Senin, 23 Agustus 2021

Tanpa judul

 

Kita nggak pernah tau ujian dalam hidup datang nya kapan, gimana bentuknya, dalam kondisi kita lagi siap atau justru lagi ngga siap samasekali. Kadang terlintas pikiran, coba aja bisa request timing ujian hidup ‘nanti dulu siih ini lagi banyak tanggung jawab yang harus diselesaikan, dan please datengnya satu-satu yaa, jangan rombongan kaya air hujan’ (haha emang ini semesta punya nenek moyang looo). Nggak lucu juga kalau nawar ‘ya Tuhan ini timing nya nggak pas nih, minggu depan aja yaa, atau bulan depan aja deh wkwk’. Tapi yaa mungkin Tuhan lebih tau, waktu dan kondisi yang menurut kita nggak pas bisa jadi adalah waktu terbaik untuk menerima itu semua. Namanya manusia kan terbatas, segala sesuatu yang diukur dengan akal manusia sudah pasti beda dengan ukuran yang sudah Tuhan buat.

Inilah salah satu part menjadi dewasa itu mengagetkan, apalagi yang hidupnya suka haha hihi, jajan dan main doang. Pengen jajan tinggal minta, main juga sepuasnya, nggak perlu overthinking mikirin hal-hal didepan yang belum terjadi dan sebagainya. Tapi ada satu hal yang sedikit membuat diri harus menarik nafas dalam berkali-kali. Beranjak dewasa, cerita orang tua kita ternyata udah agak beda. Bukan lagi tentang keseruan kisah masa kecil mereka meski belum ada listrik maupun teknologi kaya sekarang. Sekarang mereka sudah mulai membuka percakapan tentang sesuatu yang mungkin sudah saatnya dibagi yang kadang diantaranya berisi kenyataan yang nggak ingin didengar setiap anak didunia ini. Bagian tersulitnya adalah menyadari bahwa kadang ada sesuatu yang berat yang harus mereka hadapi tanpa kita tahu. Dan sepertinya seluruh orang tua dibumi bakal gitu, nggak mau memberatkan setiap anaknya. Dan jangan-jangan masih banyak hal yang belum kita tahu dan sebenarnya mereka sedang butuh dukungan.

Kalau udah kaya gini nggak ada lagi yang bisa dilakukan selain coba mindful dan  take a break for a moment, karena kalau nggak gitu bisa salah langkah dan merugikan diri sendiri juga. Coba direnungi kembali posisi dan fungsi ujian dalam hidup itu gimana, coba husnudzon dengan Tuhan apa maksud ketika ngasih cobaan ke manusia dan sebagainya. intinya sih nggak boleh kegabah kebawa emosi terus nyalahin Tuhan karena merasa hidupnya paling menderita, berpikir semesta nggak adil, atau mungkin denial dengan mempertanyakan mengapa harus aku?.

Kalau bagiku pribadi sih mendingan banget efeknya, kerasa banget sebelum dan sesudah belajar mindful. Jadi ketika ada sesuatu yang nggak mengenakkan yang terjadi nggak langsung merespon, tapi coba istirahat dulu, Tarik nafas panjang dan coba berpikir ulang bagaimana respon yang harus diambil dengan menempatkan bagian-bagian mana yang bisa atau dibawah kendali diri. Yaa masih tahap belajar sii, masih matiran. Tapi efek lebih tenangnya udah kerasa. Untuk sebagian orang mungkin nggak mudah, lagi kalang kabut karena terjadi sesuatu boro-boro bisa mikir kesana, kelamaaaaan. Menjadi bijak khusunya pada diri impact nya ngga main-main, makanya berat dilakuin. Yang nggak kalah penting adalah dengan siapa kita berbagi (cerita). menjadi dewasa berarti harus lebih selektif memilih dengan siapa kita ingin didengar, yang denganya kita nggak akan disalah-salahin, dikata-katain, dianggap lemah dan lain sebagainya. Dalam beberapa kasus, berbagi bukan dengan orang yang tepat justru bisa menjadi boomerang bagi diri sendiri, bahkan memperparah keadaan.

Untuk yang sedang belajar dewasa diluar sana, semua ini alamiah dan bisa terjadi pada siapaun dengan wujud konflik yang berbeda. yang perlu diingat, kamu nggak sendirian. Coba istirahat sejenak untuk merenungi apapun yang lagi diadepin untuk menentukan kemudian bagaimana merespon semuanya dengan bijak. Tuhan pasti bertanggung jawab, menciptakan ujian dalam hidup berarti siap mengabulkan rentetan doa-doa untuk menguatkan bahu dan meluaskan sabar dalam hati setiap manusia yang menghadapinya.

Salam….

 

Sabtu, 14 Agustus 2021

Bu guru seumur jagung

 

Seisi dunia juga tau, ngga ada yang sempurna di dunia ini. Kalo kata motivator-motivator di tv dan youtube kan justru kesempurnaan akan ditemukan dalam ketidaksempurnaan yang diterima dengan sempurna.

Jadi gini. Sedikit berbeda dari tulisan-tulisan sebelumnya yang kebanyakan berisi tentang journey of understanding myself. Tulisan kali ini lebih ke cari tau apa hal ini adalah perasaan yang wajar atau tidak, dan mudah-mudahan Setelah ini bisa nemu titik terang yang sedikit menenangkan entah lewat makhluk yang ternyata sama rasa atau mereka yang jam terbangnya udah tinggi ngadepin fase recehan begini.

Merasa selalu kurang dalam menjalankan amanah dalam hal profesi mungkin adalah perasaan yang wajar, tapi kalo berujung overthinking apa masih bisa dikatakan wajar?. Jadi bu guru misalnya, pertanyaan ‘apa yang disampaikan ke anak-anak udah sesuai?’ ‘cara menyampaikanya apa udah tepat?’ ‘Kok mereka ngga mau dengerin ya?’ ‘Kok mereka ngga mau nurut dan malah seenaknya sendiri ya?’ ‘Gimana kalo dalam jangka waktu sekian minggu, bulan bahkan tahun mereka tetep belum ngerti?’ Apa masih pantes jadi bu guru?. Perasaan-perasaan insecure tersebut makin diperkuat saat ketemu anak-anak yang ‘’kelihatanya” lebih tau dari guru nya. Belum lagi kalau ada trouble dan kekeliruan kenapa pasti yang di sorot dan dipertanyakan pasti Cuma gurunya? Padahal dalam proses pendidikan anak juga melibatkan banyak pihak seperti guru, siswa, orang tua, lingkungan, pengalaman anak dan pola asuh orang tua juga masuk didalamnya. Lagian guru juga manusia kali yaa, sangat wajar jika melakukan kekeliruan. Ia sama-sama sedang belajar menjalankan peran barunya. Menjadi guru seolah harus sempurna, selalu benar dan nggak boleh salah dengan dalih harusnya guru kan serba tau. Haha lucu kadang, kita juga bukan malaikat lho yaa. Tapi ini juga bukan pembenaran untuk temen-temen guru enjoy-enjoy aja ketika melakukan kekeliruan, karena keliru dikit aja juga bisa fatal akibatnya.

Gini yaa, sebagai guru juga ternyata PR nya banyak banget. ngga cukup harus menguasai bidang spesifik yang diajarkan. Lebih jauh kita juga harus paham masa tumbuh kembang anak sesuai usia nya,  harus belajar lagi bagaimana peran guru, siswa dan orang tua pada jenjang tertentu, sehingga kita tau betul apa yang sedang anak butuhkan, batas capaian pengetahuanya sehingga kita bisa menyampaikanya dengan tepat. Mengapa itu penting? Karena belajar ngga berhenti sebatas menyampaikan dan menyambung pengetahuan guru ke siswa. Tapi ada jiwa yang harus tumbuh, ada empati dan kemandirian yang harus terbentuk secara bersamaan didalamnya. Mengetahui begitu kompleksnya hal tersebut, sangat diperlukan kerja sama dan support yang baik antar guru, siswa maupun orang tua. Karena menyekolahkan anak menurutku bukan berarti menyerahkan tanggung jawab pendidikan anak 100% ke guru nya. Tetapi orang tua juga berperan besar di dalamnya. Lagi-lagi komunikasi guru dan orang tua jadi kuncinya. Ngga sedikit orang tua yang complain ke guru nya karena udah sekian purnama belajar kok anaknya belum bisa ini belum bisa itu. Banyak dari mereka yang menaruh ekspekstasi tinggi ke anaknya, padahal emang belum saatnya anaknya bisa ini dan bisa itu, capaian perkembangan pengetahuannya emang belum bisa sampe situ kalau dilihat dari usia dan stimulasi yang ia dapatkan dari kecil. Nah banyak banget kan PR nya kita, mari sama-sama belajar sama-sama menyadari peran diri. Karena menghakimi satu pihak bukanlah solusi.

Bagaimanapun proses didalamnya, tujuan kita sama. Insya allah dan mudah-mudahan niat dan tujuanya baik dan bener on the right path ya hehe.

Salam…

  

Minggu, 08 Agustus 2021

about future

 

Ketika kita memikirkan masa depan ataupun sesuatu didepan yang belum terjadi, secara nggak sadar kita sudah menggunakan separuh energi kita untuk memikirkan itu semua. Sehingga kadang nggak menikmati dan gagal mengambil pelajaran apa yang sedang dikerjakan hari ini. Coba tanyakan pada diri, apa jadinya jika hari-hari yang dilalui hanya dikuras untuk memikirkan bagaimana hari esok? Yang ada pusing doang, apa yang kita adepin hari ini pun jadi nggak maksimal. Tapi bukan berarti ngga boleh punya mimpi atau merencanakan masa depan . Punya mimpi itu bagus biar kedepannya hidup terlihat lebih jelas. Dan  Yaaaa nggak tau sih, ini Cuma sudut pandang manusia yang nggak punya ambisi, ditanya mimpinya dimasa depan pun nggak tau. Yaa ada sih punya mimpi banyak, tapi harusnya berbanding lurus dengan usaha. Tapi ini ogut nggak ngerti, apa yang harus dilakukam dengan mimpi itu haha. Salut sama orang-orang diluar sana yang berhasil menjabarkan mimpi lengkap dengan usaha-usaha nya.

Untuk sekarang lagi coba kurangi mengkhawatirkan hari esok,termasuk perihal mimpi dan masa depan. serah deh Tuhan mau bawa kemana. Penasaran sama kejutan-kejutan nggak terduga yang bakal dateng, apakah tangis atau tawa. Nggak mau mikir kejauhan gimana ngadepin hari esok dan hari-hari selanjutnya. Cukup hari ini semoga lebih maksimal dari hari kemarin, terus benahi diri dalam segala aspek disetiap hari baru,dikit-dikit. Dan semoga bisa jadi lebih manfaat disetiap pijakan langkah kaki. Udah gitu aja buat sekarang-sekarang. Barangkali suatu saat muncul ambisi yang lebih yaa gatau. Mulai sekarang jadi pengen beres-beres diri dulu aja, benahin mindset, belajar mengontrol diri, gimana ngatur hubungan vertikal dengan Tuhan dan horizontal dengan manusia lain. Karena hidup mau cari apa kalau bukan tenang?. Tapi bukan berarti nggak punya semangat hidup  dan pasrah gitu aja sama keadaan. Justru dengan coba upgrade diri, semoga apapun yang akan terjadi kita bisa kontrol diri buat ngadepin  itu semua, nggak mudah diombang ambingkan sama hidup. Kita tau apa yang bisa kita lakukan, dan apa-apa yang kita ngga bisa kita intervensi di dalamnya.

Buat kamu juga yang masih bingung kalau ditanya mimpinya apa gatau, atau mungkin  insecure liat track hidup maudy ayunda dengan sejuta prestasinya, terus gelagapan dan berasumsi bahwa kamu itu cuma butiran debu trotoar, plis buat jadi bermanfaat juga pola nya ngga harus sama plek kaya beliau.Gada yang nyuruh juga bandingin hidup dengan orang lain. Semua punya cara aktualisasi diri masing-masing. Kata maudy juga kan knowing yourself, dan cuma kamu yang bener-bener paham sama dirimu sendiri. Maunya apa, value yang dipegang apa dan sebagainya. Aku juga sama, liat maudy sebagai sosok yang hampir sempurna, manusia nggak punya rasa males haha. Hmm, boleh kita liat kesuksesan orang lain, tapi tidak lantas jadi alat buat menilai rendah diri sendiri. Kalau kata gus romzi kita ngga boleh under rate atau menilai diri terlalu rendah, pun ngga boleh over rate, menilai diri terlalu tinggi. Coba nilai diri dengan sedang-sedang saja. Setiap orang itu awesome, tinggal cari tau aja sebelah mana terus kembangin dah. Jangan sampe udah jauh-jauh lari tapi nggak tau apa yang dikejar dan untuk apa.kan serem. Jangan melestarikan budaya ikut-ikutan, orang berhasil capai ini ikutan, capai itu ikutan tanpa tau apa kemauan, kebutuhan dan kapasitas diri sebenernya.Boleh aja kita jadikan mereka role model, but just be the best version of you yaaa.

Hey ini kenapa jadi kemana-kemana ngobrolnya wkwk, intinya buat yang lagi overthinking mikirin gimana hari esok, plis jangan kejauhan. Ada senang yang kamu lewatkan hari ini. Masa depan ngga se-menyeramkan apa yang ada dipikiranmu.Dunia nyata ngga sehoror apa yang ada dalam isi kepalamu.All is well

Salam..

Sabtu, 31 Juli 2021

Jeda

Ada masanya diri sendiri ngrasa sedang sangat baik-baik aja. Puas banget sama apa yang diri sendiri punya dan puas atas segala sesuatu yang udah (mampu) di lakukan, bukan karena kesempurnaan atau apa, melainkan saat itu juga diri sepenuhnya menerima semua kekurangan, memaafkan segala sesuatu yang belum bisa dilakukan/dicapai. Sadar penuh atas apa yang sedang di usahakan, sadar penuh untuk apa sesuatu yang sedang dikejar. Sadar penuh atas apa-apa yang melekat pada diri ngga butuh validasi orang lain. Kelebihan yang ada ngga haus akan pujian, pun kekurangan yang ada ngga ciut dengan komentar manusia lain. Semua itu ngga memberi pengaruh apapun ketika kita sendiri udah selesai dengan itu semua. Karena kelebihan dan kekurangan diri sudah seharusnya jalan beriringan.

Haha kirain perasaan itu akan selamanya bertahan, ternyata kebiasaan bandingin hidup akan tetap muncul dalam situasi-situasi tertentu. Jangan bandingin hidup sendiri dengan orang lain ternyata nggak semudah kita nulis di status atau di kolom komentar. Perasaan diri sendiri tak lebih baik dari orang lain hadir kembali. Perasaan diri tak lebih sukses dari orang lain menyusul dibelakangnya. Bahkan perasaan diri ngga berguna dan  semua yang sudah di usahakan dan perjuangkan terlihat sia-sia juga kerap ikut-ikutan meneror.Semuanya seperti lingkaran setan yang ngga putus-putus. Kadang cape juga si punya perasaan gitu, udah ngerasa well eh down lagi, well..down lagi, gitu terus. Tapi yaaa begitulah hidup, wajar naik turun.

Tapi kali ini aku coba memaknainya beda, ketika lagi banding-bandingin hidup dengan orang lain, lagi insecure adalah kondisi yang aku artikan sebagai sinyal bahwa kita lagi ngga sadar secara penuh. Makanya yang tepat dilakukan pas down lagi tu yaa ambil jeda. Tinggalin dulu semua aktivitas yang sedang dilakukan, atau boleh break dulu kerjaanya bentar kalau memungkinkan. Value dan prinsip hidup bisa jadi muara reflesksi. Emang paling bener tu ya harus sadar. Sadar emosi apa yang lagi dirasa, sadar kita nglakuin ini semua untuk apa, sadar kita lagi bandingin hidup dengan orang lain, pokonya harus sadar sama apa yang kita kejar. Kita tu bukan lagi kompetisi, tapi kebermaknaan hidup yang lagi di cari. Coba lihat lagi niat awal, kalau apa yang sedang kita lakukan, kita usahakan ternyata niatnya udah melenceng berarti kudu di lempengin lagi. Tajdidatun niat atau perbarui niat tu emang perlu terus dilakukan katanya. Niat awal udah bener, belum tentu ditengah jalan masih lempeng. Niat awal sekolah buat cari ilmu, tapi ditengah jalan bisa berubah niat jadi ingin saingan dan ajang pembuktian diri ke orang lain karena liat teman lain berprestasi misalnya. Dan masih banyak lagi peluang bandingin di ranah sosial ekonomi bahkan relasi.

Jadi inget percakapan dengan salah seorang psikolog pas konseling kemarin. Sebenernya kita tu nggak adil ketika menjadikan orang lain sebagai objek untuk membandingkan hidup kita. Karena latar belakang dan segala kondisi yang kita alami juga beda, jadi ngga fair kalau mau bandingin hidup kita dengan orang lain. Kalau mau bandingin hidup ya jadikan diri kita sendiri sebagai objek perbandingan tersebut. Maksudnya kalau mau bandingin hidup coba bandingin hidup kita yang sekarang dengan yang dulu, itu baru adil. Apakah sekarang kita udah lebih baik dibanding yang dulu? Apakah udah ada progress meski sedikit? Misal dulu kita belum tau ini sekarang udah tau, dll. Kita punya parameter nya masing-masing. Kayanya perbandingan gitu yang justru membangun. Kalu bandingin hidup dengan orang lain malah jatuhnya insecure nggak sih? Kalian suka gitu juga nggak? Hehe. Lagian kasian juga sih kalau kita terus-terusan men-judge diri kita kurang kurang kurang terus. Iya yang namanya manusia memang banyak kekurangan, namun kekurangan yang ada bukan untuk di kata-katain bukan untuk dihindari dan diusir-usir pergi, tapi untuk ditemani dan diterima keberadaanya. Emang prakteknya ngga mudah, mumpung lagi sadar makanya coba aku tulis. Agar sewaktu-waktu kalau down, tulisan ini bisa dibaca kembali jadi teman refleksi biar down nya ngga berlarut-larut.

Selamat refleksi, selamat menemukan bagian-bagian dalam diri yang ternyata menguatkan dan membuatmu lebih berdaya.

Salam..

Minggu, 25 Juli 2021

Memaafkan

 

memaafkan adalah mengambil pisau dari hatimu dan tidak menggunakanya untuk melukai orang lain, ngga peduli segimanapun mereka melukai dirimu. sayangnya itu bukan aku. 

Dulu, aku adalah manusia yang agak susah, eh lama untuk memaafkan kesalahan orang lain. Rasanya langsung memaafkan orang lain ketika berbuat kesalahan adalah keputusan yang nggak bijak samasekali, iyalah enak aja. Sesorang sudah melakukan kesalahan dalam hidup kita masa di maafin gitu aja, yang ada di pikiranku Cuma biarin aja biar dia merasa bersalah atas perilaku mapun perkataanya yang sudah menyakiti sesamanya. Dengan membuat ia terus merasa bersalah rasanya ada kepuasan tersendiri. Karena aku rasa setiap ada kekeliruan yang orang lain perbuat ke kita yaa semua kesalahan ada pada dia, dan kita adalah pihak yang dirugikan. Parah emang ego nya gede banget.

Tapi sekarang rasanya udah capek, sepertinya dulu aku gagal melihat permasalahan dari berbagai sudut pandang. Aku hanya melihat kesalahan dari satu sisi, yaitu dari si pelaku kesalahan tersebut. Harusnya bisa lebih bijak, bisa jadi karena aku juga menaruh ekspektasi yang terlalu tinggi, atau mungkin yang nglakuin kesalahan juga ngga sengaja bahkan terpaksa. Saat itu aku juga belum ngerti kalau ngga semua yang ada di dunia ini bisa kita kendalikan termasuk perilaku dan perspektif orang lain terhadap kita. Kita ngga bisa ngatur sikap atau perilaku seseorang untuk harus selalu baik ke kita, kita Cuma punya kendali buat merespon itu semua sebijak mungkin. Selain itu aku pun belum bisa menerima kalau jangan-jangan aku juga bersalah dalam kekeliruan tersebut. Sulit sekali rasanya mengakui kalau aku juga berpeluang melakukan kesalahan.

Sampai suatu hari ngga sengaja liat live ig dari salah seorang psikolog yang mengatakan bahwa memaafkan itu sebenernya bukan tentang membebaskan pelaku kesalahan terbebas dari kesalahanya, melainkan membebaskan diri sendiri dari emosi negative yang ada pada diri sendiri. Masuk akal sih sebenernya, ngerti kan gimana sih rasanya kalau lagi sebel sama orang karena mereka punya ‘kesalahn’, rasanya ada emosi, kesel, sakit hati dll, emosi negative semua pokonya hati isinya. Tapi memang susah diawal untuk diterima, namun lama-lama sadar juga (dikit). Dengan dalih oh iya ya rasanya kasian juga sama hati dan pikiran sendiri kalau isinya negative semua, ngga mau dong.

Sampe ahirnya mau coba meski berat. Sekarang yang jadi fokus bukan mengingat kesalahan mereka, tapi lebih ke mengurangi emosi-emosi negative yang ada dalam diri sendiri. Lebih jauh lagi ternyata memaafkan bukan tentang berdamai dengan orang lain, tapi bagaimana berdamai dengan diri sendiri untuk tidak terus membiarkan emosi negative itu ada. Ngga terus-terusan ngasih makan ego. Lalu bagaimana dengan kesalahan yang orang lain udah perbuat?  Yaudah lah yaaa, biar jadi urusan dia dengan dirinya sendiri. Dan sekarang sebenernya aga kasian ketika masih ada orang yang melukai orang lain, karena bisa jadi karena mereka yang melukai justru sedang terluka. Karena mereka belum bisa damai dan menerima luka tersebut, makanya di beberapa kasus justru melampiaskan lukanya untuk melukai orang lain. Karena rasanya ketika mereka sedang tidak bahagia, orang lain pun ngga boleh bahagia. Ini bukan teori, Cuma kebetulan sekilas pernah baca kurang lebih gitu isinya. Dan yang kebetulan baca ini juga ngga harus setuju, semua orang punya journey nya sendiri-sendiri dalam memaafkan baik dengan dirinya sendiri aupun orang lain hehe. Selamat merayakan damai dengan diri sendiri J

Salam,,,

 

 

Minggu, 18 Juli 2021

Belajar yakin

Kalo ditakar pake akal manusia, harusnya sulitku sudah bertemu dengan mudahnya, sedihku sudah bertemu dengan bahagianya, pahitku sudah bertemu dengan manisnya. Karena katanya bersama kesulitan ada kemudahan, setelah duka yang berkepanjangan ada bahagia tak terkira, setelah penantian panjang ada puncak pertemuan yang manis wkwk.  Tapi kenapa kok kayanya pahit terus yaa, masalah kok ngga kelar-kelar, harus sabar terus sampe kapan ? Sebagian dari kita mungkin pernah berfikir demikian, termasuk aku sendiri. Namun begitulah keterbatasan akal, ia hanya mampu menjangkau hal-hal yang rasional alias masuk akal. Lalu kalau udah gitu harus gimana?

Begini katanya, apabila dilihat dari sudut pandang agama (islam), eh mau disclaimer dulu, karena yang nulis bukan ahlinya jadi ingetin kalau ada yang keliru hehe. Lanjut, ngga semua kejadian dan fakta bisa diterima dengan akal, adakalanya harus diterima dengan hati (iman) atau keyakinan bahwa selalu ada kebaikan Tuhan dalam setiap ritme kehidupan yang terjadi. Kita coba ambil contoh paling sederhana, dalam banyak kasus ada yang merasa sudah doa dan berusaha dengan maksimal, tapi hasilnya kok ngga sesuai harapan? Justru yang terjadi malah sebaliknya. Kalau udah gitu masa mau nyalahin keadaan, apalagi nyalahin Tuhan kan ngga mungkin. Memang ngga mudah, makanya perlu latihan. Harus tetep yakin ada kebaikan dalam setiap hal yang ngga mengenakkan itu agak sulit diawal, karena rada abstrak gitu. Bayangin aja, lagi sedih-sedihnya, lagi kesel-keselnya tapi tetep harus yakin pasti ada kebaikan Tuhan didalamnya. Kan perlu sabar ngga tuh?. yaudah Tarik nafas dulu, biar tenang hehe.

Kita kembalikan lagi pada konsep Tuhan pasti menginginkan yang terbaik bagi makhluknya, meski kadang disampaikan melalui sesuatu yang menurut manusia ngga enak, pahit. Entah lewat sakit, kehilangan, tiba-tiba dirumahkan dari pekerjaan dan sebagainya. Kadang bungkusnya doang jelek isinya mah bagus. Ngga akan ada kehilangan melainkan menjadikan kekuatan dan dapat banyak pelajaran berharga setelahnya. Lewat patah hati juga gitu, ada pesan kemandirian, kekuatan untuk bangkit dan kehati-hatian dalam memilih terbungkus didalamnya, katanya sih gitu wkwk. Itu Cuma sebagian contoh, masih banyak banget kejadian serupa yang mungkin dialami temen-temen.

Dan ternyata, menurutku ini semua selaras dengan ajaran dalam filsafat stoa yang lahir ribuan tahun lalu tentang dikotomi kendali. Maksudnya bahwa dalam hidup ada sebagian hal yang dibawah kendali kita, dan sebagian lagi bukan dibawah kendali kita alias kita ngga bisa ngendaliin itu semua untuk terjadi sesuai keinginan kita. Dalam filsafat tersebut dikatakan bahwa yang berada dalam kendali kita hanyalah pikiran kita, tindakan dan perspektif kita, dan sisanya bukan dibawah kendali kita. Sebenernya aga panjang penjelasanya, semoga ada kesempatan buat membahas nya secara terpisah. Berkaitan dengan hal diatas, hidup yang sedang kita jalani sekarang ngga semuanya bisa kita atur harus terjadi sesuai apa yang kita inginkan, ada intervensi Tuhan dan makhluk lain didalamnya. Oleh karena itu bisa dikatakan semua yang terjadi bukan dibawah kendali kita, jadi ngga bisa tuh sebenernya kita balik menyalahkan apa atau siapa ketika semuanya terjadi ngga sesuai keinginan. Tapi kita punya persepsi yang jelas-jelas dibawah kendali kita untuk bagaimana merespon semua hal yang terjadi. Emosi yang timbul kemudian tergantung bagaimana kita menanggapi sebuah kejadian, bisa aja ketika kita gagal kita akan berfikir bahwa semua kesalahan ada pada diri sendiri, mungkin karena aku kurang ini kurang itu dan lain sebagainya sehingga emosi yang timbul pun jadi down berkepajangan. Lain hal ketika kita menyadari bahwa kegagalan dan keberhasilan ngga sepenhnya dibawah kendali kita, ada banyak makhluk yang andil yang dapat mempengaruhinya. Sehingga ketika kita gagal, kita sadar bahwa bukan sepenuhnya kesalahan ada dalam diri kita. Emosi yang dihasilkan pun jauh lebih positif.

Kurang lebih si gitu, yaaa semoga aja kita bisa senantiasa melihat kebaikan dan kasih sayang Tuhan dalam kejadian maupun fakta segetir apapun itu, dan bisa lebih jeli melihat apa yang bisa dan tidak bisa kita kendalikan demi menjadi dewasa yang lebih waras dan santuy, hehe

Salam…   

 

Jumat, 09 Juli 2021

Definisi bahagia

 Mungkin ini receh, klise. Mendengar kata bahagia aja kadang yang terbersit ‘ah apaansi, basi’. Tapi pernah ngga si bertanya sama diri sendiri ketika orang-orang berbondong-bondong mencari kebahagiaan hidup, mencari kebahagiaan sejati, dan bagi mereka yang ditanya apa sih yang dicari dalam hidup? kemudian menjawab ‘kebahagiaan’. Atau mungkin yang sering baca atau nulis ‘jangan lupa bahagiaaaa’. Sebenernya bahagia itu makhluk apa? Apa ada wujudnya? Bentuknya gimana? Dan apakah bahagia bisa dan harus dicari?.

Menurut KBBI atau kamus besar Bahasa Indonesia, bahagia diartikan sebagai  keadaan atau perasaan senang dan tentram (bebas dari segala yang menyusahkan). Menyusahkan disini kondisonal sih menurutku, karena setiap orang akan berbeda dalam mendefinisikanya, dan it’s okay. Kalau kata om herry dalam bukunya ‘filosofi teras’, bahagia bisa diartikan ketika kita bisa bebas dari emosi-emosi negative seperti marah, sedih, kesal, susah, iri dll, atau mungkin juga bisa diartikan ketika kita bisa damai sama hidup apapun yang sedang menimpa dan dialaminya, sehingga bisa menimbulkan ketenangan. 

Lalu dari mana datangnya bahagia? Perlu dicari atau sebenernya udah ada? Apa saja yang bisa mempengaruhi kebahagiaan seseorang?. Sejauh ini ada beberapa pendapat yang masih aga nyangkol dikepala entah yang keetulan baca atau nonton influencer andalan di youtube haha. Pendapat pertama yang ngga sengaja baca dari buku ‘The labyrinth’ yang ditulis oleh syarifah muda, ia mengatakan bahwa sebenernya kebahagiaan itu ada di dekat kita, ia ngga pernah pergi jauh-jauh dari kita. Kebahagiaan bukanlah sesuatu yang jauh sehingga harus dicari dan di kejar. Dalam praktiknya, karena kita terlalu terpaku, terobsesi mencari kebahagiaan , sehingga kita lupa kalau kita punya kebahagiaan itu namun tidak kita sadari. Sebagai contoh mulai dari hal kecil seperti melihat orang tua yang kita sayang tersenyum, dikelilingi oran-orang baik, bisa tidur nyenyak, makan bakso abis ujan-ujanan, nemu buku bagus dll. Itu semua kebahagiaan, akan tetapi sering luput dari pikiran.

Pendapat kedua dari seorang influencer dan content creator andalan sejagat raya wkwk, sebut nama jangan? Beberapa dari kalian mungkin sudah bisa nebak, sempat beberapa kali juga aku posting. Sebenernya bukan ke definisi bahagia sih, lebih ke ada beberapa hal atau aktivitas atau guide buat bahagia itu bisa timbul kali yaaaa. Dalam videonya ada 16 hal yang bisa bantu bisa bikin kita bahagia. Well, mungkin ngga akan disebutkan juga semuanya disini, kalian bisa pelajari dan tonton sendiri nanti hehe. Yang paling aku inget dan aku garis bawahi sih perihal men-upgrade dan mengembangkan diri bisa bikin kita bahagia. Entah mengembangkan diri dalam hal ilmu, sikap, cara berfikir dll yang bisa kita peroleh dengan membaca, nonton, coba jadi lebih disiplin dll. Dengan melakukan ha-hal tersebut setidaknya kita coba buat perbaiki dan mengembangkan diri kita menjadi lebih baik. Terlepas dari hasilnya gimana juga yang penting udah coba buat perbaiki. Nah dari situ kita bisa ngrasain happy, hal-hal yang tadinya kita ngga tau karena cari tau jadi ngerti dan sebagainya. Kalu udah gitu siapa sih yang ngga seneng?. Tapi ya itu Cuma satu, masih ada 15 hal lagi yang bisa kalian coba dan kali aja cocok hehe, selamat menonton.

Pendapat terahir yaitu dari ajaran-ajaran filsafat yunani-romawi kuno atau biasa di sebut dengan filsafat stoa yang berhasil ditulis dan disampaikan dengan ringan dan mengasyikan oleh penulis bernama Henry Manampiring dalam sebuah judul ‘Filosofi Teras’. Untuk kali ini mungkin lebih ke mengatur mindset tentang bahagia itu tadi. Dan bisa dibilang ini adalah salah buku favorit sepanjang hidup sih, bener-bener bantu ngatur mindset biar aga waras ngadepin hidup, mengurangi emosi-emosi negatif dan rekomendasi banget deh buat seluruh makhluk jagat raya di bumi haha. Untuk sekilas definisi kebahagiaan menurut beliau sudah disampaikan diawal. Selanjutnya, dalam buku ini dijelaskan bahwa ngga rasional ketika meletakkan kebahagiaan pada apa-apa yang bersifat fana, yang kapanpun bisa direnggut dari diri kita. Masa bahagia kita bergantung pada sesuatu yang berada diluar diri kita sendiri?.

Dalam buku ini dicontohkan mengenai benda atau apapun yang bikin kita bahagia, oke lah kita bisa kok enjoy sama hal-hal duniawi, silahkan menikmati rezeki yang sudah didapatkan, tetapi selalu mengingatkan diri sendiri untuk tidak bergantung padanya dan melihatnya dengan apa adanya. Kita senang punya pekerjaan bagus, smarthphone mahal, terlahir cantik/ganteng, bisnis sukses, punya suami ganteng/istri cantik, punya sahabt, anak/orang tua yang baik dll. Syukurlah semua itu ada, tapi jangan lupa ingatkan diri kita bahwa sesungguhnya itu semua hanyalah sebuah ‘pekerjaan’ hanya sebuah “smarthphone” hanya sebuah “keberuntungan fisik” hanya seorang cowo ganteng/cewek cantik-dan bahwa itu semua bisa hilang sewaktu-waktu karena tidak (sepenuhnya) dibawah kendali kita dan bahwa kita MAMPU merasa tenang/bahagia tanpa itu semua. Ini bukan berarti ngga bersyukur yaa, itu beda kasus. Bisa dibahas dilain waktu kalau sempat. Memang ini ngga mudah sih, perlu latihan mulai dari hal terkecil.

Okeh, kok jadi apanjang begini haha. Initinya sih gaada yang salah dari ketiga prespektif diatas. Semuanya bener, semuanya baik sebagai usaha menemui bahagianya masing-masing. Mungkin aku bisa sedikit menyimpulkan bahwa kalau ngomongin bahagia sebenernya sangat relative, nggabisa dipukul rata hars begini atau begitu. Semua orang bisa dan berhak mendefinisikan bahagianya masing-masing, dan it’s okay ketika masing-masing dari kita punya standar bahagia yang berbeda. yang penting menurutku, untuk jadi bahagia kita harus sebegitunya bahkan sampai harus menyusahkan diri sendiri dengan standar-standar bahagia yang terlalu tinggi dan ngga rasional, jangan sampai kita kehilangan sesuatu dulu baru sadar bahwa ada bahagia-bahagia kecil yang tidak kita sadari dan lupa kita syukuri. Udah si gitu ajaa, mari definisikan bahagia kita masing-masing, jangan biarkan orang lain yang mendikte kebahagiaan kita. Karena rasanya mustahil bisa memberi bahagia yang tulus ke orang lain jika belum selesai dengan bahagia kita sendiri.

Salam…

 

Memaafkan

Setiap orang pasti memiliki cerita dan proses untuk memaafkan. Baik memaafkan keadaan, memaafkan seseorang, dirinya sendiri dan lain sebagai...