuat, ngga boleh baperan dan ngga usah berlebihan nanggepin orang lain. Tapi jarang diajarkan untuk aware sama apa yang akan kita lakukan, entah perihal dampaknya bagi diri maupun orang lain. Mari menjadi waras tanpa mengganggu kewarasan orang lain.

Salam…

 

Senin, 23 Agustus 2021

Tanpa judul

 

Kita nggak pernah tau ujian dalam hidup datang nya kapan, gimana bentuknya, dalam kondisi kita lagi siap atau justru lagi ngga siap samasekali. Kadang terlintas pikiran, coba aja bisa request timing ujian hidup ‘nanti dulu siih ini lagi banyak tanggung jawab yang harus diselesaikan, dan please datengnya satu-satu yaa, jangan rombongan kaya air hujan’ (haha emang ini semesta punya nenek moyang looo). Nggak lucu juga kalau nawar ‘ya Tuhan ini timing nya nggak pas nih, minggu depan aja yaa, atau bulan depan aja deh wkwk’. Tapi yaa mungkin Tuhan lebih tau, waktu dan kondisi yang menurut kita nggak pas bisa jadi adalah waktu terbaik untuk menerima itu semua. Namanya manusia kan terbatas, segala sesuatu yang diukur dengan akal manusia sudah pasti beda dengan ukuran yang sudah Tuhan buat.

Inilah salah satu part menjadi dewasa itu mengagetkan, apalagi yang hidupnya suka haha hihi, jajan dan main doang. Pengen jajan tinggal minta, main juga sepuasnya, nggak perlu overthinking mikirin hal-hal didepan yang belum terjadi dan sebagainya. Tapi ada satu hal yang sedikit membuat diri harus menarik nafas dalam berkali-kali. Beranjak dewasa, cerita orang tua kita ternyata udah agak beda. Bukan lagi tentang keseruan kisah masa kecil mereka meski belum ada listrik maupun teknologi kaya sekarang. Sekarang mereka sudah mulai membuka percakapan tentang sesuatu yang mungkin sudah saatnya dibagi yang kadang diantaranya berisi kenyataan yang nggak ingin didengar setiap anak didunia ini. Bagian tersulitnya adalah menyadari bahwa kadang ada sesuatu yang berat yang harus mereka hadapi tanpa kita tahu. Dan sepertinya seluruh orang tua dibumi bakal gitu, nggak mau memberatkan setiap anaknya. Dan jangan-jangan masih banyak hal yang belum kita tahu dan sebenarnya mereka sedang butuh dukungan.

Kalau udah kaya gini nggak ada lagi yang bisa dilakukan selain coba mindful dan  take a break for a moment, karena kalau nggak gitu bisa salah langkah dan merugikan diri sendiri juga. Coba direnungi kembali posisi dan fungsi ujian dalam hidup itu gimana, coba husnudzon dengan Tuhan apa maksud ketika ngasih cobaan ke manusia dan sebagainya. intinya sih nggak boleh kegabah kebawa emosi terus nyalahin Tuhan karena merasa hidupnya paling menderita, berpikir semesta nggak adil, atau mungkin denial dengan mempertanyakan mengapa harus aku?.

Kalau bagiku pribadi sih mendingan banget efeknya, kerasa banget sebelum dan sesudah belajar mindful. Jadi ketika ada sesuatu yang nggak mengenakkan yang terjadi nggak langsung merespon, tapi coba istirahat dulu, Tarik nafas panjang dan coba berpikir ulang bagaimana respon yang harus diambil dengan menempatkan bagian-bagian mana yang bisa atau dibawah kendali diri. Yaa masih tahap belajar sii, masih matiran. Tapi efek lebih tenangnya udah kerasa. Untuk sebagian orang mungkin nggak mudah, lagi kalang kabut karena terjadi sesuatu boro-boro bisa mikir kesana, kelamaaaaan. Menjadi bijak khusunya pada diri impact nya ngga main-main, makanya berat dilakuin. Yang nggak kalah penting adalah dengan siapa kita berbagi (cerita). menjadi dewasa berarti harus lebih selektif memilih dengan siapa kita ingin didengar, yang denganya kita nggak akan disalah-salahin, dikata-katain, dianggap lemah dan lain sebagainya. Dalam beberapa kasus, berbagi bukan dengan orang yang tepat justru bisa menjadi boomerang bagi diri sendiri, bahkan memperparah keadaan.

Untuk yang sedang belajar dewasa diluar sana, semua ini alamiah dan bisa terjadi pada siapaun dengan wujud konflik yang berbeda. yang perlu diingat, kamu nggak sendirian. Coba istirahat sejenak untuk merenungi apapun yang lagi diadepin untuk menentukan kemudian bagaimana merespon semuanya dengan bijak. Tuhan pasti bertanggung jawab, menciptakan ujian dalam hidup berarti siap mengabulkan rentetan doa-doa untuk menguatkan bahu dan meluaskan sabar dalam hati setiap manusia yang menghadapinya.

Salam….

 

Sabtu, 14 Agustus 2021

Bu guru seumur jagung

 

Seisi dunia juga tau, ngga ada yang sempurna di dunia ini. Kalo kata motivator-motivator di tv dan youtube kan justru kesempurnaan akan ditemukan dalam ketidaksempurnaan yang diterima dengan sempurna.

Jadi gini. Sedikit berbeda dari tulisan-tulisan sebelumnya yang kebanyakan berisi tentang journey of understanding myself. Tulisan kali ini lebih ke cari tau apa hal ini adalah perasaan yang wajar atau tidak, dan mudah-mudahan Setelah ini bisa nemu titik terang yang sedikit menenangkan entah lewat makhluk yang ternyata sama rasa atau mereka yang jam terbangnya udah tinggi ngadepin fase recehan begini.

Merasa selalu kurang dalam menjalankan amanah dalam hal profesi mungkin adalah perasaan yang wajar, tapi kalo berujung overthinking apa masih bisa dikatakan wajar?. Jadi bu guru misalnya, pertanyaan ‘apa yang disampaikan ke anak-anak udah sesuai?’ ‘cara menyampaikanya apa udah tepat?’ ‘Kok mereka ngga mau dengerin ya?’ ‘Kok mereka ngga mau nurut dan malah seenaknya sendiri ya?’ ‘Gimana kalo dalam jangka waktu sekian minggu, bulan bahkan tahun mereka tetep belum ngerti?’ Apa masih pantes jadi bu guru?. Perasaan-perasaan insecure tersebut makin diperkuat saat ketemu anak-anak yang ‘’kelihatanya” lebih tau dari guru nya. Belum lagi kalau ada trouble dan kekeliruan kenapa pasti yang di sorot dan dipertanyakan pasti Cuma gurunya? Padahal dalam proses pendidikan anak juga melibatkan banyak pihak seperti guru, siswa, orang tua, lingkungan, pengalaman anak dan pola asuh orang tua juga masuk didalamnya. Lagian guru juga manusia kali yaa, sangat wajar jika melakukan kekeliruan. Ia sama-sama sedang belajar menjalankan peran barunya. Menjadi guru seolah harus sempurna, selalu benar dan nggak boleh salah dengan dalih harusnya guru kan serba tau. Haha lucu kadang, kita juga bukan malaikat lho yaa. Tapi ini juga bukan pembenaran untuk temen-temen guru enjoy-enjoy aja ketika melakukan kekeliruan, karena keliru dikit aja juga bisa fatal akibatnya.

Gini yaa, sebagai guru juga ternyata PR nya banyak banget. ngga cukup harus menguasai bidang spesifik yang diajarkan. Lebih jauh kita juga harus paham masa tumbuh kembang anak sesuai usia nya,  harus belajar lagi bagaimana peran guru, siswa dan orang tua pada jenjang tertentu, sehingga kita tau betul apa yang sedang anak butuhkan, batas capaian pengetahuanya sehingga kita bisa menyampaikanya dengan tepat. Mengapa itu penting? Karena belajar ngga berhenti sebatas menyampaikan dan menyambung pengetahuan guru ke siswa. Tapi ada jiwa yang harus tumbuh, ada empati dan kemandirian yang harus terbentuk secara bersamaan didalamnya. Mengetahui begitu kompleksnya hal tersebut, sangat diperlukan kerja sama dan support yang baik antar guru, siswa maupun orang tua. Karena menyekolahkan anak menurutku bukan berarti menyerahkan tanggung jawab pendidikan anak 100% ke guru nya. Tetapi orang tua juga berperan besar di dalamnya. Lagi-lagi komunikasi guru dan orang tua jadi kuncinya. Ngga sedikit orang tua yang complain ke guru nya karena udah sekian purnama belajar kok anaknya belum bisa ini belum bisa itu. Banyak dari mereka yang menaruh ekspekstasi tinggi ke anaknya, padahal emang belum saatnya anaknya bisa ini dan bisa itu, capaian perkembangan pengetahuannya emang belum bisa sampe situ kalau dilihat dari usia dan stimulasi yang ia dapatkan dari kecil. Nah banyak banget kan PR nya kita, mari sama-sama belajar sama-sama menyadari peran diri. Karena menghakimi satu pihak bukanlah solusi.

Bagaimanapun proses didalamnya, tujuan kita sama. Insya allah dan mudah-mudahan niat dan tujuanya baik dan bener on the right path ya hehe.

Salam…

  

Minggu, 08 Agustus 2021

about future

 

Ketika kita memikirkan masa depan ataupun sesuatu didepan yang belum terjadi, secara nggak sadar kita sudah menggunakan separuh energi kita untuk memikirkan itu semua. Sehingga kadang nggak menikmati dan gagal mengambil pelajaran apa yang sedang dikerjakan hari ini. Coba tanyakan pada diri, apa jadinya jika hari-hari yang dilalui hanya dikuras untuk memikirkan bagaimana hari esok? Yang ada pusing doang, apa yang kita adepin hari ini pun jadi nggak maksimal. Tapi bukan berarti ngga boleh punya mimpi atau merencanakan masa depan . Punya mimpi itu bagus biar kedepannya hidup terlihat lebih jelas. Dan  Yaaaa nggak tau sih, ini Cuma sudut pandang manusia yang nggak punya ambisi, ditanya mimpinya dimasa depan pun nggak tau. Yaa ada sih punya mimpi banyak, tapi harusnya berbanding lurus dengan usaha. Tapi ini ogut nggak ngerti, apa yang harus dilakukam dengan mimpi itu haha. Salut sama orang-orang diluar sana yang berhasil menjabarkan mimpi lengkap dengan usaha-usaha nya.

Untuk sekarang lagi coba kurangi mengkhawatirkan hari esok,termasuk perihal mimpi dan masa depan. serah deh Tuhan mau bawa kemana. Penasaran sama kejutan-kejutan nggak terduga yang bakal dateng, apakah tangis atau tawa. Nggak mau mikir kejauhan gimana ngadepin hari esok dan hari-hari selanjutnya. Cukup hari ini semoga lebih maksimal dari hari kemarin, terus benahi diri dalam segala aspek disetiap hari baru,dikit-dikit. Dan semoga bisa jadi lebih manfaat disetiap pijakan langkah kaki. Udah gitu aja buat sekarang-sekarang. Barangkali suatu saat muncul ambisi yang lebih yaa gatau. Mulai sekarang jadi pengen beres-beres diri dulu aja, benahin mindset, belajar mengontrol diri, gimana ngatur hubungan vertikal dengan Tuhan dan horizontal dengan manusia lain. Karena hidup mau cari apa kalau bukan tenang?. Tapi bukan berarti nggak punya semangat hidup  dan pasrah gitu aja sama keadaan. Justru dengan coba upgrade diri, semoga apapun yang akan terjadi kita bisa kontrol diri buat ngadepin  itu semua, nggak mudah diombang ambingkan sama hidup. Kita tau apa yang bisa kita lakukan, dan apa-apa yang kita ngga bisa kita intervensi di dalamnya.

Buat kamu juga yang masih bingung kalau ditanya mimpinya apa gatau, atau mungkin  insecure liat track hidup maudy ayunda dengan sejuta prestasinya, terus gelagapan dan berasumsi bahwa kamu itu cuma butiran debu trotoar, plis buat jadi bermanfaat juga pola nya ngga harus sama plek kaya beliau.Gada yang nyuruh juga bandingin hidup dengan orang lain. Semua punya cara aktualisasi diri masing-masing. Kata maudy juga kan knowing yourself, dan cuma kamu yang bener-bener paham sama dirimu sendiri. Maunya apa, value yang dipegang apa dan sebagainya. Aku juga sama, liat maudy sebagai sosok yang hampir sempurna, manusia nggak punya rasa males haha. Hmm, boleh kita liat kesuksesan orang lain, tapi tidak lantas jadi alat buat menilai rendah diri sendiri. Kalau kata gus romzi kita ngga boleh under rate atau menilai diri terlalu rendah, pun ngga boleh over rate, menilai diri terlalu tinggi. Coba nilai diri dengan sedang-sedang saja. Setiap orang itu awesome, tinggal cari tau aja sebelah mana terus kembangin dah. Jangan sampe udah jauh-jauh lari tapi nggak tau apa yang dikejar dan untuk apa.kan serem. Jangan melestarikan budaya ikut-ikutan, orang berhasil capai ini ikutan, capai itu ikutan tanpa tau apa kemauan, kebutuhan dan kapasitas diri sebenernya.Boleh aja kita jadikan mereka role model, but just be the best version of you yaaa.

Hey ini kenapa jadi kemana-kemana ngobrolnya wkwk, intinya buat yang lagi overthinking mikirin gimana hari esok, plis jangan kejauhan. Ada senang yang kamu lewatkan hari ini. Masa depan ngga se-menyeramkan apa yang ada dipikiranmu.Dunia nyata ngga sehoror apa yang ada dalam isi kepalamu.All is well

Salam..

Memaafkan

Setiap orang pasti memiliki cerita dan proses untuk memaafkan. Baik memaafkan keadaan, memaafkan seseorang, dirinya sendiri dan lain sebagai...