Senin, 04 Januari 2021

Tentang Luka

Manusia yang tak mempunyai luka adalah manusia tanpa cerita, katanya. Setuju juga sih, meski ngga semua cerita berasal dari sebuah luka, seperti cerita tentang pencapaian sesuatu misalnya, eh tapi untuk sampai pada suatu pencapaian juga kadang banyak luka didalamnya, jadi bingung. Tapi memang sumber cerita dari sebuah luka lebih banyak meninggalkan jejak pelajaran untuk kita sebagai manusia (kalau kita nya mau belajar) entah dalam proses pendewasaan, kebijaksanaan bersikap maupun yang lainya. By the way ini lagi ujan gede banget petir kemana-mana, seolah sama rasa dengan apa yang sedang ku tulis atau jangan-jangan langit pun sedang tidak baik-baik saja ;(

Bukan hanya luka yang berasal dari sebuah relasi antar pasangan, namun semua luka yang berasal dari relasi dengan keluarga, sahabat, rekan kerja, bahkan dengan mereka yang sama sekali tidak mengenal kita sepenuhnya. Karena tidak jarang mereka yang sama sekali tidak tau kehidupan kita pun bisa  menoreh luka dengan berbagai macam justifikasi tanpa klarifikasi dan seolah punya otoritas atas kehidupan kita. Jadi gimana? Apa harus kita balas dengan luka yang setara? Jawabanya tidak! Membalas luka sama sekali tidak ada keuntungan sedikitpun. Menurutku setiap luka didatangkan bukan untuk dibalas apalagi hanya bertujuan menyiksa pemeliknya, akan tetapi ia didatangkan untuk diterima, kemudian dipelajari.

 Selain itu, dengan merasa terluka adalah sebagai tanda bahwa kita hanyalah seorang manusia yang tidak apa-apa lhoo meminta bantuan ketika sedang tidak baik-baik saja, tidak apa-apa lhoo mengakui bahwa kita sedang tidak baik-baik saja, kita butuh bantuan, kita butuh ditemani dan lain sebagainya. Karena memang tidak sedikit dari mereka yang enggan meminta bantuan, enggan mengakui bahwa dirinya sedang down, enggan mengakui sebenernya ia sedang butuh orang lain meski hanya sebatas mendengarkan apa yang sedang dirasakan hanya karena takut dibilang lemah lah baperan lah drama lah. Padahal bukankah perasaan sedih, luka, marah, khawatir adalah perasaan lazim dan bagian dari manusia itu sendiri,? sama hal nya seperti perasaan sabar, senang, bahagia. Entah dari mana awalnya, sepertinya kita sudah terlanjur menerima pengetahuan bahwa emosi seperti sabar, ikhlas, penyayang adalah emosi-emosi baik dan positif, adapun sebaliknya seperti marah, sedih, adalah emosi yang buruk sehingga ada saja dari mereka yang enggan mempunyai, mengakui emosi tersebut baik karena sudah tertanam mindset bahwa marah, sedih, itu buruk maupun hanya karena takut dicibir oleh sesamanya.

Perihal bagaimana mengatur dalam meluapkan emosi tersebut itu beda kasus. Yang penting berilah afirmasi bahwa ngga papa untuk merasa tidak baik-baik saja, ndapapa untuk sesekali sedih, marah karena sesuatu yang menimpa, asal proporsional dan sesuai pada tempatnya. Ketika luka itu datang, terima, rasakan, akui bahwa oke kita sedang tidak baik-baik saja, ndapapa untuk sementara perlu space untuk menyendiri, refleksi jika itu diperlukan. Ingat, sedih, marah, menangis bukan tanda bahwa kita lemah tapi tanda kita adalah manusia lengkap dengan berbagai emosi yang melekat padanya

Kamis, 08 Oktober 2020

Mungkin kita hanya perlu mendengar

 “Mendengarlah untuk mengerti dan memahami, bukan untuk menghakimi atau menimpali”. Salah satu ungkapan yang agak menggelitik nurani. Ditengah riuhnya dunia yang dimana banyak dari mereka berebut ingin berbicara dan didengar, kemauan dan kemampuan mendengar dengan baik menjadi hal yang istimewa, menjadi hal yang langka. Bagaimana tidak? Tidak jarang dari kita ketika mendengarkan entah sebatas pelik yang sedang dialami teman sendiri maupun ketika mendengar argument teman diskusi sekalipun, kita cenderung mendengar untuk bagaimana membalas ungkapan lawan bicara bukan mendengar untuk benar-benar memahami apa yang disampaikan.

Katakanlah ketika mendengarkan cerita orang lain, pikiran kita cenderung mengembara kemudian menganalisa dan dengan penuh percaya diri menawarkan saran atau menjelaskan presepsi kita tentang apa yang disampaikan dan lupa menanyakan pada diri sendiri apa kita sudah benar-benar memahami apa yang disampaikan? Apa memang ia betul-betul membutuhkan saran dan ingin mendengar presepsi kita? Apa itu akan membuatnya jadi lebih lega? Lebih baik? Atau justru memperparah keadaan?. Ya meski saran atau presepsi kita dirasa sudah tepat, namun terkadang sebagian dari kita berani mengungkapkan sesuatu kepada orang lain tidak selamanya ingin mendapat saran, diarahkan kesana kemari, apalagi di hakimi bahkan disalah salahkan, mereka hanya ingin di dengar tanpa dihakimi dalam bentuk apapun.

Mungkin itu jadi salah satu sebab mengapa mau dan mampu mendengarkan dengan baik disebut langka,  karena bisa berhasil memberi saran nyatanya bukan satu satunya indicator bahwa kita sudah menjadi pendengar yang baik dan mampu memahami situasi dengan baik pula. Mari mencoba mendengarkan dengan kehadiran penuh (tidak memposikan pada masa lampau maupun masa depan) mendengarkan dengan penuh kesadaran, penuh perhatian tidak ada penghakiman ketika berinteraksi dengan orang lain. Mendengarkan dengan penuh kesadaran, penuh perhatian memungkinkan memberi orang lain ruang untuk berbagi tanpa khawatir akan gangguan, timpalan, koreksi maupun saran yang tidak perlu.  Mampu memposisikan diri sebagai pendengar atau ia yang sedang berbagi dengan dengan tepat memungkinkan kita bisa memahami apa yang disampaikan orang lain sehingga dapat menumbuhkan empati tanpa justifikasi dalam diri.

Salam…

Sabtu, 12 September 2020

Bukan review


 Salah satu novel yang awalnya beli karena naksir covernya aja haha, dan ternyata isinya juga ngga kalah oke. Novel ini menceritakan tentang kehidupan, keluarga, mental illness, dan persahabatan antara tiga orang teman di fakultas psikologi yaitu, faith, saka dan fana. Faith adalah seorang laki-laki yang keras kepala namun juga mempunyai kepekaan dan kepedulian tinggi akan sekitarnya, namun karena kepedulianya tersebut faith kerap dianggap manusia yang ribet. Dibalik kepedulian faith ternyata menyimpan masa lalu dan pergolakan batin yang luar biasa yang harus ia lawan habis-habisan, karena nya ia pun harus membantu ibunya memenuhi kebutuhan keluarganya sejak smp.

Kedua adalah saka, karena orang tuanya broken home sehingga ia tinggal bersama ibu dan adiknya. Saka mempunyai watak yang sangat keras, tak jarang caranya mendidik adiknya pun keras. Dibalik sifatnya yang keras, sebenernya ia mempunyai kepedulian yang besar pada keluarganya, namun tidak tau bagaimana mengungkapkanya. Saka mempunyai kebiasaan mendaki gunung sebagai pelarian kerap kali masalah menghampirinya. Tak jarang karena sifat kerasnya ia berdebat dengan fatih perihal masalah kecil. Ketiga adalah fana, anak perempuan dari pasangan seorang psikolog dan dokter. Fana sudah terbiasa hidup serba ada sejak kecil, ia pun sangat penurut pada orang tuanya sampai perihal melanjutkan sekolah pun ia akan mengikuti kemauan orang tuanya, meski hidup fana seolah hidupnya di dikte apa kata orang tuanya, namun ia sangat menikmati itu. Fana hadir sebagai penengah ditengah kerasnya watak antara fatih dan saka, dan konon Cuma fana lah yang bisa mengimbangi dan mengerti perasaan fatih dan diam-diam ternyata memendam perasaan pada fatih.

Novelnya ngga terlau berat karena memang permasalahan yang diangkat sangat dekat dengan hidup kita namun harus jeli karena konflik ketiganya sama-sama tajam haha. Mungkin diluar sana banyak fatih, saka dan fana dalam dunia nyata. Banyak yang mengalami pergolakan batin yang luar biasa dan habis-habisan melawanya agar terlihat baik-baik saja. Peduli dibilang kepo, acuh dibilang gapunya hati, sedih dikit dibilang baperan, ah ribet pokonya. Namun pelajaran yang bisa diambil adalah peduli seperlunya, dan bertindaklah sewajarnya ditengah riuhnya social media yang makin kejam haha. Oiya ada kutipan menarik di halaman 353 “jika semua orang berusaha menjadi keras untuk mempersiapkan diri menghadapi dunia yang keras, lalu siapa yang mengajarkan kelembutan?” recommended pokonya, selamat membaca…

Salam…. 

Salah satu novel yang awalnya beli karena naksir covernya aja haha, dan ternyata isinya juga ngga kalah oke. Novel ini menceritakan tentang kehidupan, keluarga, mental illness, dan persahabatan antara tiga orang teman di fakultas psikologi yaitu, faith, saka dan fana. Faith adalah seorang laki-laki yang keras kepala namun juga mempunyai kepekaan dan kepedulian tinggi akan sekitarnya, namun karena kepedulianya tersebut faith kerap dianggap manusia yang ribet. Dibalik kepedulian faith ternyata menyimpan masa lalu dan pergolakan batin yang luar biasa yang harus ia lawan habis-habisan, karena nya ia pun harus membantu ibunya memenuhi kebutuhan keluarganya sejak smp.

Kedua adalah saka, karena orang tuanya broken home sehingga ia tinggal bersama ibu dan adiknya. Saka mempunyai watak yang sangat keras, tak jarang caranya mendidik adiknya pun keras. Dibalik sifatnya yang keras, sebenernya ia mempunyai kepedulian yang besar pada keluarganya, namun tidak tau bagaimana mengungkapkanya. Saka mempunyai kebiasaan mendaki gunung sebagai pelarian kerap kali masalah menghampirinya. Tak jarang karena sifat kerasnya ia berdebat dengan fatih perihal masalah kecil. Ketiga adalah fana, anak perempuan dari pasangan seorang psikolog dan dokter. Fana sudah terbiasa hidup serba ada sejak kecil, ia pun sangat penurut pada orang tuanya sampai perihal melanjutkan sekolah pun ia akan mengikuti kemauan orang tuanya, meski hidup fana seolah hidupnya di dikte apa kata orang tuanya, namun ia sangat menikmati itu. Fana hadir sebagai penengah ditengah kerasnya watak antara fatih dan saka, dan konon Cuma fana lah yang bisa mengimbangi dan mengerti perasaan fatih dan diam-diam ternyata memendam perasaan pada fatih.

Novelnya ngga terlau berat karena memang permasalahan yang diangkat sangat dekat dengan hidup kita namun harus jeli karena konflik ketiganya sama-sama tajam haha. Mungkin diluar sana banyak fatih, saka dan fana dalam dunia nyata. Banyak yang mengalami pergolakan batin yang luar biasa dan habis-habisan melawanya agar terlihat baik-baik saja. Peduli dibilang kepo, acuh dibilang gapunya hati, sedih dikit dibilang baperan, ah ribet pokonya. Namun pelajaran yang bisa diambil adalah peduli seperlunya, dan bertindaklah sewajarnya ditengah riuhnya social media yang makin kejam haha. Oiya ada kutipan menarik di halaman 353 “jika semua orang berusaha menjadi keras untuk mempersiapkan diri menghadapi dunia yang keras, lalu siapa yang mengajarkan kelembutan?” recommended pokonya, selamat membaca…

Salam….

Mencari

 

Sini duduk sebentar, apa sih yang dikejar? Mungkin itu yang ingin sekali diucapkan aku kepada aku yang lain kalau memang aku bisa dibagi dua haha. Barusan abis nonton video yang ya lumayan bagus buat sedikit menggelitik kesadaran diri akan sesuatu. Video tentang QLC gitu judulnya umur semakin bertambah tapi belum punya apa-apa belum jadi apa-apa, gitu kalau gasalah. Dalam video tersebut kurang lebih menceritakan bahwa ngga ada si sebenernya standar sukses di usia sekian, bahagia itu ketika umur sekian udah nikah, udah bisa ini bisa itu, punya ini punya itu. Pliss itu adalah standar-standar yang dibuat oleh dan untuk mereka sendiri jadi kita ngga usah mengadopsi apalagi terseret oleh standar-standar tersebut. Hal tersebut bukan bermaksud kemudian membuat kita pasrah dan ngga ngapa-ngapain (biasa aja ya ngga boleh ngegas bacanya), justru do’a dan kerja keras itu wajib dalam mencapai sesuatu yang diinginkan. Nah pertanyaan selanjutnya adalah apakah yang kita kejar yang kita inginkan benar-benar yang kita butuhkan? Jangan-jangan yang sedang mati-matian dikejar hanya berujung kesenangan semata. Jawabanya hanya kita masing-masing yang tau.

Menariknya lagi ketika kita sudah berdo’a dan berusaha tapi apa yang kita inginkan belum dikabulkan, sadarilah bahwa ada takdir Tuhan yang kita ngga bisa intervensi didalamnya, makanya tawakkal dalam hal ini juga diperlukan. Berbicara tentang keinginan, menurut video tersebut katanya keingininan dan kesenangan itu fana, apalagi yang berbau material, ya terdengar klise tapi ngga semua orang mau menyadari itu. Kita liat contoh bill gates yang kekayaanya nga usah dipertanyakan lagi, bisa dibilang semua yang diinginkan sudah tercapai tapi ujung-ujungnya juga bikin yayasan, membantu orang-orang yang kurang mampu, ingin bermanfaat untuk orang lain, karena mungkin bahagia bukanlah tentang apa yang sudah di dapat atau yang kita punya,tapi bahagia adalah kita dapat bermanfaat untuk sesama, bisa meringankan beban orang lain untuk kemudian bisa hidup lebih bermakna.

Tapi emang iyasi katakanlah aku lagi pengen punya A,dan ketika udah punya beneran ya udah ohh gini ternyata rasanya, jadilah biasa aja rasanya seneng awalnya doang, senengnya sesaat. Dan mungkin berlaku untuk keinginan-keinginan lain yang sejenisnya. Pernah denger juga salah seorang teraphys atau psikolog gitu yang bilang bahwa ketika kita berhasil membeli apa yang kita inginkan ada hormone bahagia yang diproduksi yang disebut dopamine, akan tetapi hanya berlaku sementara. Beda lagi ketika kita memberi kepada orang lain, ada hormone bahagia yang diprodusi disitu yang disebut serotonin dan bahagia akan bertahan lebih lama daripada dopamine, makanya bisa dijadikan terapi jika ingin bahagia salah satunya cobalah memberi atau menolong sesama, aduhh keren ya spiritual sama psikis nya dapet dua-duanya L. Jadi jauh banget gini si ngobrolnya haha, tapi ya berkaitan dengan kegalauan-kegalauan umur dua puluhan yang sudah disampaikan diawal semoga aja kita cepat menemukan definisi-definisi sekses maupun bahagia sesuai dengan versi masing masing tanpa harus mengadopsi dari standar-standar sukses maupun bahagia yang ada di society kita. Ya biar teteg, santuy aja si dan hidup nya ngga di dikte dari apa yang dilihat dari kasat mata. Perihal yang sedang dirundung keinginan-keinginan yang ngga ada ujungnya, semoga segera dimerdekakan, jika sederhana aja udah bikin tenang kenapa harus mencari lebih yang hanya nambah letih?. Susah banget emang butuh jam terbang tinggi, aku pun masi nyoba pelan-pelan. Oiya ini Cuma yang lagi ada dikepala aja, ngga harus di iyakan juga sama yang kebetulan baca, bukan juga sudut pandang karena melihat masalah ngga harus saling menyudutkan, gitu kata bung fiersa wkwk.

Salam….

Selasa, 08 September 2020

Tanda tanya

 

Apa cuma aku yang ngrasa struggle banget diusia dua puluhan ini? Rasanya pengen pergi ke bukit terus teriak sekenceng-kencengnya, Cape banget tiap hari harus berseteru dengan hati dan pikiran sendiri, pertanyaan kamu sebenernya mau kemana ? mau jadi apa? Mau cari apa? Menghantui setiap hari. Belum lagi tuntutan sebagai anak sulung perempuan yang ngga gampang membuatku kian merasa ngga berguna dengan keadaan yang gini-gini aja, belum lagi liat temen-temen yang seusia udah bisa  mandiri secara finansial misalnya, udah punya usaha sendiri dan bisa bantu orang tua. ‘Semua orang memang punya jalan hidup sendiri-sendiri, jadi jalani dan syukuri aja dulu’ statement itu sekarang lagi ngga mempan, tetep aja pertanyaan itu muncul ‘mau sampai kapan gini-gini aja?’ pokonya kerasa rumit banget seolah sedang ada di titik mengembara tapi tak kunjung menemukan titik temu.

Disisi lain kadang mikir apa ini Cuma perasaanku aja? Dan ngga Cuma aku sebenernya yang lagi ngrasain perasaan yang sama? Apa sabar dan syukurku yang kurang tebel? (Huuuhhh, Tarik nafas panjang). Apa masih terlalu dini untuk allah mengabulkan semua yang ku inginkan sehingga aku masih harus banyak mencari, banyak belajar perihal apa yang sebetulnya aku butuhkan? Ah apapun itu, yang jelas sedang ingin diyakinkan dan mungkin berkali-kali bahwa ini adalah sesuatu yang wajar. Rasanya ingin mengumpulkan makhluk-makhluk yang seusia mau aku tanyain satu-satu sebenernya kalian ngrasa sama kaya gini ngga si? Haha absurd banget emang : D . kayanya seru aja kalo dengerin cerita mereka gimana ngadepin krisis emosional ini haha. Yaudah deh semoga dikuatin, disabarin ya J semoga cepat menemukan apa yang di cari, cepat ketemu jawaban how to deal with it. Jangan lupa ucapkan terima kasih sama diri sendiri udah mau bertahan diajak rumit-rumitan ngadepin semua ini J

Salam….

Jumat, 10 Juli 2020

Membuat Keputusan


Ada yg lebih rumit dari membuat keputusan pake baju apa hari ini?. Sebuah keputusan yg mungkin akan membawa kemana dirimu, keputusan yg mungkin berpengaruh pd pilihan” yg datang selanjutnya. Apa memang begitu, makin kita dewasa makin dihadapkan dengan pilihan-pilihan yg mengerikan? Mengapa semuanya terlihat berat? Istirahat sebentar, mari menakar diri, kenali apa yg selalu bisa menghidupkan setiap langkahmu, tanpa melupakan maslahat dan mudharatnya juga tentunya. Semoga setiap pilihan yg dipilih adalah pilihan yg datang dari suara hatimu, bukan karena tekanan di sekitarmu. Lalu bagaimana dengan ‘keadaanlah yg memaksa aku harus begini’!?
Ya, memang tidak semua orang bisa merdeka dan mandiri utk membuat keputusannya sendiri, seolah ada yg mendikte entah itu keadaan atau apapun . Pada contoh kecil,   kita ingin A tp ayah ibu kenapa ngga coba B atau C aja? Dan anu bgt nya seolah olah kita harus mengiyakan😁 Bukan perkara mudah memang. Atau mungkin society kita emg gtu? Kita selamanya anak" didepan orang tua kita? Sehingga ketika ada sudut pandang yg berseberangan kitalah yg harus mengalah krn memang kita hanya seorang anak? Yaaa mungkin adakalanya memang harus coba meng-iyakan apa yg mereka inginkan, krn bisa jd kita lupa kecilin ego, ambisi, ketika menginginkan sesuatu. Toh mungkin keputusan mereka untuk kebaikan kita juga. Atau mungkin barokahnya ada disitu kan ngga ada yg tau.
Jujur kadang iri juga salut sama yang mampu yaudah coba ke B aja padahal Pengen banget ke A, pun kalau ada apa", bebanya ngga terlalu berat😁 Beda lagi sama yang diberi kesempatan untuk memutuskan hidupnya sendiri, tersirat kita harus bisa bertanggung jawab atas keputusan kita sendiri lengkap dengan resiko yg mungkin dihadapi. Pada intinya si belajar pandai" mem validasi situasi, entah coba pelan" mendiskusikan atau saatnya kita mendengarkan, tanpa mengabaikan baik buruknya jga tentunya. Plis ini bukan ceramah motivasi apalagi kamuflase pribadi😂 cuma #cuitannelly akibat dampak pandemi yang nggatau mau ngapain lagi😂
 #cuitannelly

Rabu, 06 Mei 2020

'Mari mengenal psikosomatis’

Duhh udah lama banget nih ngga nulis hehe, gimana masih betah #dirumahaja? Harus dong ya demi kebaikan bersama. memang ngga banyak yang bisa kita lakukan sekarang ini, selain berdo’a, menurut pada himbauan pemerintah untuk menjaga kebesihan, jaga jara atau physical distancing dan tentunya melakukan semua kegiatan #dirumahaja sebagai upaya pemutusan rantai penyebaran virus covid-19.
Ya, pandemic covid-19 salah satu virus yang sedang menyebar hampir di seluruh negara didunia, termasuk negara kita Indonesia. Bisa dibilang peristiwa ini merupakan satu peristiwa yang langka dan mungkin pertama kali saya alamai seumur hidup saya, atau mungkin bagi temen" juga. Virus yang berasal dari wuhan china tsb memang menyebar dg sangat cepat, bayangkan saja dalam kurun waku sekitar 2 bulan sudah tercatat sekitar 11.071 kasus per 6 mei 2020. Bukan jumlah yang sedikit yaaa :( . Biasanya yang terindikasi positiv terkena virus tersebut akan mengalami gejala seperti batuk, pilek, sesak nafas dan demam tinggi.
Menanggapi hal tersebut tidak sedikit dari kita yang merasa cemas, takut maupun panik menghadapi pandemi tersebut. Meski sudah ada himbauan dari pemerintah untuk tidak panik , tetap saja perasaan tersebut bagi sebagian orang tidak bisa dihindari, hal tersebut bisa jadi terjadi karena kita rutin atau sering membaca berita terkait covid-19 baik dari media massa seperti televisi, koran atau dari media social terutama dari grup percakapan/broadcast seperti WA, Telegram dan sebagainya.
Beberapa waktu lalu saya sempat membaca tulisan dari Dr. Adi W Gunawan, seorang intelektual akademisi, doctor Pendidikan, clinical hypnotherapist, pakar mind technology juga merupakan satu-satunya trainer hipnoterapi klinis di Indonesia yang diakui sebagai Certified Hypnoteraphy Instructor oleh ACHE, Amerika. Dari tulisan beliau diceritakan bahwa ada beberapa klien beliau yang ingin berkonsultasi perihal apa yang sedang dirasakan seperti rasa cemas, takut yang berakibat pada kondisi pikiran tidak tenang, hati tidak damai dan sulit tidur. Ternyata emosi-emosi tersebut muncul sejak ramai diberitakan tentang virus covid 19, bahkan tiga dari klien tersebut mengaku mengalami gejala serupa dengan orang yang terpapar virus covid 19, padahal mereka mengaku tidak melakukan segala jenis aktifitas diluar rumah, mereka hanya beristirahat dirumah dan melakukan semua kegiatan dirumah pula.
Setelah dilakukan interogasi mendalam ternyata akar masalah nya adalah karena mereka terlalu sering dan rutin membaca berita tentang covid-19, Dr. Adi memaparkan bahwa ada 5 jalur informasi sampai pada alam bawah sadar salah satunya Repetisi yaitu informasi serupa bila terus diulang, dilihat, dibaca, dibicarakan, diingat, dibayangkan, atau didengarkan pasti masuk ke memori PBS. Informasi tentang Covid-19, benar atau salah, yang telah terekam di PBS, tidak akan pernah bisa hilang. Informasi ini akan terus ada di memori sampai dilakukan upaya secara sadar untuk mengganti informasi ini dengan informasi lain.
Semakin seseorang membaca dan mengingat gejala-gejala Covid-19, semakin ia mengulang memunculkan informasi ini di pikirannya, semakin kuat informasi ini jadinya, dan semakin ia terpengaruh. Ia menjadi semakin cemas dan takut. Disadari atau tidak, ia akan memeriksa kondisi fisiknya, apakah ada gejala yang sama atau menyerupai Covid-19. Ini sesungguhnya adalah hal yang wajar karena semua orang pasti ingin selamat, ingin tetap hidup. Dan fungsi utama PBS adalah melindungi dan menjaga keselamatan hidup kita. Semakin ia melakuan pengecekan, semakin PBS mendapat informasi bahwa ini adalah sesuatu yang penting. Dan sesuai hukum pikiran, apa yang menjadi fokus pasti bertumbuh dan menguat. Ini menjadi semakin kuat saat dilandasi emosi negatif intens.
Akhirnya, PBS memunculkan simtom atau gejala yang sama atau serupa dengan gejala Covid-19. Saat ini terjadi, individu menjadi semakin cemas, takut, panik, dan gejalanya menjadi semakin nyata, semakin kuat. Semakin ia cemas atau takut, semakin stres ia, semakin banyak hormon stres diproduksi oleh tubuhnya, dan semakin tertekan kerja sistem imun, dan semakin besar kemungkinan ia jatuh sakit, semakin besar risikonya bila ia benar-benar terpapar virus corona.
Lalu, apa yang bisa dilakukan untuk mengatasi hal ini?
Dr. Adi memberikan beberapa saran dan masukan. Pertama, berhenti total membaca atau mencari informasi atau meneruskan informasi terkait Covid-19. Tidak ada gunanya untuk mengetahui sudah berapa banyak orang yang terkena Covid-19, berapa yang meninggal, dan berapa yang sembuh. Beliau menghimbau berhenti total membaca atau mencari informasi atau meneruskan informasi terkait. Kedua, beliau menyarankan untuk banyak membaca buku-buku positif, nonton film atau video yang lucu, karaoke, senam atau olahraga, rileksasi atau meditasi, berdoa, atau apa saja yang positif dan bisa membuat pikiran dan perasaan mereka tenang dan bahagia.
Virus corona belum tentu mengenai semua orang. Namun saat ini hampir semua orang sudah tertular virus pikiran yang membuat mereka cemas, khawatir, takut, paranoid.
Saya mengenal peristiwa diatas sebagai peristiwa yang biasa disebut psikosomatis kali yaa,, :D dalam dunia medis psikosomatis dijelaskan sebagai penyakit yang melibatkan pikiran dan tubuh. Dimana pikiran mempengaruhi tubuh hingga penyakit muncul atau menjadi bertambah parah. Istilah gangguan psikosomatis digunakan untuk menyatakan keluhan fisik yang di duga disebabkan atau diperparah oleh factor psikis atau mental, seperti stress dan rasa cemas. Saya rasa tidak hanya terjadi pada kasus psikosomatis covid-19 saja, akan tetapi bisa terjadi ketika kita terlalu memikirkan sesuatu bisa jadi akan timbul gejala/keluhan fisik selaras dengan apa yang sedang dipikirkan, karena hal tersebut memang pernah terjadi pada diri saya sendiri dan beberapa orang disekitar saya. Menurut saya bagi yang sedang merasakan perasaan yang sama, silahkan di coba beberapa tips yang disampaikan Dr Adi diatas, karena kita sendirilah yang tau apa-apa yang bisa membuat kita cemas, dan apa yang bisa membuat kita senang dan tenang, kita sendiri yang tau kebutuhan untuk fisik dan psikis kita yang sebenarnya :) jd bukan hanya kesehatan fisik saja ya yang dijaga, akan tetapi kesehatan psikis pun tidak kalah pentingnya untuk dijaga :)
Mungkin dicukupkan dulu ya untuk tulisan kali ini, semoga bermanfaat. Maaf juga barangkali banyak yang keliru dalam penyampaian informasinya, jujur Karena memang bukan bidangnya jadi saya coba sampaikan ringkasan dari tulisan Dr. Adi W Gunawan, semoga bisa membantu 😊
Keep health, keep positive!
Salam…

Memaafkan

Setiap orang pasti memiliki cerita dan proses untuk memaafkan. Baik memaafkan keadaan, memaafkan seseorang, dirinya sendiri dan lain sebagai...